Buru Pemasok Upal dari Semarang

322
PINGSAN : Sat Reskrim Polres Pekalongan membantu mengangkat tersangka yang sempat pingsan saat diperiksa. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)
PINGSAN : Sat Reskrim Polres Pekalongan membantu mengangkat tersangka yang sempat pingsan saat diperiksa. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Seorang ibu dan anak diamankan petugas Polsek Kedungwuni, Polres Pekalongan, Minggu (29/7), karena diduga menjadi kurir uang palsu (upal) pecahan Rp 100 ribu. Kedua tersangka bernama Sri Yinawati, 47, dan Dio Stefanus, 25, warga Desa Sidorejo, Kabupaten Pemalang.

Bermula dari laporan pedagang Pasar Kedungwuni yang curiga dengan ibu dan anak yang berbelanja dengan uang palsu pecahan Rp 100 ribu. Berdasarkan laporan, Sat Reskrim Polsek Kedungwuni langsung mencari keduanya. Saat itu tersangka tengah beristirahan di musala depan Terminal Kedungwuni.

Petugas pun menggeledah dua tas yang dibawa Sri dan Dio. Dan ditemukan sebanyak 184 lembar upal pecahan Rp 100 ribu, yang belum sempat dibelanjakan.

Dari hasil penyelidikan di Polsek Kedungwuni, keduanya ternyata hanya sebagai kurir upal yang telah dipesan oleh warga Kedungwuni. Namun uang palsu pecahan Rp 100 ribu sebanyak 184 belum sempat diambil oleh pemesan, keduanya keburu tertangkap oleh petugas.

Saat gelar perkara di Mapolres Pekalongan, Senin (30/7) kemarin, Sri pura-pura pingsan untuk menghindari jepretan dan pertanyaan awak media. Petugas pun kemudian memapahnya.

Kapolres Pekalongan AKBP Wawan Kurniawan, menjelaskan bahwa ibu dan anak ini bertugas sebagai kurir, untuk mengantarkan uang palsu kepada pemesan dari kenalannya di Semarang. Setiap kali pengiriman uang palsu diberi upah r Rp 200 ribu uang asli.

Menurutnya, selama di wilayah Kabupaten Pekalongan sendiri, Sri mengaku sudah lima kali mengantarkan upal di satu titik yang sama, yakni di dekat Pasar Kedungwuni.

“Biasanya uangnya sedikit hanya lima juta, namun kali ini jumlahnya cukup banyak hingga 184 lembar pecahan Rp 100 ribu. Pemasoknya dari Semarang, saat ini masih kami buru,” jelas AKBP Wawan.

Keduanya dijerat dengan Pasal 36 (3) UU no 7 th 2011 yo pasal pasal 55 (1) ke 1 KUHP subsider pasal 36 (2)  UU no 7 th 2011 yo pasal 55 (1) ke 1 KUHP ancaman hukuman maksimal 15 tahun dan denda paling banyak Rp 50 miliar. (thd/zal)