Ingin Ekspor Banyak Terkendala Jaringan

Deling Ayu, Lestarikan Kerajinan Anyaman Bambu

597
INOVATIF : Luluk Aris, warga Desa Tegaron, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang menunjukkan hasil kerajinan bambu yang dia kelola bersama temannya. (LAKNA TULAS’UN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INOVATIF : Luluk Aris, warga Desa Tegaron, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang menunjukkan hasil kerajinan bambu yang dia kelola bersama temannya. (LAKNA TULAS’UN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Di era modern, kerajinan tangan dari bambu mulai ditinggalkan masyarakat. Namun berbeda dengan sekumpulan orang yang tergabung dalam Komunitas DelingAyu. Seperti apa ?

LAKNA TULAS’UN-DINA RAHAYU

MEMASUKI ruangan berukuran 5 X 6 meter persegi, langsung mendapat suguhan beragam kerajinan bambu. Mulai dari wadah sendok, tempat tisu, tudung saji, hingga lampu hias.

Usut punya usut, ternyata aneka kerajinan bambu ini sudah ditekuni oleh Luluk Aris, warga Desa Tegaron, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang sejak lama. Namun Luluk tak sendiri. Ia bersama tiga temannya membentuk kelompok atau komunitas penganyam bambu dengan nama Deling Ayu. Nama tersebut diambil dari Bahasa Jawa, Deling berarti bambu dan Ayu berarti cantik. Sedangkan, tujuan berdirinya komunitas Deling Ayu untuk melestarikan kerajinan menganyam bambu.

“Awal terbentuknya Deling Ayu berangkat dari kerisauan saya dan teman-teman, terhadap anak muda di dusun kami mulai meninggalkan kerajinan anyaman bambu,” tutur lelaki 39 tahun ini.

Menurutnya, kerajinan anyaman bambu sudah menjadi tradisi warga desa secara turun-temurun. Sayangnya, kebanyakan anak muda sekarang lebih memilih kerja di pabrik atau menjadi tukang batu dari pada berwirausaha. “Kami terpanggil untuk membentuk komunitas ini sebagai upaya mewujudkan dan melestarikan budaya anyaman di Dusun Karang DesaTegaron,” ujar alumni jurusan elektro ini.

Hanya membutuhkan waktu kurang dari setahun, komunitas yang dibentuk pada 6 Januari 2017 ini, sudah mampu menarik anggota aktif 18 orang dan 80 persen Kepala Keluarga (KK) di Dusun Karang.

Kini, di pekarangan rumahnya yang berwarna krem terlihat berjajar bambu sebagai bahan utama membuat anyaman. Mulai ukuran kecil hingga besar siap disulap menjadi berbagai produk sesuai permintaan. Banyak permintaan yang berasal dari pecinta anyaman, hotel, rumah makan, dan kafe. “Dari berbagai macam produk yang dihasilkan, picuk dan lampu gantung/kap untuk lampu kafe paling diminati,” tandasnya.

Selain permintaan dari lokal, ada dari luar negeri seperti Eropa dan Timur Tengah, terutama Arab Saudi. Kendati begitu, Luluk mengaku memiliki banyak hambatan untuk melakukan ekspor. “Tahapan ekspor kali pertama adalah mengirim sample. Begitu sepakat, kami melakukan Memorandum of Understanding (MoU). Cuma masalahnya, ketika pesanan sampai ribuan biji dengan waktu kurang dari sebulan, akhirnya kami yang repot. Soalnya kalau marketing mau ngebut, produksi enggak kuat. Begitupun sebaliknya, produksi ngebut, tapi terkadang belum ada pesanan. Padahal kalau dibiarkan lama, bambu bisa rusak,” jelasnya.

Selain itu, lelaki humoris ini mengatakan bahwa proses ekspor juga terkendala jaringan. Selama ini, mereka melakukan ekspor menggunakan tangan ketiga yakni orang yang mempunyai jaringan keluar negeri. “Kami menjual ke mereka (tangan ketiga, red) dengan harga yang sama dengan menjual ke pembeli lokal. Biasanya ekspor sebanyak dua sampai tiga karung. Namun kalau ada barang rusak, kami yang tanggung jawab. Jadi harus ekstra hati-hati,” tuturnya.

Terkait banyaknya permintaan dari luar negeri, tidak membuat lelaki beranak dua ini cepat puas. Ia dan kelompoknya terus berkreasi membuat berbagai karya sesuai tren di masyarakat. Apalagi bahan utama bambu, tersedia, melimpah, dan tumbuh subur di kawasan tersebut. Selain itu, Sumber Daya Manusia (SDM) juga ikut mendukung terciptanya inovasi anyaman bamboo. Sebab, masyarakat setempat lebih mudah memahami, terampil, dan kreatif.

“Selain warga, saya belum berani menjamin orang lain dalam satu sampai dua bulan bisa menganyam berbagai bentuk seperti tempat hantaran, tumbu, wadah buah, tempat bumbu, besek, pincuk, dan tenggok. Tapi warga sini, sekali diajari langsung bias,” katanya.

Kunci sukses perajin anyaman bambu, katanya, kemauan saja. Sedangkan yang wajib dikuasai adalah teknik dasar menganyam dan kreativitas. “Yang laris di pasaran, bisa meniru dengan mencari dari internet atau Youtube,” ungkap salah satu pencetus komunitas anyaman bambu ini.

Tidak hanya memberdayakan masyarakat di dusunnya, Luluk dan teman-teman komunitas kerap mengisi pelatihan yang diadakan oleh Disperindag, masyarakat daerah, dan inisiatif anak KKN. Mereka pernah mengisi pelatihan di Semarang, Kendal, Karang Bawen, hingga Magelang.

Ke depannya, komunitas ini berencana ekspansi ke hotel-hotel bintang lima. Meskipun persyaratannya harus siap SDM dan SDA, Luluk optimistis bisa menembus pasar yang lebih luas lagi dan menarik kaum muda untuk terjun di dunia kerajinan anyaman bambu.

“Pengahasilan tidak pasti, tapi bukan itu tujuannya. Yang penting bisa memberdayakan masyarakat dan menjadikan masyarakat gemar menganyam.Yang generasi muda kita tarik pelan-pelan, bangun mindset kalau wirausaha tak perlu menunggu umur. Begitu ada peluang, langsung sikat. Harapannya, dikasih contoh satu bisa berkembang ke inovasi lain. Jangan berhenti berkreasi dan berinovasi. Rencananya, saya mau membuat tempat charge handphone dari anyaman bambu,” ujarnya sambil tertawa.

Lelaki yang gemar memakai jins ini mengatakan bahwa filosofi yang diterapkan di komunitas Deling Ayu sama dengan filosofi bambu. “Bambu begitu kamu tanam, tidak langsung besar. Tapi tumbuh kecil dulu untuk memperbesar akar dan memperkuatnya. Lalu ia terus tumbuh, disitu bisa menahan angin dan erosi,” jelasnya. (*/ida)