Awalnya Pemasok Bahan Baku, Kini Produknya Sudah Diekspor

Syafi'i-Ngatinah, Pasutri yang Sulap  Eceng Gondok Jadi Produk Kerajinan Kreatif     

277
DIMINATI LUAR NEGERI: Ngatinah, istri Syafi'i menunjukkan sejumlah produk kerajinan dari bahan eceng gondok. (kanan) Kursi santai yang dibuat dari anyaman eceng gondok. (SOFA LAILATUL IZZA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIMINATI LUAR NEGERI: Ngatinah, istri Syafi'i menunjukkan sejumlah produk kerajinan dari bahan eceng gondok. (kanan) Kursi santai yang dibuat dari anyaman eceng gondok. (SOFA LAILATUL IZZA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Ulet dan kreatif. Itulah sosok Syafi’i. Sejak 1995, ia sukses menekuni usaha mebel dan kerajinan kreatif lainnya yang berbahan dasar eceng gondok.  Seperti apa?

SOFA LAILATUL IZZA

ECENG gondok merupakan tanaman gulma yang biasanya tumbuh subur di daerah yang memiliki kadar air dengan kandungan garam yang rendah, seperti tanah basah, kolam-kolam dangkal, sungai, dan rawa-rawa. Salah satunya di kawasan Rawapening yang mudah dijumpai eceng gondok dalam jumlah besar. Keberadaan eceng gondok yang tak pernah ada habisnya itu pun ditangkap Syafi’i sebagai ladang rezeki.

Awalnya, pria yang biasa disapa Pi’i itu menjadi pemasok bahan baku eceng gondok kering kepada sejumlah perajin di beberapa daerah pada 1992. Namun Pi’i akhirnya memutuskan untuk belajar membuat aneka kerajinan sendiri. Pada1995, ia memulai menekuni kerajinan berbahan eceng gondok seorang diri. Namun kini pria berusia 55 tahun ini telah memiliki 20  karyawan.  Pi’i memakai brand usaha “Rowo Pening Handicraft” yang berlokasi di  kompleks Pemandian Muncul, Kabupaten Semarang sebagai pusat penjualannya.

Memasuki ruangan ukuran 3×4 meter persegi,  langsung disuguhi beraneka macam kerajinan eceng gondok. Mulai dari kerajinan tangan berbentuk sandal, tas, celengan,  tempat baju kotor, boks, vas bunga,  tempat tisu, lampu hias, karpet hingga kursi. Bentuk dan warnanya juga tidak kalah hebat dengan kerajinan tangan yang terbuat dari kayu ataupun plastik.

Bersama sang istri, Ngatinah, pria yang tinggal di Dusun Donosari RT 04 RW 03, Desa Tegaron, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang  ini telah berhasil mengubah eceng gondok sebagai produk layak jual.

Menurut Pi’i, tanaman bernama latin Eichhornia crassipes itu mampu dijadikan bahan baku pembuatan barang fungsional yang memiliki nilai ekonomis tinggi.  “Awalnya banyak eceng gondok di lingkungan sekitar sini yang tidak dimanfaatkan, muncullah ide saya untuk memanfaatkannya. Dari tahun 1992 itu mulai pengenalan bahan baku, dan di tahun 1995 mulai membuat kerajinannya,” bebernya kepada  Jawa Pos Radar Semarang.

Kini, kerja kerasnya tersebut telah membuahkan hasil. Banyak eksportir yang mulai melirik kerajinan dari eceng gondok ini. Berbagai kreasi seperti tempat pakaian, kursi, lampu,  karpet dan berbagai kerajinan eceng gondok tersebut kini diminati hingga mancanegara. Banyak wisatawan dari luar kota seperti Jogjakarta, Jakarta dan Bandung yang sengaja datang langsung untuk membeli dan memesan mebel buatan Pi’i.

Dalam sehari, rumah produksi Syafi’i membuat 5-10 kerajinan dalam berbagai bentuk. Seperti lampion, vas bunga, kursi, meja, hingga gebyok manten atau kursi pelaminan. Ada juga bikin produk ukuran kecil, seperti pensil kayu berhias eceng gondok seharga Rp 5.000, dan yang besar gebyok manten hingga seharga Rp 9 juta lengkap dengan hiasannya.

Untuk mebel seperti kursi dan kayu, Pi’i hanya mematok harga ratusan ribu rupiah, tergantung dari ukuran dan kerumitan. “Saya sudah pernah kirim ke Eropa, Asia, dan Afrika. Ke China, Amerika, Pakistan, dan Turki juga pernah. Orang luar (negeri) lebih suka menggunakan mebel berbahan dasar eceng gondok karena lebih awet, tapi biasanya mereka akan membeli model dan bentuk yang baru ,” terang Syafi’i.

Ia menambahkan, pemilihan eceng gondok sebagai bahan dasar mebel karena bahannya yang awet dan mudah dirawat. Mebel berbahan dasar eceng gondok akan bertahan lama jika diletakkan di tempat yang tidak lembab. “Kalaupun terpaksa diletakkan di tempat lembab, mebel harus dijemur di bawah sinar matahari setiap 3 sampai 4 bulan sekali. Jangan sampai timbul jamur,” tambahnya.

Kini, Pi’i terus berinovasi agar produknya tak ketinggalan zaman. Selalu ada bentuk baru dan dikreasikan dengan bahan lain supaya indah. “Saya biasanya membuat berbagai macam bentuk baru dan menggabungkan beberapa bahan lain, seperti pelepah pisang, pandan, dan rotan. Saya juga menerima pesanan mebel sesuai dengan keinginan konsumen. Jadi, itu juga menambah ragam dalam bentuk mebel di sini,” tutur Syafi’i.

Tak hanya itu, ketepatan waktu juga menjadi kunci. Pria tiga anak ini mengaku saat ini banyak rumah produksi eceng gondok yang terpaksa gulung tikar karena tidak bisa memenuhi target waktu yang ditentukan oleh pemesan.

Diakui, saat musim kemarau seperti saat ini, dinilainya menjadi keuntungan tersendiri baginya. Pasalnya kerajinan yang dibuat terkadang terkendala musim penghujan yang membuat eceng gondok sulit kering. “Kadangkan kalau musim penghujan pesenan sudah banyak, tetapi belum siap karena bahannya belum kering, jadi membutuhkan waktu lebih lama,” ujarnya.

Dalam menjalankan usahanya,  ia juga memberdayakan warga sekitar, baik dalam sistem borongan maupun paruh waktu. Dalam waktu sehari, setidaknya ratusan barang berbagai jenis dan ukuran dapat dibuat.

Ia menjelaskan sedikit tentang proses pembuatan kerajinan berbahan eceng gondok. Dimulai dari bahan eceng gondok yang dikeringkan. Setelah itu dianyam sesuai desain yang telah ditentukan dan ukurannya. Lalu yang sudah dalam bentuk anyaman dililitkan pada rangka lalu dilem.  “Kalo ditanya penghasilan ya tidak pasti, tujuan saya yang penting bisa memberdayakan masyarakat, dan menjadikan masyarakat bisa tetap gemar menganyam dan selalu kreatif untuk membuat model baru,” ucap Syafi’i. (*/aro)