Sembako Non Tunai Lebih Mahal

Agen BPNT Diduga Mainkan Harga

351
BEREBUT: Penyerahan BPNT berupa beras dan telur di Desa Sumberagung warga harus berdesak-desakan. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BEREBUT: Penyerahan BPNT berupa beras dan telur di Desa Sumberagung warga harus berdesak-desakan. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL – Dugaan monopoli Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) terjadi di Desa Sumberagung. Bantuan sebesar Rp 110 ribu perbulan yang diberikan kepada warga kurang mampu itu justru dimanfaatkan untuk meraup untung sebanyak-banyaknya oleh agen penjual sembako.

Bagaimana tidak, BPNT yang diberikan dalam bentuk kartu ATM itu mengharuskan penerima membelanjakannnya dalam bentuk beras dan telur di agen yang sudah ditunjuk oleh pemerintah. Namun sayangnya, sembako yang dijual harganya dua kali lipat dari harga pasaran.

Seperti di Desa Sumberagung, Weleri. Para penerima BPNT harus membeli telur dengan harga Rp 40 ribu perkilogram. Harga tersebut jelas sangat merugikan warga penerima BPNT yang notabene warga kurang mampu. Sebab harga telur dipasaran di Kendal saat ini berkisar Rp 25-28 ribu per kilogram.

Seperti diungkapkan Karsi, 70 mengaku bulan ini ia menerima bantuan sebesar Rp 330 ribu untuk tiga bulan. Dengan rincian RP 110 ribu perbulan. Meski usianya sudah tua, ia masih cukup teliti dan jeli. Ia menanyakan rincian harga kepada pihak agen yang ditunjuk untuk menjual sembako untuk BPNT.

“Saat saya tanya, harganya telur mahal sekali. Masa harganya Rp 40 ribu perkilogram. Padahal normalnya harga telur dipasaran saat ini paling mahal Rp 26 ribu perkilogram. Ini jelas merugikan rakyat kecil seperti kami yang tidak bisa membeli,” keluhnya, kemarin (24/7).

Diakuinya, meski harganya mahal terpaksa ia membelinya. Karena ATM BPNT tidak bisa dibelanjakan di toko-toko penjual sembako lainnya. “Ya terpaksa, karena dapat bantuan ya saya terima saja,” akunya.

Diakuinya, untuk bantuan Rp 330 ribu tersebut oleh petugas agen ia menerima bantuan beras 30 kilogram dan telur 3/4  kilogram. “Kalau harga berasnya normal, seperti harga pasaran. Yakni Rp 10 ribu perkilogram. Cuma telurnya hanya dapat kurang dari satu kilogram,” tandasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Sumberagung Sudono saat dikonfirmasi mengaku tidak mengetahui pasti rincian belanjanya. Ia hanya mengetahui jika bantuan diberikan dalam bentuk beras dan telur.

“Saya tidak mengetahui pasti rincian yang didapat para penerima bantuan. Setahu saya 10 kilogram beras dan telur. Jadi untuk tiga bulan dapatnya 30 kilogram, kalau telur saya tidak mengetahuinya,” ujar Sudono.

Ia mengaku, jika harga telur Rp 40 ribu perkilogram, jelas hal itu sangat mahal dan merugikan warganya. “Kami akan menanyakan kepada agen penjual, ketentuannya bagaimana,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Sosial Kendal, Kun Cahyadi mengatakan jika penentuan harga sembako, pihak dinsos tidak dilibatkan. Penentunya yakni agen yang sudah ditunjuk oleh Bank BTN selaku bank yang ditunjuk Kementrian Sosial.

Namun ia mengakui jika pihak BTN belum mampu menyediakan toko atau agen yang melayani pembelian sembako. Adapun jumlahnya yang ada saat ini masih sangat terbatas, sehingga warga harus berdesak-desakan untuk membeli  sembako menggunakan kartu BPNT.

“Untuk harga sembako seharusnya disesuaikan dengan harga pasaran. Kalau harga telur sebesar Rp 40 ribu perkilogram, jelas itu sangat merugikan warga. Kami akan kroscek kepada agen maupun BTN,” akunya.  (bud/bas)