Sikap Perguruan Tinggi Menghadapi Era Disrupsi

142
Gita Claudia
Gita Claudia

RADARSEMARANG.COM Era disrupsi ini menuntut kita semua untuk melakukan penyesuaian terhadap perubahan-perubahan yang sedang terjadi di sekitar kita. Disrupsi yang dianggap sebagai perubahan dapat menjadi tantangan sekaligus peluang untuk sebuah kemajuan. Dari kalangan pemerintah, pengusaha hingga masyarakat biasa harus waspada dan terus melihat apa saja perubahan yang sedang terjadi. Tentunya, dengan sikap waspada terhadap perubahan dalam aspek ekonomi, budaya, politik, dan lain sebagainya mampu membuat kita mendeteksi disrupsi sedini mungkin. Jika kita sudah mengetahui perubahan apa yang sedang terjadi maka kita bisa mengambil sikap untuk menghadapinya sehingga kita mampu bertahan di era disrupsi ini.

Salah satu dampak disrupsi yang tanpa kita sadari telah terjadi adalah semua proses yang terjadi di sekitar kita melibatkan teknologi, semua sudah dilakukan secara online dengan mengandalkan internet. Tidak ada lagi kata proses dilakukan secara manual atau pergi ke lokasi pembelian ketika ingin membeli sesuatu. Semua proses dapat dilakukan melalui gadget yang berarti adanya peralihan dari dunia nyata ke dunia maya. Beberapa contoh yang bisa kita lihat, seperti pemesanan tiket, pembelian alat elektronik hingga pakaian, pemesanan hotel, pemesanan kendaraan umum dan banyak hal lainnya sudah bisa dilakukan secara online. Sadar atau tidak sadar, sebagian besar masyarakat sudah merasakan dampak disrupsi dan mulai beralih mengikuti perubahan tersebut. Ketika perusahaan-perusahaan tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan saat ini, maka sudah saatnya mereka “gulung tikar” karena masyarakat akan lebih memilih sesuatu yang cepat dan ringkas.

Generasi saat ini merupakan generasi dimana anak muda mendominasi serta berkembang dengan sangat produktif. Generasi yang sedang berkembang disebut juga generasi millennial, merupakan generasi dimana mereka cenderung cepat dalam mempelajari sesuatu dan update dengan teknologi yang ada. Oleh karena itu, para pendahulu atau masyarakat di generasi sebelumnya haruslah waspada dengan era disrupsi, dimana mereka dapat dikalahkan oleh generasi muda saat ini. Pemerintah hingga para pengusaha harus sadar bahwa mereka harus melakukan perubahan, bisa dengan membuat sesuatu yang baru atau menyesuaiakan hal yang lama dengan yang baru.

Melihat dari peranan generasi muda, salah satu pihak yang terlibat dalam membentuk mereka adalah perguruan tinggi. Kelemahan dari generasi milenial ini adalah mereka kurang aware dengan tantangan dan peluang yang ada di sekitar mereka. Sehingga sejak dari perguruan tinggi, mereka sudah dibina agar paham apa yang menjadi tantangan dan peluang bagi mereka. Generasi muda di perguruan tinggi saat ini terlihat aktif serta berani mengungkapkan suara mereka, hal tersebut tidak hanya dalam perkuliahan tetapi juga dalam organisasi kemahasiswaan. Perguruan tinggi saat ini dituntut supaya dapat mempersiapkan kurikulum yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dalam dunia kerja. Perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki nilai tambah lebih sehingga para lulusan dapat bersaing dan bertahan dalam dunia kerja. Lalu hal apa saja yang perlu menjadi perhatian bagi perguruan tinggi di era disrupsi ini?

Perguruan tinggi pastinya memiliki tujuan menghasilkan lulusan yang kompeten, oleh karena itu perguruan tinggi harus selalu update dengan kebutuhan pasar saat ini. Dengan mengetahui kebutuhan pasar, maka perguruan tinggi dapat menyusun kurikulum yang nantinya dapat menghasilkan lulusan yang sesuai dengan permintaan pasar. Tidak hanya kompeten saja, tetapi karakter generasi muda saat ini juga perlu dibentuk. Pembentukan karakter bagi generasi muda ini tentunya bertujuan untuk membentuk mereka menjadi seseorang yang memiliki kepribadian baik, mampu menghormati orang lain, serta paham dengan nilai-nilai yang perlu mereka pegang di dalam kehidupan. Pada era disrupsi ini mendorong orang untuk terus-menerus berkembang, generasi muda haruslah memiliki sikap keterbukaan dengan keadaan sekitar serta mengetahui sikap apa yang perlu ditunjukkan pada perubahan tersebut.

Poin pentingnya adalah perguruan tinggi saat ini dituntut keluar dari zona nyaman mereka dan lebih fleksibel dalam memahami hal-hal baru. Perguruan tinggi dituntut untuk melihat perubahan yang sedang terjadi ini sebagai tantangan dan peluang untuk menjadi lebih unggul. Bukan hanya hard skill tetapi soft skill dari para lulusan harus dibentuk oleh perguruan tinggi karena perguruan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan berupa sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, berkarakter serta inovatif, sehingga para lulusan yang mereka hasilkan memang sudah siap untuk memasuki dunia kerja di era disrupsi ini. (*)