Ubah Di Menjadi Me, Jangan Sebaliknya

448
Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Semarang
Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.COM – DUA hari lalu saya menerima pesan WA. Dari seorang kiai. Saya memanggilnya Yi Ahmadi. Dia kiai salaf. Kitab kuningnya banyak. Ke mana-mana memakai peci hitam. Saya pernah bertamu ke rumahnya. Kebetulan memasuki waktu salat maghrib. Beliau mengajak salat di masjid agak jauh dari rumahnya. Masjid itu peninggalan ayahnya. Saya dibawakan peci.

Saya senang terhadap kiai itu. Ilmu agamanya banyak dan mendalam. Dia juga gaul. Guyonannya mengalir. Main WA-nya kenceng. Kemarin dia mengunggah cara mengetahui kekuatan libido seks. Angkat salah satu kaki lima menit. Pegang paha bagian belakang. Bila kencang, itu tanda libido masih kuat. Bila lembek, kekuatan seks sudah melemah. Silakan dicoba. Banyak tanda lain. Terakhir disebutkan, itu cara mengetahui libido kambing jantan. Saya cekikian.

Pesan WA lainnya mengenai kepemimpinan. Saya kira pesan itu sudah viral.Sebelumnya saya sudah beberapa kali mendapatkan pesan serupa. Redaksinya berbeda tetapi isinya sama. Konsepnya sederhana. Ubah kalimat pasif menjadi aktif. Di menjadi me.

Mula-mula pesan itu tidak begitu saya perhatikan. Tetapi, ketika yang mengirim Yi Ahmadi, saya baca dengan serius. Selama ini Anda ingin dilayani, diberi, dihargai, didengarkan, diperhatikan, dihormati, dan di…di…di…yang lain? Kalau begitu hidup Anda cepat capek dan tua.Tidak semua orang mau melakukan itu untuk Anda.

Coba ubahlah di menjadi me. Sehingga menjadi melayani, memberi, menghargai, mendengarkan, memperhatikan, menghormati, dan me…me…me…yang lain. Maka Anda akan mendapatkan hal serupa. Dengan melayani sesungguhnya Anda sedang dilayani. Dengan memberi sesungguhnya Anda sedang menerima.

Saya tertarik konsep itu. Kebetulan saya memimpin dua perusahaan. Jawa Pos Radar Semarang dan Radar Kudus. Menurut pengalaman, konsep itu memang bagus. Apalagi bila dipraktikkan oleh semua orang. Hanya saja, penerapan dalam kepemimpinan harus pas. Jangan sampai menjadi bumerang. Justru membuat pasif anak buah atau orang yang dipimpin

Saya biasa mendatangi meja-meja manajer dan karyawan. Mengucap salam, menyapa, mengajak berbicara, menawari makan (Kalau kebetulan makan, hehehe), memberi ucapan selamat, memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya, dan me me yang lain. Saya mendatangi meja-meja mereka karena saya memang tidak punya ruang kerja. Saya bekerja bersama mereka.

Menjelang Lebaran lalu saya datangi rumah seluruh karyawan di 18 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Bahkan, persis di Hari Raya, ada karyawan yang saya kunjungi sebelum saya berkunjung ke keluarga saya sendiri.

Apa yang terjadi? Ada karyawan yang malah menjadi pasif. Dia menunggu me dari pimpinan dan dia justru menjadi di. Dia tidak menemui tapi menunggu ditemui, tidak mengucap salam tapi menunggu diberi salam, tidak menanyakan keadaan tapi menunggu ditanya keadaan, tidak memberi selamat tetapi menunggu diberi ucapan selamat, tidak melapor tapi menunggu dilapori, tidak mengajukan solusi tapi menunggu diberi solusi, dan tidak me me yang lain melainkan di di yang lain.

Suatu ketika saya harus mendatangi meja manajer untuk meminta maaf. Saat itu saya mendengar ada dua manajer yang mengatakan, untuk apa menemui direktur. Untuk apa meminta maaf. Toh tidak salah. Maka, saya berinisiatif untuk meminta maaf dan mengaku sayalah yang salah. Sudah begitu tidak membuat sikap manajer tersebut berubah.

Sekarang saya juga masih menghadapi kondisi seperti itu pada orang-orang tertentu. Saya masih mencari penyebabnya. Mungkin penerapan konsep saya yang salah. Saya ingin  berkonsultasi pada Yi Ahmadi.

Konsep me yang harus dilaksanakan pimpinan itu sebenarnya untuk menggugah kesadaran anak buah. Sehingga timbul inisiatif. Karena pimpinannya menemui, mereka menemui. Karena pimpinannya membantu, mereka membantu. Karena pimpinannya memperhatikan, mereka memperhatikan. Tidak sebaliknya, karyawan menunggu untuk ditemui, diberi salam, diajak bicara, diberi informasi, dibantu pemecahan persoalan, dan seterusnya.

Mengubah dia menjadi me sangat cocok untuk kepemimpinan masyarakat. Bupati, camat, dan lurah, harus melayani rakyatnya. Membantu warganya yang kesulitan. Menemui mereka dalam keadaan senang dan susah. Demikian juga aparatur pemerintah lainnya. Lebih-lebih para wakil rakyat yang sekarang lagi ancang-ancang untuk mencalonkan diri (lagi). Tujuannya untuk membangkitkan semangat dan partisipasi masyarakat.

Dalam organisasi apapun, pemerintahan, politik, perusahaan, sosial, rukun tetangga, klub hobi, dan seterusnya, partisipasi itu penting. Inilah yang akan membuat roda organisasi berjalan efektif. Apalagi bila partisipasi itu muncul dari hati. Hati itulah yang menggerakkan pikiran. Otak yang menggerakkan anggota badan. Mereka bertindak dengan ikhlas. Pimpinan bertindak. Karyawan bergerak. Tidak perlu diperintah.

Kiai Imam Fathoni ketika memberi tausiah di hadapan karyawan Radar Kudus Sabtu lalu memberi tiga panduan untuk bertindak. Di manapun agar menyandarkan diri pada Tuhan (bertaqwa), tutupi keburukan dengan kebaikan yang bisa menghapusnya, dan bertindaklah dengan hati (akhlak yang baik). Panduan itu dari hadist nabi. Bila ketiganya diterapkan, organisasi apapun akan berjalan efektif. Bila diterapkan di perusahaan, kemungkinan perusahaan itu meningkat pesat. (hq@jawapos.co.id)