Teknik P-6 Hidrokarbon Tingkatkan Berpikir Kritis dan Kreatif

209
Oleh: Dra Surti Rahayu
Oleh: Dra Surti Rahayu

RADARSEMARANG.COM – KOMPETENSI hidrokarbon dalam materi Minyak Bumi dan Dampak Pembakaran Produk Minyak Bumi pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Batang masih di bawah KKM, yaitu 74,50. Padahal batas ketuntasan minimal untuk kompetensi ini adalah 75,00. Hal ini karena siswa kurang berminat pada pembelajaran hidrokarbon. Mereka merasa kesulitan dalam merangkai kalimat untuk menyampaikan gagasan dalam merancang percobaan.

Pada umumnya, siswa belum mengetahui pokok-pokok yang harus disampaikan dalam kompetensi hidrokarbon. Siswa kurang memahami bahwa alam sekitarnya atau lingkungan sekitar sekolah dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Mereka kurang dapat menggali senyawa organik yang ada di sekitar lingkungan sekolah yang dapat dijadikan sumber energi alternatif.

Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam kompetensi hidrokarbon, perlu diterapkan Teknik Pembelajaran “P-6“. Yakni, Penugasan, Pengamatan, Pendataan, Pencatatan, Percobaan, dan Presentasi. Penerapan teknik pembelajaran P-6 dengan pendekatan SaLingTeMas atau sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat  melalui media pembuatan briket bioarang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa pada kompetensi hidrokarbon.

Dalam pembuatan briket bioarang dengan memanfaatkan tempurung kelapa yang dibakar hingga menjadi arang. Arang tempurung kelapa adalah produk yang diperoleh dari pembakaran tidak sempurna terhadap tempurung kelapa.

Sebagai bahan bakar, arang lebih menguntungkan dibanding kayu bakar. Arang memberikan kalor pembakaran yang lebih tinggi, dan asap yang lebih sedikit. Arang dapat ditumbuk, kemudian dikempa menjadi briket dalam berbagai macam bentuk. Briket bioarang lebih praktis penggunaannya dibanding kayu bakar. Arang dapat diolah lebih lanjut menjadi arang aktif, dan sebagai bahan pengisi dan pewarna pada industri karet dan plastik. (Ir. Oni Ekalinda)

Penulis menemukan bahwa hasil belajar siswa untuk kompetensi hidrokarbon dapat meningkat karena teknik P-6 dengan pendekatan SaLingTemas melalui media penjernihan minyak jlantah. Teknik ini juga dapat merangsang siswa untuk berpikir kritis dan kreatif dalam kompetensi hidrokarbon.

Teknik pembelajaran P-6 juga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, karena dengan P-6, siswa dapat melakukan eksplorasi serta mampu berpikir kritis dan kreatif. Selain itu, pembelajaran hidrokarbon juga dapat berlangsung lebih menarik, menyenangkan, dan tidak menjemukan.

Kemampuan berpikir kritis dan kreatif,  RH Ennis memberikan sebuah definisi, berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Dan kemampuan berpikir kreatif merupakan pola berpikir yang didasarkan pada suatu cara yang mendorong kita untuk menghasilkan produk yang kreatif (Hassoubah, 2004).

Dengan teknik P-6 dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar/kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa dalam hal ini hidrokarbon, khususnya pada siswa. Teknik P-6 lebih efektif digunakan sebagai teknik pembelajaran kompetensi hidrokarbon pada siswa SMA, karena lebih praktis dan dapat merangsang daya ingat siswa, sehingga dapat memperlancar keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa. (kpig2/aro)

Guru SMA Negeri 1 Batang (jatiyayuk@gmail.com)