TUNJUKKAN BUKTI : Tim kuasa hukum dan manajemen Zeus Eksekutif Karaoke tunjukkan bukti pembayaran dan sejumlah bukti yang dimiliki di Hotel Grand Edge Lantai 2, Candisari, Kota Semarang. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)
TUNJUKKAN BUKTI : Tim kuasa hukum dan manajemen Zeus Eksekutif Karaoke tunjukkan bukti pembayaran dan sejumlah bukti yang dimiliki di Hotel Grand Edge Lantai 2, Candisari, Kota Semarang. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kuasa hukum Thomas, salah satu investor Zeus Eksekutif Karaoke mengklaim prostitusi yang ada di tempatnya tanpa sepengetahuan manajemen. Karena sejak awal tempat hiburan karaoke yang terletak di gedung Hotel Grand Edge Lantai 2, Candisari, Kota Semarang tersebut, izinnya murni bisnis tempat hiburan.

“Di dalamnya tidak ada bisnis prostitusi,  kalau ada hal-hal yang timbul,  bukan berarti tanggung jawab manajemen, para ladies company (LC) tersebut, sebelumnya juga sudah kami mintai juga keterangannya, ternyata memang ada indikasi dilakukan oknum MA (mami sudah dipecat),  terkait portitusi tersebut, tapi bukan berarti kesalahan manajemen,” tegas tim kuasa hukum Thomas, Gandung Sardjito, di kantor kliennya, Selasa (31/7).

Pihaknya menegaskan, di karaoke kliennya sudah ada larangan terkait penggunaan narkotika maupun dilarang asusila. Kebijakan tersebut sudah ditempel di berbagai ruangan. Namun setelah MA dipecat justru melaporkan, kalau dikaraoke kliennya ada prostitusi.

“Justru dia sebagai mami, yang mengakomodir, karena tindakan itu (prostitusi) tanpa persetujuan manajemen, kami juga sebagai lawyer tak pernah melakukan intimidasi terhadap siapapun,” tandasnya.

Dijelaskan, dugaan prostitusi itu mencuat berawal dari polemik para investor Zeus. Dimana karaoke tersebut awalnya adalah miliki 5 pemodal, salah satunya adalah Tommy dan Jefry Fransiskus. Zeus sendiri baru berdiri pada 2017 lalu, yang awalnya ada kesepakatan antara para pemodal, apabila mendapat keuntungan digunakan untuk penambahan room terlebih dahulu.

“Dalam perjalanan waktu Jefry menjual sahammnya dan dibeli pak Tris. Bukti penerimaan berupa tanda terima ada, itu termasuk uang yang diberikan Rp 400 juta dan Rp 600 juta, yang jelas kami tidak serta merta menyampaikan sesuatu tanpa dasar, karena kami berani pertanggungjawabkan,” tandasnya.

Sedangkan dalam keterangannya, Thomas mengatakan, bahwa Jefry telah menyebarkan berita tidak benar tentang perkara penipuan dan penggelapan yang disebutkan dilakukan manajemen karaoke Zeus. Karena menurutnya hal itu dilatarbelakangi permintaan Jefry terkait permintaan atas sejumlah uang tak dituruti, dengan alasan merasa ditipu karena tidak mendapatkan keuntungan dari Zeus.

Sementara itu, Jefry Fransiskus, mantan penanam saham Zeus Karaoke Semarang mendorong kepolisian untuk mengusut tuntas dugaan kasus penggelapan pajak hingga adanya dugaan praktik prostitusi di lingkungan Zeus Karaoke. Selain itu, kepolisian juga didorong untuk melakukan pencekalan terhadap Thomas, selaku pemilik Zeus Karaoke.

“Ini agar jadi contoh bagi pengusaha lain agar tidak main-main, kepolisian harus mengusut secara tuntas, pencekalan,” ungkap Jefry kepada wartawan, Senin (30/7) kemarin. (jks/mha/zal)