Digunakan sebagai Ilustrasi Potret Hingga Cover Buku

Lebih Dekat dengan Komunitas WPAP Semarang

206
KARYA KREATIF: Sejumlah anggota Komunitas WPAP Semarang menunjukkan karya WPAP. (DOKUMEN PRIBADI)
KARYA KREATIF: Sejumlah anggota Komunitas WPAP Semarang menunjukkan karya WPAP. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – Karya seni beraliran Wedha’s Pop Art Potrait (WPAP) belakangan makin diminati. Komunitas WPAP Semarang menjadi salah satu wadah bagi mereka yang memiliki minat di aliran ini. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

RINI bolak-balik menggulirkan jemarinya di atas layar smartphone. Ibu muda ini mencari karya-karya menarik untuk dijadikan kado ulang tahun. Jatuhlah pada salah satu akun media sosial (medsos) yang banyak menyajikan ilustrasi potret wajah dengan kontradiksi berbagai warna atau lebih dikenal dengan WPAP (Wedha’s Pop Art Potrait).

“Sebelumnya sudah pernah pesan kado berupa karya seni juga, tapi dengan gaya lain. Sekarang mau pesan yang seperti ini (WPAP), unik juga,”ujarnya.

Ya, karya seni yang dipopulerkan oleh ilustrator kelahiran Pekalongan, Wedha Abdul Rasyid ini makin banyak diminati. Kontradiksi warna yang dihadirkan dalam sebuah potret wajah, bangunan dan objek lain memberikan keunikan tersendiri.

Sehingga selain penikmat seni, tak sedikit pula mereka yang berminat untuk mempelajarinya. Komunitas WPAP Semarang pun mewadahinya.

Humas WPAP Semarang, Sony Apriyanto, mengatakan, karya seni ini awalnya dibuat secara manual. Seiring perkembangan teknologi, berkembang pula berbagai aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk pembuatan WPAP. Di antaranya, photoshop dan correl draw.

“Kalau untuk orang awam yang ingin membuat ilustrasi WPAP di sini tantangannya. Paling tidak harus belajar program Photoshop, Correl Draw, Adobe Illustrator, atau program-program lain yang tersedia. Beda halnya dengan anak-anak desain yang sudah terbiasa berkutat dengan program-program tersebut,”ujarnya.

Sedangkan untuk yang sudah menguasai program tersebut, juga bukan berarti tidak ada tantangannya. Penataan warna dan mengolah suasana hati juga kerap menjadi benturan. “Mood biasanya juga berpengaruh pada hasil,” kata mahasiswa Teknik Informatika, USM ini.

Karena itu, sesama penghobi karya seni aliran ini, satu dengan lain saling berbagai informasi terkait teknik-teknik yang mereka gunakan. Biasanya hal ini disampaikan secara personal ataupun dalam forum kopi darat yang dilakukan sebulan sekali di Gedung Digital Kreatif.

Selain berbagai ilmu, komunitas ini juga membangun blog dan sosial media sebagai wadah untuk menampilkan karya-karya dari masing-masing anggota. Para pengunjung bisa leluasa mencermati karya-karya tersebut.

“Aliran dan teknik boleh sama, tapi ciri khas dan karakteristik masing-masing desainer pasti berbeda. Ada yang cenderung banyak menggunakan warna biru, ada yang kombinasi warnanya lebih cerah, dan lain-lain. Di blog tersebut, para pengunjung yang ingin dibuatkan karya WPAP bisa memilih mana yang cenderung ke arah mereka,”ujarnya.

Diakui Sony, aliran seni ini cukup potensial untuk ditekuni sebagai bisnis. Tak hanya potret wajah dan bangunan, tapi ikon, logo maupun cover buku, belakangan juga kerap menggunakan ilustrasi berbasis WPAP.

“Kalau diminati dan bisa menghasilkan ya kenapa tidak? Selain itu, kami juga cukup bangga mempelajari aliran ini, karena dicetuskan oleh orang Indonesia,”katanya. (*/aro)