Sembuhkan Anak Sulit Bicara dengan Baca Buku

Nur Janah, Penggiat Perpusdes di Desa Kenconorejo Tulis Batang

161
MENGAJAR – Nur Janah (berkerudung kuning) saat mengajar di sekolahnya. Untuk menggali ilmu pengajaran, ia sering menambah pengetahuan dengan otodidak di Perpusdes setempat. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
MENGAJAR – Nur Janah (berkerudung kuning) saat mengajar di sekolahnya. Untuk menggali ilmu pengajaran, ia sering menambah pengetahuan dengan otodidak di Perpusdes setempat. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM – Mengajar di sekolah pedesaan tidak membuat gurunya kalah ilmu dan akal. Justru membuat lebih kreatif dalam menambah wawasan keilmuan, agar bisa mendidik siswa lebih baik melalui fasilitas Perpusdes. Seperti apa?

Lutfi Hanafi, Batang

Pagi itu, suasana Desa Kenconorejo Kecamatan Tulis Kabupaten Batang cerah. Nur Janah, guru di Guru TK Melati I Kenconorejo sedang bertugas mengajar belasan muridnya. Semua murid tampak riang. Sementara orang tua terlihat menunggu di sekitar sekolah.

Suasana seperti ini baru terasa beberapa waktu belakangan, setelah perempuan lulusan Sarjana Pendidikan Anak Usia Dini ini resah dan prihatin. Sebab orang tua di desanya tinggal masih menganggap remeh bagaimana mendidik anak.

“Saya dulu sering menangis karena trenyuh, menyaksikan anak-anak tumbuh tanpa pola pendidikan yang benar, sehingga banyak yang salah jalan dan ikut dunia hitam,” ucapnya.

Banyak kasus pembiaran anak, karena sikap orang tua yang tidak mau tahu atas potensi dan kelebihan yang dimiliki buah hatinya. Nur Janah pernah mendidik anak PAUD yang dikira bisu dan tuli. Ada pula anak berkebutuhan khusus yang terpaksa belajar di desa setempat, karena lokasi sekolah luar biasa jauh dari tempat tinggalnya. “Dulu saya mengajar siswa yang katanya dibilang bisu, karena tidak bisa ngomong sama sekali,” ucapnya mengenang.

Karena penasaran, Nur Janah melakukan penyelidikan sederhana dan ternyata diamnya anak tersebut bukan bawaan lahir, tapi orang tuanya ternyata pendiam. Saat itu, di usia 3,5 tahun, sang siswa bahkan tidak bisa ngomong sama sekali. Ia hanya tinggal bertiga dengan ayah yang setiap pagi hingga sore bekerja di sawah dan ibu yang jarang mengajak bicara anaknya.

“Anaknya saat itu bisanya cuma mantuk (mengangguk) dan gedek (geleng) saja, saya kan kasihan,” kisahnya.

Bingung cara mengatasi masalah tersebut, Nur Janah tidak kehilangan akal. Beruntung, PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) selaku konsorsium pelaksana pembangunan PLTU melalui program CSR dengan menyediakan fasilitas Perpustakaan Desa (Perpusdes) Cerdas di Desa Kenconorejo.

Dari Perpusdes,Nur Janah mempelajari pola pendidikan anak dan keluarga dari buku, serta ditambah berselancar di dunia maya. Ia langsung mencoba mempraktikkan ilmu yang didapat kepada siswa-siswinya, termasuk siswa berkebutuhan khusus tadi.

Sekitar 7 bulan kemudian, sang anak mulai mampu bicara meski hanya satu kata seperti iya atau bu. Atas keberhasilan tersebut, Nur Kanah terus mengajak orang tua siswa agar rajin komunikasi anaknya. “Terus diajak komunikasi, ternyata setahun kemudian bisa mengucap ‘tidak bisa’ dan ‘sudah’. Bahkan menginjak usia TK B, akhirnya bisa ngomong seperti orang sebayanya, Alhamdulilah,” ujarnya senang.

Hal serupa dialami Nur, saat menerima siswa berkebutuhan khusus tuna rungu dan wicara. Awalnya banyak orang ragu, anak tersebut bisa ikut belajar dengan temannya yang normal.. Teman-temannya kurang menerima. Tapi setelah diberi pengertian, akhirnya mereka bisa membaur.

“Termasuk menerima anak berkebutuhan khusus, karena saya tidak pernah sekolah. Saya nyari ilmunya di perpusdes. Dan alhamdulillah bisa belajar sedikit bahasa isyarat, juga beberapa isyarat lain kesepakatan kami dengan siswa tersebut untuk komunikasi,” ujarnya. (*/ton)