Santri Siapkan 4 Teleskop 

539
SIAPKAN TELESKOP : Sejumlah santri sedang mempersiapkan alat Observasi Gerhana Bulan di Musholatorium Pondok Pesantren Daarun Najaah, Kelurahan Wonosari, Kota Semarang, Jumat (27/7). (TRIAWANDA TIRTA ADITYA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIAPKAN TELESKOP : Sejumlah santri sedang mempersiapkan alat Observasi Gerhana Bulan di Musholatorium Pondok Pesantren Daarun Najaah, Kelurahan Wonosari, Kota Semarang, Jumat (27/7). (TRIAWANDA TIRTA ADITYA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Sebanyak 4 teleskop digunakan untuk mengamati fenomena Micro Blood Moon yang dijadwalkan terjadi pada pukul 02.30 hingga pukul 04.30, Sabtu (28/7), di Pondok Pesantren Daarun Najaah, Kelurahan Wonosari, Kota Semarang. Terdapat 2 jenis teleskop, yakni jenis Equatorial dan Altazimuth.

Empat teleskop tersebut dimiliki oleh pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Daarun Najaah Dr H Ahmad Izzuddin dan sebagian sisanya didatangkan dari UIN (Universitas Islam Negeri) Walisongo Semarang. Sebelum terjadinya Micro Blood Moon, semua teleskop sudah diletakkan di atap Ponpes untuk mengambil titik koordinat bulan dan memprediksi waktu terjadinya Gerhana Bulan Total.

“Sudah 2 hari ini, kami menganalisa kondisi luar angkasa, mencari data-data yang diperlukan untuk melakukan observasi Micro Blood Moon. Hal ini untuk memudahkan proses pengamatan Gerhana Bulan Total,” kata salah satu Santri, Ahdina Constantinia, Jumat (27/7).

Wanita yang juga sarjana Ilmu Falak itu menambahkan bahwa penggunaan teleskop memang cukup rumit. “Kami biasanya menggunakan alat bantu seperti hand control dan handphone untuk menunjang observasi Gerhana Bulan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sementara itu, sebanyak 50 santri lainnya turut melakukan observasi. Bahkan, diberikan materi pembelajaran tentang astronomi, Gerhana Bulan dan cara menggunakan Teleskop yang baik dan benar.

Muhammad Thoyfur, salah satu santri menambahkan bahwa ada banyak tahapan yang harus dilakukan untuk bisa mengamati Gerhana Bulan, mulai dari mencari arah poros langit hingga memotret Gerhana Bulan menggunakan handphone. “Semua santri yang hadir diajarkan semua proses tersebut,” katanya.

Tak hanya itu, imbuhnya, para santri dan masyarakat di sekitar pondok juga mengadakan salat gerhana berjamaah pada Sabtu dini hari (28/7). Gerhana bulan diprediksi akan terjadi lagi pada tahun 2019, tepatnya di penghujung Januari, mendatang. (cr2/ida)