Karyanya Banyak Dipesan Konsumen Mancanegara

Yoga Siratmoko, Perajin Patung Pahat Ukir dari Kayu

258
KREATIF : Yoga Siratmoko sedang mengerjakan patung semar pesanan dari pelanggannya.

RADARSEMARANG.COM – Yoga Siratmoko, satu-satunya perajin patung pahat dan ukir berbahan dasar kayu di Kota Magelang. Meski tak mengenyam pendidikan seni rupa secara khusus, ia berhasil membuat ribuan karya yang mengagumkan.

YOGA, panggilan akrabnya. Bapak satu anak ini tinggal di rumah sederhana, di Jalan Sunan Ampel V, RT 2 RW 1, Jurangombo Selatan. Bakat seninya terlihat sejak kecil. Awalnya, Yoga mengasah keterampilannya menjadi seorang pelukis di Jakarta.

Merasa jenuh dan rindu kampung halaman, ia mengadu nasib melamar pekerjaan di salah satu perusahaan kayu lapis di daerah Magelang. Nahas, ia mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), karena performa perusahaan menurun.

Ia sempat berkecil hati. Tapi, selama bekerja di kayu, ia kerap mengotak-atik limbah kayu untuk dibuat patung. Pengalaman itu dimulai tahun 2008. Awalnya hanya berbentuk puzzle. Mengingat bahan yang digunakan tidak utuh. “Paling awal sekali, saya bikin gantungan kunci, terus naik bikin patung berupa rangkaian-rangkaian. Setelah sudah cukup mahir, saya coba membuat patung dari kayu utuh,” tuturnya.

Pria kelahiran Magelang, 22 April 1969 itu kerap menemui kegagalan dalam membuat suatu karya. Namun, ia memiliki sifat yang tidak gampang berpuas diri. Justru inilah yang mendorong dirinya terus mencoba hingga banyak yang mengagumi karyanya. Ia pun menerima pesanan dari berbagai daerah. Ada pula pesanan dari mancanegara, seperti Jerman dan Italia. Teman-temannya secara sukarela membantu pemasaran online. “Kadang dari mulut ke mulut, tahu-tahu ada yang datang ke rumah untuk pesan. Alhamdulillah,” ujarnya sembari mengucap syukur.

Suami Kuntiati ini mengenang, almarhum ayahnya berhasil memberikan motivasi kuat untuk memanfaatkan potensi diri, sekalipun keterampilannya otodidak. Ia bercerita, dulu ayahnya seorang perajin kusen di Jepara. “Nek bapakmu wong duwe, kowe  wis tak sekolahke ning Jogja. Pesenku, opo sing iso, ditekuni, (andai ayahmu orang punya, kamu sudah ayah sekolahkan (seni) di Jogjakarta. Pesanku, apa yang kamu bisa, tekunilah, Red),” ucapnya menirukan sang ayah.

Kini, ia menjaga eksistensinya. Tiap minggu, ia bisa menyelesaikan sekitar 5 patung.  Baik untuk memenuhi pesanan, maupun mengisi tokonya yang ada di Salatiga. Mulai dari topeng kayu, patung karakter hewan, hingga karakter tokoh kartun. Karya miliknya, diberi label Yoga Art. “Saya paling suka bikin naga,” ucapnya sembari senyum.

Sementara bahan kayu yang ia gunakan beragam. Kayu waru, albasia, sengon, hingga jati. “Konsumen boleh membawa bahan kayu sendiri dari rumah, atau menggunakan kayu yang sudah saya siapkan,” tambahnya.

Dia juga memiliki mimpi besar untuk membuka toko di kota kelahirannya. Harapan lain, ia ingin anak-anak muda di Kota Sejuta Bunga ada yang tertarik menjadi perajin patung. “Kalau ada yang minat, saya siap bantu sampai bisa,” tuturnya. Ia juga yakin, pemerintah akan sangat terbuka untuk membantu masyarakat, bila serius ingin belajar menjadi perajin kayu, khususnya untuk seni pahat dan ukir.  

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Magelang, Sri Retno Murtiningsih mengungkapkan, bahwa Disperindag sebagai instansi pembina pelaku kerajinan, sudah beberapa kali memfasilitasi Yoga mengikuti pameran hingga tingkat nasional. Untuk membantu promosi, produk Yoga juga telah dimuat dalam Buku Katalog Kerajinan Kota Magelang. Selain itu, pihaknya pernah mengikutsertakan Yoga pada pelatihan diversifikasi sangkar burung.

“Namun kami sangat mendukung, jika ada masyarakat ingin belajar memahat kayu dan mengukir. Tentunya kami akan memberikan pelatihan bagi pelaku pemula dengan mengandeng Yoga Art dan dalam hal ini kami akan bekerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Magelang,” ungkap Retno. (adv)