Perlu Perbaikan untuk Tingkatkan Capaian IPM Jateng

375
Oleh: Mohamad Miftah
 Peneliti Bidang Pendidikan pada Bappeda Provinsi Jawa Tengah

RADARSEMARANG.COM – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia. Kemajuan pembangunan manusia perlu diperhatikan aspek kecepatan dan status pencapaian. Secara umum, pembangunan manusia Jawa Tengah terus mengalami kemajuan selama periode 2010 hingga 2017. IPM dibentuk oleh tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life), pengetahuan (knowledge), dan standard hidup layak (decent standard of living). Capaian IPM Jawa Tengah tahun 2017 (70,52), meningkat 0,54 poin dibandingkan tahun 2016 (69,98). Namun IPM Jawa Tengah pada urutan ke lima di Pulau Jawa dan masih di bawah IPM Nasional sebesar 70,81 di 2017, padahal pertumbuhan yang relatif tinggi yakni sebesar 0,77 persen. Pemprov  Jawa Tengah perlu perbaikan dalam merencanakan program/kegiatan yang tepat sasaran dan alokasi anggaran yang efektif agar dapat meningkatkan pembangunan manusia di dalamnya yang terjabarkan dalam RKPD 2019 dan penyusunan RPJMD 2018-2023. Penelitian dilakukan lewat metodologi penelitian Kuantitaif dan Kualitatif (Mixed Methods). Teknik pengumpulan data baik primer dan sekunder. Teknis analisis kebijakan untuk memberikan rekomendasi mencapai target IPM Jawa Tengah.

Hasilnya, Dimensi Umur Panjang dan Hidup Sehat, Umur Harapan Hidup (UHH) terus meningkat dari tahun ke tahun. Selama periode 2010-2017 sebesar 1,35 tahun. Rata-rata UHH tumbuh sebesar 0,26% per tahun. Meskipun capaian UHH Jateng tergolong sangat baik, tapi masih banyak permasalahan. Seperti tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) yang disebabkan; Kelainan Konginental, Berat Badan Lahir rendah (BBLR) dan Bayi Prematur. AKABA cenderung fluktuatif, hal ini menggambarkan belum optimalnya penanganan kasus kematian balita, khususnya di daerah. Kematian balita karena diare, miningitis, DBD, ISPA yang didasari gizi buruk, tidak diberi ASI sampai usia 2 tahun dan serta imunisasi tidak lengkap. Penyebab kematian karena terbatasnya sarana prasarana kesehatan. Saran dan rekomendasi antara lain; meningkatnya derajat kesehatan masyarakat melalui program/kegiatan pencegahan dan upaya menurunkan AKB,  AKABA, AKI, angka morbiditas beberapa penyakit, dan status gizi.

Dimensi Pengetahuan, dibentuk oleh dua indikator. Yakni Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Selama periode 2010-2017, angka HLS meningkat 1,48 tahun, sementara RLS meningkat 0,56 tahun. Selama periode 2010-2017, HLS rata-rata tumbuh sebesar 1,81% per tahun. Tahun 2017, HLS tembus 12,57 meningkat 0,12 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Artinya, anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang untuk menamatkan pendidikan mereka hingga lulus SMA atau D1. Sementara itu, RLS tumbuh 1,15% per tahun selama periode 2010 -2017. Hingga tahun 2017, secara rata-rata penduduk usia 25 tahun ke atas telah mengenyam pendidikan hingga kelas VII. Indikator RLS dan HLS sangat tinggi terdapat di kab/kota yang struktur masyarakatnya terindikasi tumbuh suasana perkotaan dan beberapa daerah merupakan wilayah fungsional. Wilayah kab/kota yang nilai indikator HLS dan RLS sedang, terdapat di wilayah pegunungan dan wilayah pesisir dan daerah pertanian sawah dan tadah hujan. Saran dan rekomendasi, yaitu perlu adanya peningkatan satuan pendidikan SMA/SMK dan D1 yang bermutu di tingkat daerah agar lulusannya memiliki daya saing nasional-internasional dan tuntutan DUDI. Peningkatan akses pada penyediaan pendidikan khusus dan siswa miskin juga perlu diperhatikan. Penyediaan pendidikan kecakapan hidup/keterampilan adaptif melalui pengadan guru PNS, pembinaan dan pelatihan kesiswaan/tenaga pendidik dan kependidikan, muatan dan implementasi kurikulum serta pengadaan sarana prasarana belajar dan  penyediaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk peningkatan kelembagaan.

Dimensi Standar Hidup Layak, pengeluaran per-kapita Jateng masih berada di bawah tingkat pengeluaran nasional. Tahun 2017 pengeluaran per kapita masyarakat mencapai Rp 10,38 juta per tahun Selama lima tahun terakhir, pengeluaran per kapita disesuaikan masyarakat meningkat sekitar Rp. 760 ribu. Namun, pertumbuhan muncul optimisme bahwa perekonomian Jateng akan tumbuh lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan pengeluaran per-kapita nasional yang sebesar 1,51% dan pertumbuhan pengeluaran Jateng mencapai 2,09%. Peningkatan belanja infrastruktur mendorong peningkatan ekonomi yang pada akhirnya berujung pada perbaikan indikator IPM.

Peningkatan IPM di tingkat provinsi juga tercermin pada level kabupaten/kota. Selama periode 2016-2017, mengalami peningkatan IPM untuk tiga kabupaten dengan kemajuan pembangunan manusia paling cepat, yaitu Kabupaten Pati (1,58%), Kabupaten Batang (1,46%) dan Kabupaten Brebes (1,38%). Kemajuan pembangunan manusia di tiga daerah tersebut terutama didorong oleh dimensi pengetahuan. Sementara itu, kemajuan pembangunan manusia di Kabupaten Banyumas (0,37%), Kabupaten Purbalingga (0,36%), dan Kota Surakarta (0,11%) tercatat paling lambat di tahun 2016-2017. Hal ini disebabkan karena dimensi pengetahuan dirasa kurang optimal. Upaya yang dilakukan hendaknya memobilisasi agar anak-anak miskin didorong untuk sekolah gratis agar APM/APS meningkat dan pelatihan life skill disamping pendampingan pelatihan berkelanjutan termasuk pemodalan. (BAP)