CICIPI : Bupati Batang Wihaji mencicipi aneka kuliner di stand pameran Kecamatan Subah. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
CICIPI : Bupati Batang Wihaji mencicipi aneka kuliner di stand pameran Kecamatan Subah. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Kecamatan Subah di Kabupaten Batang memiliki 17 kecamatan. Yakni Desa Adinuso, Karangtengah, Clapar, Durenombo , Gondang, Jatisari, Kalimanggis, Keborangan ,Kemiri Barat, Kemiri Timur, Kumejing, Kuripan, Mangunharjo, Menjangan, Sengon, Subah dan Tenggulangharjo.  Semua kecamatan memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Baik dari bidang seni, kuliner, hingga potensi wisata alam.

Walaupun terletak di jalur pantura yang terkenal dengan banyak pabrik, namun warganya tidak mengandalkan bekerja di perusahaan atau menjadi buruh pabrik. Warganya justru lebih memilih mengembangkan diri dengan mengeksplor kekayaan alam di daerahnya.

PANEN : Setiap hari jamur tiram bisa dipanen dan langsung dipasarkan baik dalam kondisi segar maupuan dalam bentuk makanan siap saji.
PANEN : Setiap hari jamur tiram bisa dipanen dan langsung dipasarkan baik dalam kondisi segar maupuan dalam bentuk makanan siap saji.

Dari semua desa yang ada, hampir semua memiliki produk unggulan. Hal ini sesuai dengan semangat Pemerintah Batang, One Vilage one product atau satu desa satu produk. Seperti kelompok usaha jamur, kerajina ukir, keripik pisang, berbagai macam kuliner, pengusaha tempat perhiasan hingga kelompok sadar wisata yang mendirikan Jembatan Buntu.

“Kami mendirikan usaha budidaya jamur tiram. Kami berkumpul dan bertekad membangun usaha ini bersama,” ujar Cahyono, Ketua Kelompok Tani Jamur.

Pria yang hanya tamatan SMA ini juga belajar otodidak dalam budidaya jamur. Dengan modal seadanya, kelompoknya membuat rumah tanam dengan dengan slot 25 ribu lock atau media tanam jamur tiram.

“Kami masih terkendala modal, kini masih bisa membuat 15 ribu lock saja, kalau yang sekarang sudah untung akan kita buat sisanya,” sebutnya.

Usaha jamur ini cukup menguntungkan. Per bulan, warga bisa meraup Rp 15 juta untuk satu kelompok. Hasil budidaya selain dijual segar, juga dijual dalam bentuk siap makan berupa keripik.

“Satu log bisa kami panen 7 sampai 8 kali, minimal 3 ons tiap log kami sudah untung. Selain itu kami jual juga dalam bentuk makanan siap saji, agar nilai jual meningkat,” jelasnya.

Selain usaha budidaya jamur, salah satu warga lain Kustiah, juga membawa industri kreatif ke Subah,  dengan mendirikan usaha kotak perhiasan. Walupun terlihat sepele, produknya sudah dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, terutama di kota besar Jakarta serta toko perhisaan di pantura.

“Saya belajar bikin kotak perhiasan saat kerja di Jakarta, kemudian pulang kampung dan mulai usaha sendiri,” jelas perempuan ramah ini.

Setelah usahanya mulai berkembang, dirinya mengajak hingga 13 orang warga kampungnya untuk membantu usahanya. Hal tersebut sangat membantu mengingat kebanyakan pekerjanya adalah ibu rumah tangga.

Kastiah menambahkan, pembuatan kotak perhiasan sudah berlangsung selama 10 tahun. Dengan omzet satu bulan Rp 15 juta, dengan harga jual satu lusin dari Rp 45 ribu hingga Rp 55 ribu.

“Saya berharap Pemkab Batang bisa membantu dalam permodalannya dan pemasaran melalui online, karena selama ini dalam pemasaran masih manual, dengan cara mendatangi toko – toko perhiasan,” ujarnya.

Industri kereatif lain yakni dari sektor wisata. Ide berawal dari Karang Taruna desa setempat. Melihat potensi alam yang begitu indah, para pemuda setempat membangun jembatan buntu sebagai gardu pandang.

“Melihat potensi alam yang bagus, akhirnya kami dirikan Jembatan Buntu ini,” jelas Ketua Pokdarwis Santoso.

Bupati Batang cukup mengapresiasi aneka kraetivitas warga Subah tersebut. Dikatakan Bupati  bahwa ekonomi kreatif menjadi bagian dari visi misi Pemkab dengan one vilage one product.

“Inilah yang akan kita gali dan kembangkan sebanyak – banyaknya,” seru Bupati Batang.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Batang mengatakan, pihaknya akan membantu mengoptimalkan industri kreatif yang dilakukan warga Subah. Mulai dari pemasaran hingga memberi penyuluhan.

“Produk  kotak perhiasan, jamur, seni ukir dan yang lain  akan kita branded melalui digital marketing dengan pemasaran online. Kami juga akan membantu menjembatani masalah permodalan,” katanya.(han/zal)