Santri Siapkan 4 Teleskop 

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Sebanyak 4 teleskop digunakan untuk mengamati fenomena Micro Blood Moon yang dijadwalkan terjadi pada pukul 02.30 hingga pukul 04.30, Sabtu (28/7), di Pondok Pesantren Daarun Najaah, Kelurahan Wonosari, Kota Semarang. Terdapat 2 jenis teleskop, yakni jenis Equatorial dan Altazimuth.

Empat teleskop tersebut dimiliki oleh pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Daarun Najaah Dr H Ahmad Izzuddin dan sebagian sisanya didatangkan dari UIN (Universitas Islam Negeri) Walisongo Semarang. Sebelum terjadinya Micro Blood Moon, semua teleskop sudah diletakkan di atap Ponpes untuk mengambil titik koordinat bulan dan memprediksi waktu terjadinya Gerhana Bulan Total.

“Sudah 2 hari ini, kami menganalisa kondisi luar angkasa, mencari data-data yang diperlukan untuk melakukan observasi Micro Blood Moon. Hal ini untuk memudahkan proses pengamatan Gerhana Bulan Total,” kata salah satu Santri, Ahdina Constantinia, Jumat (27/7).

Wanita yang juga sarjana Ilmu Falak itu menambahkan bahwa penggunaan teleskop memang cukup rumit. “Kami biasanya menggunakan alat bantu seperti hand control dan handphone untuk menunjang observasi Gerhana Bulan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sementara itu, sebanyak 50 santri lainnya turut melakukan observasi. Bahkan, diberikan materi pembelajaran tentang astronomi, Gerhana Bulan dan cara menggunakan Teleskop yang baik dan benar.

Muhammad Thoyfur, salah satu santri menambahkan bahwa ada banyak tahapan yang harus dilakukan untuk bisa mengamati Gerhana Bulan, mulai dari mencari arah poros langit hingga memotret Gerhana Bulan menggunakan handphone. “Semua santri yang hadir diajarkan semua proses tersebut,” katanya.

Tak hanya itu, imbuhnya, para santri dan masyarakat di sekitar pondok juga mengadakan salat gerhana berjamaah pada Sabtu dini hari (28/7). Gerhana bulan diprediksi akan terjadi lagi pada tahun 2019, tepatnya di penghujung Januari, mendatang. (cr2/ida)

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -