MPLS Berbasis Pengembangan Multiple Intelegent Berdasar Iman dan Prestasi

SMA Kesatrian 1 Semarang Menyongsong Era Globalisasi

202

RADARSEMARANG.COM – Memasuki tahun ajaran baru 2018/2019, sekolah diwajibkan melaksanakan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagai pengganti Masa Orientasi Sekolah (MOS). Ketentuan MPLS pada tahun ini juga masih mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 18 tahun 2016. Tujuan utama MPLS adalah membangun suasana ramah tamah, nyaman dan menyenangkan bagi calon siswa baru.

Sesuai peraturan, SMA Kesatrian 1 Semarang turut melaksanakan kegiatan tersebut. Di sini MPLS lebih diarahkan untuk kegiatan membangun interaksi positif dan menyenangkan antara siswa dengan lingkungan sekolah.

Kepala Sekolah SMA Kesatrian 1, Tri Tjandra Mucharam menerangkan, pembelajaran yang diberikan kepada siswa haruslah mengedepankan iman kemudian baru prestasi. Jika seorang siswa tidak dibekali dengan iman, sepandai apapun siswa itu tidak akan berhasil. Iman akan membentuk sopan santun dan karakter bagi setiap siswa dan akan mengantarkan mereka ke jalan kesuksesan.

“Iman akan mendasari sebuah prestasi, salah satu programnya adalah multiple intelegent. Jangan sampai, misalkan, mengukur kepandaian seseorang hanya dengan mengukur kepandaian ikan hanya dengan memanjat pohon. Kita harapkan ya mengukur kemampuan ikan hanya dengan berenang. Di malam inagurasi nanti, boleh menampilkan pantomim, boleh apa saja yang penting sesuai dengan kemampuan. Itulah yang dimaksud dengan kita mengakomodasi kemampuan multiple intelegent mereka untuk menuju ke era yang lebih global,” jelasnya.

SMA Kesatrian 1 Semarang tidak menggelar MPLS dengan kekerasan dan senioritas untuk mengenalkan siswa ke lingkungan sekolah. Perlakuan lembut dan manusiawi yang dilakukan, karena justru akan menjadikan siswa menghormati sesama siswa dan tak ada lagi rasa iri dengki.

“Tema untuk MPLS ini yaitu dengan multiple intelegent kita akomodasi kemampuan anak agar dapat berkembang lebih baik dengan adanya era globalisasi. Tujuannya mengenali potensi diri siswa baru, membantu siswa baru untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan sekitarnya serta menumbuhkan motivasi, semangat dan belajar efektif sebagai siswa baru. Selain itu, MPLS juga diharapkan bisa mengembangkan interaksi positif antarsiswa dan lingkungan sekitar. Dengan demikian segala bentuk perpeloncoan, budaya senioritas serta hukuman fisik tidak mendidik di SMA kami larang untuk dilakukan selama MPLS. Konsep MPLS di SMA Kesatrian 1 bahwasanya siswa-siswi baru harus kita beri penghargaan bukan perpeloncoan,” ujar Ketua MPLS, Mulyono.

Ia juga mengatakan, teknik dalam MPLS adalah materi murni tentang orientasi lingkungan sekolah. Kegiatan dibuat semenarik mungkin, menyenangkan, kreatif dan edukatif. RangkaianMPLS dilakukan selama tiga hari. Kegiatannya meliputi pengenalan lingkungan sekolah, pemberian edukasi dan motivasi serta ditutup dengan malam inagurasi perkemahan Sabtu-Minggu (Persami).

“Persiapan Persami dilaksanakan di lapangan belakang sekolah kami. Biasanya untuk Persami di tahun sebelumnya bertempat di Penggaron, Bantir, Medini tapi ini kita adakan di tempat kami sendiri. Tentu pembina pramuka memiliki latar belakang, salah satunya Karena anak kelas sepuluh masih baru, belum mengenal kondisi lingkungan sekolahnya. Kalau langsung dibawa ke (Bumi Perkemahan) Bantir kurang pas karena pramuka ini sebagai acara penutupan MPLS,” terangnya. (mg14/mg12)