BERI PENJELASAN : Manajemen Karaoke Zeus yang dipimpin oleh Thomas bersama tim kuasa hukumnya, Gandung Sardjito, Koes Martono, dan Sebastian B Soediono. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERI PENJELASAN : Manajemen Karaoke Zeus yang dipimpin oleh Thomas bersama tim kuasa hukumnya, Gandung Sardjito, Koes Martono, dan Sebastian B Soediono. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Kasus yang menimpa Karaoke Zeus berbuntut panjang. Setelah mantan rekan bisnis Pemilik Saham (Bos) Karaoke Zeus, Thomas, yang bernama Jefry Fransiskus,  31, mempolisikan atas perkara penipuan dan penggelapan, Thomas tak terima. Menurut Thomas, Jefry telah memutarbalikkan fakta.

Thomas menegaskan bahwa Jefry sebenarnya sudah untung besar. Tak hanya menerima pengembalian modal sebesar Rp 400 juta yang awalnya digunakan untuk membangun karaoke, Jefry juga sudah menerima hasil penjualan saham sebesar Rp 600 juta. Dengan demikian, warga Pudakpayung, Banyumanik tersebut, total yang sudah menerima sebesar Rp 1miliar.

“Pernyataan Jefry yang mengaku tidak menerima keuntungan dari hasil bisnis karaoke itu keliru dan tidak benar. Justru dia (Jefry, red) malah sudah untung besar karena mendapatkan pengembalian modal Rp 400 juta dan menjual sahamnya Rp 600 juta kepada Pak Kristanto,” kata Thomas didampingi tim kuasa hukumnya, Gandung Sardjito, Koes Martono, dan Sebastian B Soediono di hadapan awak media, Minggu (29/7).

Dia menyebutkan, penjualan saham tersebut terjadi pada awal Juni 2018. Saat itu, Jefry mengaku membutuhkan uang tunai segera. Berlandaskan niat baik untuk membantu, maka rekannya Kristanto membeli saham sebesar 10 persen milik Jefry di Zeus senilai Rp 600 juta. “Ada buktinya, berupa tanda terima dan tanda tangan di atas materai. Sejak penjualan itu, otomatis Jefry tercatat sudah bukan pemegang saham lagi,” tandasnya.

Thomas menilai, Jefry berupaya menjatuhkan usahanya. Ia juga menegaskan, terkait adanya dugaan prostitusi, informasinya tidak benar. Sebab sejak awal, pemilik karaoke tidak pernah memberikan izin untuk praktik prostitusi. “Sesuai izin usaha yang dimiliki adalah hiburan atau entertainment. Kami duga kasus prostitusi ini rekayasa,” tandasnya.

Dalam pemberitaan, mantan karyawan Zeus, MA melaporkan manajemen karaoke ke Polrestabes Semarang terkait dugaan prostitusi. Belakangan diketahui, MA sendiri menjadi bagian dari mata rantai prostitusi tanpa sepengetahuan manajemen. “MA ini sendiri dipecat atas perlakuannya mencuri dokumen dan data-data penting untuk diserahkan ke Jefry,” imbuhnya kuasa hukumnya, Gandung Sardjito.

Ia mengatakan, setelah tidak menjadi pemegang saham, Jefry menjadikan dokumen itu sebagai alat mencari keuntungan pribadi. Caranya, mengancam manajemen akan menyebarluaskan dokumen dan data-data penting tersebut. Apabila permintaannya tak dipenuhi. ”Ada bukti terjadinya ancaman itu di Semarang, yakni dua orang datang menemui salah satu pemegang saham, Pak Tommy dan membawa dua kardus isi dokumen dan data-data penting. Saat itu, Jefry berada di lokasi dan menyaksikan,” sebutnya.

Disebutkannya, kedua orang tersebut mengatakan kepada Tommy, apabila tidak memenuhi nominal yang diminta, data disebarluaskan. Sedangkan, dugaannya, data dan dokumen ini hasil curian MA yang diberikan ke Jefry. “Terkait perusahaan klien kami yang dituding melakukan penggelapan pajak, jelas tidak benar. Pajak sudah dibayar secara resmi, tiap bulannya sesuai ketentuan yang berlaku,” tandasnya.

Sebelumnya, Jefry sempat meminta Polrestabes Semarang untuk mencekal Thomas karena kasus prostitusinya sudah ditingkatkan ke penyidikan. Selain itu, Jefry juga meminta penyidik segera memberi garis polisi pada Zeus Karaoke. (jks/ida)