Matikan HP dan TV Saat Magrib

359
PENGURUS BARU - Bupati Batang Wihaji dan Wakil Bupati Suyono foto bersama PD Rifaiyah Kabupaten Batang usai dilantik di Pendopo Kantor Bupati Sabtu, (28/7/18). (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)
PENGURUS BARU - Bupati Batang Wihaji dan Wakil Bupati Suyono foto bersama PD Rifaiyah Kabupaten Batang usai dilantik di Pendopo Kantor Bupati Sabtu, (28/7/18). (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Khawatir dengan dampak perkembangan teknologi informasi yang berakibat pada hilangnya karakter dan adab berbudaya, Pemerintah Kabupaten Batang mengajak warga untuk mematikan HP dan TV saat Magrib.

Hal tersebut disampaikan Bupati Batang Wihaji saat pelantikan Pengurus Daerah Rifaiyah di Pendopo Kantor Bupati setempat Sabtu, (28/7/18).

“Untuk mencegah terpengaruhnya masyarakat oleh tayangan yang tidak mendidik, maka masih kita kaji dan wacanakan gerakan matikan hand phone dan TV pada waktu Magrib sampai pukul 20.00,” ucap Wihaji.

Masyarakat sekarang katanya, baik orang tua dan anak lebih cenderung menghabiskan waktunya untuk berkomunikasi dengan HP. Kalaupun di rumah mereka lebih disibukkan dengan HP dan TV. Sehingga wacana tersebut harus dikaji dan bisa diterapkan di lingkungan keluarga.

“Dan ini mungkin bagian kecil dari dakwah KH Rifaiyah untuk tidak terpengaruh jauh dengan budaya yang tidak sejalan dengan ajaran Islam,” kata Wihaji yang disambut tepuk tangan ribuan jamaah Rifaiyah.

Disampaikan juga mengenai sejarah perjuangan pendiri Rifaiyah yaitu KH Syeh Rifai sebagai ulama besar. Melawan penjajah  Belanda dengan berdakwah yang membumi yang dituliskan dalam bahasa Jawa. Terkenal dengan kitab irengnya yang diterima oleh masyarakat pada zamannya.

“Karyanya berupa kitab dan batik dijadikan sebuah media dakwah untuk melawan kolonial Belanda. Sehingga layak perjuangan  KH Syeh Rifai ditetapkan menjadi  pahlawan  nasional di tahun 2004 atas usulan Bupati Batang Bambang Bintoro,” kata Wihaji.

Untuk mendukung karya dan perjuangannya Pemkab akan menjadikan batik Rifaiyah sebagai salah satu seragam kerja, serta akan membantu pembangunan museum Rifaiyah di Limpung sebagai wisata religi.

Ketua Pengurus Pusat Rifaiyah, Mukhlisin Muzarie mengatakan, 196 tahun yang lalu Syeh Rifai didakwa sebagai seorang pemimpin pemberontakan terhadap kolonial Belanda. Mereka diasingkan bukan karena mengajar mengaji tapi menanamkan semangat memberontak penjajahan.

Ia juga mengatakan dengan dakwah dan karyanya yang disebarkan di seluruh nusantara hasil perjuangan KH Rifai turut mengantarkan Indonesia merdeka.

Sementara Ketua Pengurus Daerah Rifaiyah periode 2018-2023 Nur Khamid meminta dukungan doa agar bisa melaksanakan koordinasi dan konsolidasi untuk melaksankan amanah dengan baik.

Adapun jajaran PD Rifaiyah Kabupaten Batang yang dilantik yaitu Ketua Dewan Syuro, Kiai Ahmad Munthohar, Sekretaris H Ziinudin, Ketua PD Rifaiyah H Nur Khamid, Sekretaris M Rifai, Bendahara H Nurosikhin. (han/lis)