Sorot Mata Hendi Menembus Kampung Hebat

237
Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Semarang
Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Semarang
AUDIENSI: Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi (kanan) dan jajarannya saat beraudiensi dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. (M RIZAL KURNIAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AUDIENSI: Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi (kanan) dan jajarannya saat beraudiensi dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. (M RIZAL KURNIAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – SETIAP kali bertemu Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saya selalu menangkap keistimewaan. Kali ini dari sorot matanya. Begitu keluar dari ruang kerja, matanya langsung menatap saya. Itu menunjukkan kepribadian yang hangat. Beliau sudah kenal saya. Belum lama saya juga menghadap di kantornya.

Saya tidak ahli membaca anggota tubuh. Namun, belakangan lagi suka memperhatikan mata. Terutama para karyawan kami. Anggota tubuh di muka itu menyimpan banyak misteri. Coba berkaca. Bila mata Anda cembung tetapi ujung kelopaknya tebal, Anda berpendirian teguh, tapi sedikit tak acuh. Bila pangkal mata tumpul Anda memiliki kepribadian polos, setia, baik, tapi tidak pandai membaca situasi.

Lebih misterius lagi mata simetris tetapi sesekali memperlihatkan sorot yang tajam. Itu emosinya stabil, tenang, kesehatan dan kehidupan baik. Namun, awas. Dia siap menerkam. Bisa jadi dari belakang. Terhadap orang seperti ini perlu hati-hati. Saya lagi menghadapinya.

Saya menangkap sorot mata Pak Wali siang itu  menunjukkan kepribadian yang hangat. Dia ramah sekaligus memberi perhatian dan penghargaan yang tinggi.  ‘’Luar biasa. Ayo Mas, ada apa ini, kok seluruh pimpinan,’’ katanya sehabis menyalami rombongan saya yang terdiri atas seluruh pimpinan Jawa Pos Radar Semarang.

Siang itu, Hendi – panggilannya – kelihatan enerjik. Bajunya kemeja lengan pendek warna putih. Potongannya slim. Sama dengan baju saya dengan logo Jawa Pos Radar Semarang. Perutnya datar. Beda dengan saya yang sudah membuncit. Maklum umur terpaut 11 tahun (hehehe).

Dia mengenakan celana hitam dan sepatu kets senada. Itu juga sama dengan celana dan sepatu saya. Kebetulan. Bedanya, sepatu Pak Wali kelihatan lebih bagus dan berkelas. Sepatu kets itu mengesankan pemakainya memiliki aktivitas tinggi. Kebetulan Kamis siang itu beliau baru saja menghadiri peringatan Hari Anak Nasional di Taman Budaya Raden Saleh Semarang.

Minggu lalu saya bersilaturrahim ke Wali Kota Semarang di sela safari mengunjungi daerah-daerah yang sedang berulang tahun. Antara lain Kota Salatiga, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Rembang. Rencananya saya juga ke Kabupaten Kendal. Sayang, kondisi tidak memungkinkan. Para manajer Jawa Pos Radar Semarang yang ikut memeriahkan ulang tahun ke-413 kabupaten yang dipimpin Bupati Mirna Annisa yang cantik itu Sabtu lalu.

Hendi adalah pemimpin yang cerdas. Matanya juga menunjukkan sikap percaya diri, mudah bergaul, dan kreatif. Sorot matanya yang tajam memancarkan semangat yang berkobar dan optimistis. ‘’Apa yang bisa kita lakukan. Mana bagian saya,’’ ujarnya setelah saya jelaskan soal program yang hendak kami kerja samakan.

Siang itu kami membicarakan Kampung Hebat. Intinya mendorong masyarakat di tingkat RT, RW, dan kelurahan berlomba membuat kampungnya menjadi bersih, sehat, aman, dan indah. Program akan berjalan dari Oktober 2018 – Mei 2019.

Di sela-sela lomba kebersihan, kesehatan, keamanan, dan keindahan, itu diadakan juga berbagai kegiatan. Ada jalan sehat yang diikuti oleh seluruh warga. Ada hiburannya juga. Bahkan ada door prize-nya. Semua itu untuk menggalang semangat dan kebersamaan warga. Kami dari Jawa Pos Radar Semarang dan Pak Wali sepakat membangun dan memajukan kampung menjadi inti pembangunan kota.

Dalam membangun kampung itu Pak Wali memiliki visi yang jauh. Yang sulit ditemukan pada kepala daerah lain. Dia berangkatkan lurah-lurahnya ke luar negeri secara bertahap. Banyak kritikan. Ada yang menganggap menghabiskan uang hanya untuk mengelencerkan pemimpin kampung. ‘’Lurah perlu kita buka wawasannya,’’ jawabnya telak.

Bagi Hendi, mendidik lurah itu tidak harus diceramahi. Bisa juga dengan mengelilingkan mereka ke kota-kota besar yang rapi dan indah. Mereka akan melihat trotoar yang bagus, taman yang indah, jalan yang mulus, kampung yang asri, kawasan yang bersih, lalu lintas yang tertib, wisata yang nyaman, kuliner yang enak, dan suvenir yang bagus dan murah.

Pemkot Semarang tidak menyediakan uang untuk mengelencerkan para lurah tersebut. Mereka hanya didomplengkan rombongan yang mendapat undangan dari pemerintah luar negeri. Ada yang ke Jepang, Singapura, Malaysia, dan Australia. Bahkan ada yang ke Eropa.

Bila para lurah berkesan dengan perjalanannya ke luar negeri, mereka berpikir bagaimana menerapkan di kampungnya. Mereka adalah pelopor pembangunan. ‘’Jadi bukan buang-buang uang,’’ kata Hendi yang bertekad membangun Kota Semarang secara total. Bukan hanya di permukaan. Di jalan-jalan protokol

Karena telah memiliki visi membangun kampung, Hendi menyambut baik program Kampung Hebat. Dengan tema Bergerak Bersama menuju Semarang Hebat, kelak Kota Semarang bisa menyaingi kota-kota besar lainnya seperti Surabaya dan Bandung. Hendi sudah menunjukkan kesuksesannya. Kawasan Kota Lama yang dulu angker, kini sudah menjadi tempat wisata yang nyaman. Taman-taman dan trotoarnya juga sudah banyak yang indah.

Kota Semarang semakin ramah, boleh menjadi contoh kota-kota lain di Jawa Tengah. Hendi pun layak disejajarkan dengan Tri Risma Harini, Wali Kota Surabaya yang penuh penghargaan dan Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung yang belum lama lalu terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat. (hq@jawapos.co.id)