BAGIKAN MAKANAN : Sejumlah anggota World Merit Semarang membagikan makanan ke sejumlah pemulung yang di TPA Jatibarang, Kota Semarang, Kamis (26/7). (TRIAWANDA TIRTA ADITYA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BAGIKAN MAKANAN : Sejumlah anggota World Merit Semarang membagikan makanan ke sejumlah pemulung yang di TPA Jatibarang, Kota Semarang, Kamis (26/7). (TRIAWANDA TIRTA ADITYA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM World Merit adalah organisasi pemuda internasional yang berdiri sejak 1999 dengan nama Camp Leaders. Tahun 2012 diubah menjadi World Merit yang berpusat di Liverpool, Inggris. World Merit Indonesia bergerak dalam berbagai bidang berkaitan dengan Pemberdayaan Anak Muda. Termasuk di Semarang, yang mensosialisisaikan pemanfaatan sisa makanan di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Jatibarang.

TRIAWANDA TIRTA ADITYA

Sebanyak 4 anggota World Merid Semarang, Riski Dewi, Sry Lumbantobing, Parmanita, dan Salman Al-Farisi, mengumpulkan makanan yang tersisa dari berbagai tempat makan seperti, warteg, kantin, rumah makan, bahkan cafe. Makanan yang masih layak untuk dikonsumsi tersebut dikemas ulang dan dibagikan ke masyarakat yang lebih membutuhkan.

Puluhan paket makanan meliputi nasi, lauk, beserta minuman tersebut, mereka bagikan setiap hari. Hal ini mereka lakukan untuk mensosialisasikan tentang pentingnya pemanfaatan sisa makanan agar tidak dibuang secara cuma-cuma. Para Food Warriors, sapaan anggota World Merit Semarang, menganggap bahwa sisa makanan yang masih layak konsumsi seharusnya disimpan dan diberikan ke masyarakat yang lebih membutuhkan.

“Seharusnya setiap manusia itu mau bertanggun jawab atas sisa makanan yang ia konsumsi. Kita semua harus menyadari bahwa masih banyak orang di luar sana yang hidup dengan kondisi kelaparan. Karena itulah, jangan sampai kita membuang sisa makanan begitu saja,” kata Project Officer World Merit Semarang, Riski Dewi.

Mahasiswa Unimus itu menyampaikan, para Food Warrior secara sukarela bekerja mengumpulkan makanan untuk dibagikan ke masyarakat yang membutuhkan seperti pemulung, tukang parkir, tukang becak, namun tidak kepada pengemis. Bagi mereka, pengemis dianggap tidak layak untuk menerima bantuan makanan, karena makanan sisa ini hanya dibagikan kepada masyarakat yang mau bekerja dan berusaha, tidak dengan meminta-minta di jalanan. “Masyarakat yang berkecukupan harus lebih mensyukuri dan menghargai makanan yang mereka konsumsi,” kata Riski kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (26/7).

Kegiatan ini ditanggapi positif oleh Pengawas Lapangan Dinas Lingkungan Hidup, Kota Semarang, Prapto. “Saya mengapresiasi inisiatif dari rekan-rekan World Merit Semarang. Walaupun di usia muda, namun sudah mendedikasikan dirinya bisa bermanfaat bagi orang banyak, khususnya masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Prapto menambahkan, memang sudah sepatutnya masyarakat yang mampu sukarela membantu orang lain yang lebih membutuhkan. “Kegiatan-kegiatan seperti ini, harus terus dikembangkan, agar banyak orang menyadari akan pentingnya berbagi pada sesama,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data dari IFPRI (Internasional Food Research Institute) pada tahun 2016-2017, Indonesia memiliki Global Index setinggi 21,9 persen yang masuk kategori serius. Data tersebut menyimpulkan bahwa 1/3 dari seluruh makanan yang diproduksi di Indonesia terbuang sia-sia sebanyak 1.3 ton per tahun.

Tak hanya itu, menurut data Food Sustainability Indeks tahun 2016-2017, Indonesia berada di posisi kedua terbawah dengan sisa makanan sebanyak 300 kg untuk setiap orang dalam kurun waktu 1 tahun.

Berdasarkan sejumlah fakta yang ada, organisasi yang sudah berdiri sejak 2016 ini, berusaha keras memaksimalkan sisa-sisa makanan agar lebih bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan. “Dalam rangka memperingati hari terbentuknya World Merit Indonesia pada bulan Juli ini, kami sengaja mengadakan sejumlah kegiatan. Salah satunya Dumdum Bebarengan, yakni kegiatan membagikan makanan secara gratis ke masyarakat yang membutuhkan,” kata Sry Lumbantobing.

Mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip) itu menambahkan bahwa selain kegiatan Dumdum Bebarengan, World Merit Semarang juga akan mengadakan kegiatan yang mensosialisasikan penanggulangan sampah sedotan di Kota Semarang. Sosialisasi ini akan digelar di Kelurahan Ngaliyan pada Sabtu mendatang. (*/ida)