Pendidikan Karakter Melalui Ziarah Kubur

203
 Oleh: Tarmujo SpdI
 Oleh: Tarmujo SpdI

RADARSEMARANG.COM – SUDAH menjadi hal yang lumrah masyarakat Indonesia melakukan kegiatan ziarah kubur terlebih pada momentum bulan suci ramadhan menjelang lebaran dan juga pada bulan-bulan tertentu yang dianggap oleh sebagian masyarakat Indonesia waktu yang tepat untuk melakukannya seperti pada bulan muharram atau yang disebut oleh masyarakat Jawa sebagai bulan Sura.

Di era sekarang ini banyak generasi muda yang lupa akan kultur budaya ziarah kubur yang sangat melakat pada masyarakat Jawa. Untuk mengenalkan dan membentuk karakter bangsa yang mampu bertahan hidup dengan memasukkan pembelajaran karakter melalui ziarah kubur. Ziarah kubur merupakan karakter bangsa Indonesia yang tetap lestari di bumi nusantara, ziarah kubur bukan sekedar menatangi pusara orang-orang sudah meninggal, akan tetapi lebih dari pada itu.

Tradisi ziarah kubur merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama, dan Yang Maha Kuasa atas segalanya. Ziarah kubur merupakan sebuah pola ritual yang mencampurkan budaya lokal dan nilai-nilai Islam, Ziarah kubur menjadi contoh akulturasi agama dan kearifan lokal.

Akulturasi budaya sangat terlihat nyata pada tradisi ziarah kubur yang dipraktekkan oleh masyarakat Jawa. Ziarah kubur yang dulu syarat dengan pemujaan roh kemudian diluruskan niatnya kepada yang Maha Esa oleh para ulama (walisongo). Tradisi ziarah kubur mampu menyatukan heterogenitas masyarakat Jawa. Tradisi yang kental akan nilai-nilai pluralitas dan menjadi watak masyarakatnya, selain nilai-nilai tersebut, masih banyak nilai-nilai agung yang terpendam dalam tradisi ziarah kubur. Nilai-nilai tersebut menjadi karakter bagi masyarakat Jawa. Karakter yang secara tidak disadari terintegrasi dalam jiwa generasi berikutnya.

Bagi penulis yang berkecimpung di dunia pendidikan dirasa perlu mengajarkan pentingnya ziarah kubur kepada peserta didiknya, ziarah kubur tidak sekadar ziarah ke makam leluhur, tetapi juga ada nilai-nilai sosial budaya, seperti budaya gotong-royong, guyub, pengorbanan, ekonomi. Nilai-nilai itu dipraktekan oleh masyarakat Jawa dari generasi ke generasi.

Ritual ziarah kubur memberi dampak yang sangat besar bagi masyarakat Jawa. Karakteristik kuat orang Jawa sangat tampak dalam ritual tahunan tersebut. Tradisi ziarah kubur selain bermakna ritualistik juga syarat akan pendidikan karakter. Dalam tradisi ziarah kubur terdapat proses penanaman dan pengembangan nilai-nilai dari seseorang kepada masyarakat, dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Ziarah kubur menjadi media internalisasi nilai-nilai agama dan budaya kepada masyarakat.

Ziarah kubur memiliki beberapa pendidikan yang tinggi, antara lain: pertama Religius. Religius maksudnya berhubungan dengan praktek ketuhanan. Nilai religius ini juga tampak sangat jelas dalam ritual ziarah kubur. Ritual yang dimaksudkan untuk mendoakan para leluhur. Doa merupakan unsur penting dalam pelaksanaan ritual ziarah kubur. Selain itu, ritual ziarah kubur merupakan pengeJawantahan dari nilai religius. Masyarakat Jawa menyadari betul bahwa setiap manusia akan kembali kepada yang Maha Esa.

Kedua,  syukur masyarakat Jawa seperti telah diketahui, merupakan masyarakat pemeluk agama dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Oleh karena itu, mempunyai kesadaran akan kewajibannya dalam melakukan pengabdian dan persembahan kepada-Nya. Salah satu bentuk persembahannya yaitu melalui laku syukur. Syukur atas segala karunia yang diberikan Tuhan kepadanya setiap waktu. Ziarah kubur merupakan perwujudan rasa syukur masyarakat Jawa kepada Tuhan Yang Maha Kaya. Masyarakat berduyun-duyun mensodaqohkan makanan atau jajanan kepada saat ziarah kubur. Tidak ada paksaan dalam laku ini. Masyarakat dengan suka-rela menyumbangkan sesuatu semampunya untuk orang lain. Ketiga,  gotong-royong (rukun) sikap rukun telah menjadi ciri yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Oleh karenanya ziarah kubur merupakan perwujudan dari laku rukun masyarakat Jawa. Keempat,  saling menghormati (Pluralisme) melalui laku ziarah kubur, nilai-nilai saling menghormati perbedaan ditanamkan kepada setiap generasi. Bisa disaksikan ketika ziarah kubur pada pusara orang-orang kharismatik seperti ziarah walisongo setiap rombongan atau kelompok memanjatkan ritual doa masing-masing akan tetapi mereka tidak saling menyalahkan. ziarah kubur bagi masyarakat Jawa merupakan perwujudan laku saling menghormati perbedaan atau pluralisme.

Ziarah kubur merupakan kearifan lokal masyarakat Jawa yang syarat nilai dan karakter luhur. Tradisi apapun bentuknya jika tidak dijaga dan dilestarikan akan hilang tergerus jaman. Jika bukan generasi muda tidak dikenalkan dari sekarang, lalu siapa lagi yang akan menjaga dan mengamalkan tradisi luhur para leluhur kita. Ajarkan kepada mereka dengan ziarah kubur yang mampu mengarah kepada ajaran rahmatan lil alamin. (kpig1/aro)

Guru Mapel Akidah Akhlak MTs Daarul Ishlah Bandar