RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Nekat melakukan pemerasan dan pengancaman terhadap Rendy Fajar Nurrahman, tiga terdakwa, Tanti Sri Wahyuningsih, Susanto bin Samsuri dan Novi Raharjo, melalui modus membuka situs Hornet (aplikasi khusus bagi penyuka sesama jenis/gay) terancam hukuman 9 tahun penjara dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

“Perbuatan para terdakwa diatur dan diancam pidana sebagaimana Pasal 368 ayat (2) KUHP. Akibat perbuatan yang dilakukan oleh para terdakwa mengakibatkan Rendy mengalami kerugian berupa 1 unit Laptop merk Asuz dan uang Rp 4,5 juta, dengan total mencapai Rp 7,8 juta,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang, yang menyidangkan kasusnya, Zahri Aeniwati, Minggu (22/7)

Dalam dakwaanya, Zahri menyebutkan, kejadian itu berawal saat para terdakwa berencana untuk mencari korban dengan membuka situs Hornet untuk terdakwa Novi Raharjo dengan mengajak berhubungan intim sesama jenis, selanjutnya menjebak korban seolah-olah telah ketahuan berhubungan intim dengan Novi di kamar kos yang ditempati para terdakwa tersebut.

Kemudian Novi Raharjo berkenalan dengan Rendy Fajar Nurrahman. Selanjutnya mereka melakukan pertemuan pada 4 April 2018, untuk berkencan kemudian sekitar pukul 21.45 WIB saksi Rendy Fajar memberitahu Novi Raharjo lewat percakapan via WA (whatsaaps), kalau sudah berada di POM Bensin Candisari Semarang.

Setelah itu Novi Raharjo menjemput Rendy Fajar untuk dibawa ke kosnya, sekira pukul 22.00 WIB. Keduanya sudah berada di dalam kamar. Kemudian Novi Raharjo keluar kamar dan memberi tahu kedua temannya yaitu Susanto dan Tanti Sri Wahyuningsih untuk segera masuk kamar.

Begitu masuk, Susanto dan Tanti Sri Wahyuningsih seolah-olah memarahi Rendy Fajar dan menakut-nakuti untuk dilaporkan ke penghuni kos lain, pemilik kos, pak RT serta warga sekitar, akhirnya Rendy merasa ketakutan.

“Kemudian Tanti Sri membuat perjanjian kesepakatan yang isinya meminta Rendy membayar Rp 5 juta, apabila dibayar dalam jangka waktu pukul 03.00 WIB sampai pukul 08.00 WIB, harus membayar Rp 7 juta,” jelas jaksa. (jks/zal)