JALANI PEMERIKSAAN : Dua pelaku pemerasan, NS dan MM saat dimintai keterangan petugas SPKT Polrestabes Semarang. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JALANI PEMERIKSAAN : Dua pelaku pemerasan, NS dan MM saat dimintai keterangan petugas SPKT Polrestabes Semarang. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Laki-laki berinisial NS, 26, warga Sukolilo Kabupaten Pati, yang diduga memiliki kelainan seks atau homo, bergentayangan menjerat beberapa korban dengan rayuan maut melalui media sosial (medsos). Setelah korban terjerat rayuan, pelaku bersekongkol dengan teman laki-lakinya, MM, 41, warga Kangkung, Kabupaten Kendal, untuk melakukan pemerasan.

Bahkan, berdasarkan sumber di kepolisian, NS dan MM sudah berhasil menjerat 6 korban. Namun, yang berani melaporkan ke kepolisian baru HP, 27, laki-laki warga Pedurungan, Kota Semarang. Atas dugaan kasus pemerasan dengan modus pengancaman penyebaran video hubungan seksual sesama jenis ke media sosial.

Berdasarkan laporan HP ke Polrestabes Semarang, Kamis malam (26/7) kemarin, dugaan tindak kejahatan tersebut berawal saat korban mengenal dengan salah satu terlapor, NS, melalui jejaring Facebook. Hingga akhirnya, keduanya intensif berkomunikasi dan melakukan pertemuan di tempat kos NS di Jalan Woltermonginsidi Kota Semarang, Selasa (24/7) lalu. “Saat ketemuan di tempat kosnya NS, kami masuk ke kamar dan nonton film porno,” kata HP saat memberikan keterangan kepada petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang.

Pada kesempatan tersebut, korban HP dirayu oleh NS, hingga menuruti permintaan NS untuk melakukan oral seks. Namun, di tengah asyik masyuk bercumbu, masuklah MM teman NS sambil merekam dengan handphone di tangannya. “Tiba-tiba ada laki-laki masuk ngaku omnya NS dan mengatakan sudah merekam adegan kami. Ternyata hasil rekaman tersebut, dijadikan alat untuk memeras saya,” bebernya.

MM dan NS mengancam akan menyebarluaskan video rekaman adegan seks tersebut melalui media sosial, jika menolak memberikan sejumlah uang. Namun beda, jika HP bersedia memenuhi permintaan keduanya dengan memberikan sejumlah uang.

“Jika ingin berdamai, harus memberikan uang dan membelikan minuman keras. Kemudian dia mengambil uang Rp 910 ribu dan handphone Xiaomi, sehingga total kerugian saya Rp 2.610.000,” katanya.

Korban yang merasa tidak terima dengan kejadian tersebut, kemudian menceritakan kepada adiknya. Adik HP pun merasa geram dan tak terima, hingga akhirnya menyambangi dua orang tersebut di tempat kos NS.

“Saya datangi tempatnya, lalu saya tanyai. Saya menduga, dua orang ini sudah bersekongkol dan direncanakan untuk memeras,” kata pria yang enggan disebut namanya saat mengantar korban.

Setelah menerima laporan korban, aparat kepolisian langsung sigap. Saat itu pula, polisi menciduk dan menggelandang pelaku NS dan MM ke Mapolrestabes Semarang, Kamis malam (26/7) kemarin. Hingga kini, dugaan pemerasan tersebut masih dalam penyelidikan Sat Reskrim Polrestabes Semarang. Dengan mengamankan barang bukti berupa handphone dan uang Rp 910 ribu. (mha/ida)