Batang Gagal Layak Anak

346
MENYAPA GENERASI EMAS : Bupati Batang Wihaji saat bertemu dengan aanak-anak yang menyapanya pada peringatan Hari Keluarga Nasional ke 25 dan Hari Anak Nasional   di Lapangan Desa Jatisari Kecamatan Subah, Selasa ( 31/7). (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
MENYAPA GENERASI EMAS : Bupati Batang Wihaji saat bertemu dengan aanak-anak yang menyapanya pada peringatan Hari Keluarga Nasional ke 25 dan Hari Anak Nasional   di Lapangan Desa Jatisari Kecamatan Subah, Selasa ( 31/7). (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Tidak masuk sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA), Bupati Kabupaten Batang Wihaji minta maaf kepada masyarakatnya. Hal tersebut disampaikan saat menggelar peringatan Hari Keluarga Nasional ke 25 dan Hari Anak Nasional yang  berlangsung di Lapangan Desa Jatisari, Kecamatan Subah, a Selasa ( 31/7).

“Saya minta maaf karena Kabupaten Batang belum masuk sebagai kabupaten layak anak. Ini menjadi pekerjaan rumah kami, sehingga ke depan harus bisa mendapat predikat tersebut. Kami akan bangun sarpras taman bermain anak dan regulasinya,” ungkap Wihaji.

Menurut bupati, dinamika percepatan perubahan zaman dengan adanya Informasi Teknologi dengan gawai dan TV sangat besar mempengaruhi perilaku, pikiran dan pola hidup masyarakat. Oleh karena itu, pemkab akan bersama melaksanakan kebiasan yang dipaksakan agar bisa disipilin.

“Kini pemkab punya gerakan setiap habis maghrib matikan TV dan matikan gawai, dampingi anak belajar dan gunakan waktu untuk bercengkrama dengan keluarga,” himbau bupati.

Menurut bupati, membangun bangsa dan negara berawal dari komunikasi keluarga yang baik. Karena semuanya konsep perubahan kehidupan berasal dari keluarga.  “Mulailah melakukan konsep perubahan dari diri kita sendiri dengan cinta keluarga cinta terencana,” ujar Wihaji.

Kepala DP3AP2KB dr Muhklasin menjelaskan, pada Harganas kali ini mengusung empat pendekatan keluarga dalam membangun keluarga yang berkualitas dengan berkumpul keluarga.

“Keluarga hendaknya berkumpul saling berinteraksi dengan komunikasi dan saling tukar pengalaman, serta keluarga yang mampu memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk membuat diri dan keluargabtidak bergantung pada orang lain,” jelas dr Muhklasin. (han/zal)