Pernah Pameran Bersama dengan Affandi dan Dullah

S Utomo HS, Guru Ekstrakurikuler Seni Lukis SDIT Bina Amal Semarang

332
MELUKIS SAMPAI TUA: S Utomo HS dan beberapa koleksi lukisannnya di Kampung Pelangi, Semarang. (KAFIDATUL ISLAMIYAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MELUKIS SAMPAI TUA: S Utomo HS dan beberapa koleksi lukisannnya di Kampung Pelangi, Semarang. (KAFIDATUL ISLAMIYAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Sehari-hari S Utomo HS menjadi guru  ekstrakurikuler Seni Lukis SD Islam Terpadu Bina Amal Semarang. Di luar itu, ia adalah pelukis andal Semarang yang sudah menghasilkan ribuan karya.

KAFIDATUL ISLAMIYAH

SIANG kemarin, koran ini mengunjungi kediaman sekaligus workshop  S Utomo HS di Kampung Pelangi, Wonosari, Randusari, Semarang. Di rumahnya yang tidak terlalu besar dipenuhi lukisan karyanya. Beberapa lukisannya kerap diikutkan pameran di berbagai kota.

Kakek 69 tahun ini mengaku menyukai seni lukis sejak kecil. “Saya belajar melukis secara otodidak sejak kelas 5 SD, itupun dulu saya sering bolos sekolah karena ingin melihat pameran Affandi, pelukis idola saya,” kenang pria kelahiran Semarang, 19 Februari 1949 ini.

Menginjak usia 24 tahun, Utomo sempat menekuni lukis poster film. Ia menjalani pekerjaan itu sejak 1973 hingga 1991. “Dulu setiap gedung film memasang lukisan film yang diputar di atas kanvas maupun kain. Ada juga dalam poster kertas,” katanya.

Pada 1976, kakek berjenggot putih ini sempat mengajari para pelukis muda di Keluarga Sanggar Seni Rupa Semarang yang didirikannya. Hebatnya, ada 1987, Utomo  pernah mengikuti pameran  bersama dengan maestro pelukis Indonesia, Affandi dan Dullah dengan tema “Pameran Akbar Simbah dan Cucu –Cucu” di PRPP Semarang.

Di luar itu, Utomo kerap menggelar pameran bersama di sejumlah tempat. “Saya juga pernah ke Italia selama sebulan untuk mengikuti pameran mebel internasional,” kenangnya bangga.

Berkat kemampuannya melukis itu, kini banyak lukisannya dikoleksi warga di berbagai kota dan negara. Ia sendiri sebenarnya berat untuk melepaskan setiap lukisannya ke tangan orang lain.

“Ke depannya, jangan sampai ada kehancuran peninggalan nenek moyang, kita harus memperjuangkan penerus seni rupa. Seharusnya kita ajarkan dan kenalkan seni rupa atau lukisan pada generasi kita sejak SD,”ucap pria warga asli Jalan Tampomas Selatan III, Petompon, Gajahmungkur, Semarang ini.

Utomo sendiri tidak memasang tarif dasar untuk setiap lukisannya. Ia hanya memberikan tarif pada umumnya. Biasannya ia memberikan harga Rp 50 ribu untuk sketsa wajah. Harga itu untuk masyarakat yang awam akan dunia seni rupa. Sedangkan untuk sketsa wajah saat di pameran, bisa laku mulai Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu.

“Kalau pemesan dari para seniman, masalah tarif saya serahkan kepada yang bersangkutan. Karena saya yakin para seniman lebih mengerti dan mampu memberikan tarif yang cocok untuk lukisan saya,” tambah suami dari Sumarsih ini.

Meski usianya sudah tidak muda lagi, Utomo masih tetap eksis menekuni seni lukis. Ia pun berkeinginan untuk mendekorasi dan mengubah lukisan  Kampung Pelangi menjadi lukisan tiga dimensi. Utomo berharap dari pihak pemerintah sedikit membantu menyumbangkan cat untuk perbaikan lukisan di kampung wisata ini yang sudah memudar.

Utomo menjelaskan, untuk melukis yang bernilai seni membutuhkan konsentrasi dan kondisi hati yang baik. Apalagi menngunakan teknik melukis dengan cara akrilik yang cepat kering. Diakuinya, membuat lukisan dengan cat akrilik memiliki karakteristik sendiri yang unik dan tidak bisa dicapai menggunakan cat lukis lainnya.

“Aslinya melukis memang tidak semudah apa yang kita pikirkan, banyak sekali bahan yang dibutuhkan, mulai dari kanvas, cat akrilik berbagai warna, pensil, kuas, palet dan lain-lain,” katanya.

Saat ini, Utomo mengaku sedang menyiapkan beberapa lukisan yang akan dipamerkan pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2018 di Taman Budaya Raden Saleh Semarang, dan pada 1 Oktober 2018 mengikuti Pameran Budaya di Surabaya.

Selain melukis, Utomo juga sering dimintai bantuan untuk memberi motivasi, energi, dan penyembuhan orang sekitar. “Warga sekitar sering sekali meminta air energi kepada saya. Alhamdulillah saat ini saya dipercaya untuk menyembuhkan penyakit yang sekiranya saya mampu,” ujarnya. (*/aro)