Menuju World Heritage Kota Lama Terus Dibenahi

249
NUANSA HERITAGE : Bangunan Restoran Pringsewu Kota Lama bernuansa heritage.
NUANSA HERITAGE : Bangunan Restoran Pringsewu Kota Lama bernuansa heritage.

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang menargetkan kawasan Kota Lama Semarang dapat diakui Unesco sebagai warisan budaya dunia pada 2020 mendatang. Saat ini, Kota Lama Semarang masih menjadi salah satu dari sejumlah Kota Lama lainnya yang bertahan dalam daftar tunggu untuk masuk dalam daftar World Heritage (warisan budaya dunia, red).

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dalam kesempatan lokakarya yang digelar oleh Unesco bekerjasama dengan Badan Pelestarian Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang bertajuk berbagi pengalaman strategi pengurangan risiko bencana di tiga kota bersejarah di Gedung Oudetrap Kota Lama Semarang, Selasa (24/7).

Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi menyebut, dengan lokakarya tersebut Unesco memberikan pengarahan cara merawat dan mengembangkan Kota Lama Semarang sesuai dengan ketentuan dan nilai historis yang ada.

“Mereka (Unesco, red) memberi clue yang benar merawat Kota Lama sesuai arahan Unesco. Karena itu kita jaga bersama-sama. Yang dilakukan Pemkot saat ini kan untuk kemaslahatan masyarakat,” ungkapnya usai membuka lokakarya.

Lokakarya dari Unesco tersebut untuk memastikan kondisi Kota Lama saat ini. Sehingga, hal itu menjadi perhatian serius Pemkot Semarang untuk tetap mempertahankan nilai historis salah satu destinasi wisata yang ada di Kota Lumpia.

“Ini menjadi perhatian kita secara serius. Kalau menjadi warisan budaya dunia maka akan menjadi daya tarik wisatawan. Tidak hanya itu, Kota Lama juga terpromosikan ke seluruh dunia,” jelasnya.

Lokakarya tersebut, kata dia, membahas mengenai strategi pengurangan risiko bencana di tiga situs yang dipilih menjadi situs percontohan yaitu Kota Lama Semarang, Historic City of George Town di Malaysia dan Levuka Port Town di Fiji.

Kepala Unit Budaya Kantor Unesco Jakarta, Moe Chiba mengatakan, pentingnya lokakarya pengurangan risiko bencana ini lantaran kelestarian situs-situs cagar budaya seperti Kota Lama Semarang terancam oleh berbagai faktor. Di antaranya banjir, kebakaran, penurunan tanah, longsor, dan gempa bumi.

“Lokakarya ini bertujuan untuk memperkuat kelestarian kota bersejarah dari ancaman bencana. Kami sangat menghargai upaya yang dilakukan Pemkot Semarang dalam melestarikan cagar budayanya,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua BPK2L Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu menambahkan, lokakarya ini merupakan bentuk atensi dari Unesco. Selain itu, kegiatan ini merupakan satu rangkaian dalam proses menjadi warisan budaya dunia. Di sisi lain, saat ini BPK2L tengah menyusun draf dozzier untuk diajukan ke Unesco pada September mendatang. (tsa/zal)