Oleh: Anjar Setianingsih  SPd
Oleh: Anjar Setianingsih  SPd

RADARSEMARANG.COM – SEBAGAI makhluk sosial manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Memiliki rasa empati penting untuk menjadikan manusia lebih dekat dengan orang lain, menjadikan manusia lebih peduli dengan orang lain, menjadikan manusia lebih peduli  dengan orang lain disekitarnya hingga tak ada lagi kesenjangan yang terjadi antara satu orang dengan orang lain.

Namun seiring perkembangan zaman, empati seolah hilang tergerus oleh rasa individualisme yang semakin tinggi. Hilangnya rasa empati membuat orang tidak mempedulikan keadaan dan perasaan orang lain. Hilangnya empati lambat laun membuat dunia seolah kehilangan kedamaian dan ketenteraman.

Untuk itu sudah saatnya kita tingkatkan rasa empati kita dengan peduli terhadap sesama .Cara meningkatkan rasa empati dapat dilakukan pada proses pembelajaran di kelas. Empati yang di tumbuhkan pada proses pembelajaran akan mendatangkan manfaat yang besar baik untuk siswa maupun untuk sekolah.

Dari pengalaman penulis dalam melaksanakan pembelajaran IPA di MTs, untuk mempersiapkan siswa dalam mengukuti ujian nasional penulis mengalami kesulitan dalam memotivasi siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami terutama materi  fisika yang dalam soal hitungan. Mereka malu bertanya kepada guru ketika dilakukan diskusi secara klasikal, hal tersebut tentunya menjadi masalah yang harus segera diselesaikan. Sementara untuk siswa yang sudah faham sepertinya mereka cenderung tidak peduli dengan kesulitan temannya yang belum paham. Dari pengamatan penulis mereka yang sudah paham sepertinya tidak mau kalah dalam berkompetisi, sehingga temannya yang belum paham mereka anggap seperti lawan.

Ketidakpedulian tersebut harus segera di atasi agar tidak tercipta generasi ego tinggi. Langkah yang pernah dilakukan penulis untuk mengatasi masalah tersebut dengan menerapkan pembelajaran IPA terutama fisika yang soal hitungan melalui pembelajaran tutor sebaya. Penulis membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang masing- masing kelompok terdiri atas 4 siswa, salah satu dari anggota merupakan siswa yang mempunyai kemampuaan memahami materi yang lebih tinggi yang akan menjadi tutor  atau pembimbing  dalam kelompok.

Guru memberikan tambahan pelajaran diluar jam belajar di kelas untuk tutor dalam mempersiapkan kegiatan belajar di kelas, guru memberikan kesempatan siswa yang menjadi tutor untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami. Tetapi  perlu digaris bawahi bahwa tutor sebaya dilakukan pada saat proses pembelajara diskusi untuk memahami suatu materi, sehingga rasa empati antara siswa yang kemampuan memahami yang tinggi dapat membantu temannya dalam memahami materi yg sedang dipelajari.

Dari hasil pengamatan pembelajaran menggunakan metode tutor sebaya, penulis mendapatkan hasil dimana karena yang menjadi tutornya adalah teman seumur atau sebaya memungkinkan interaksi antar siswa lebih intensif. Karena dengan melihat temannya menjadi tutor maka menimbulkan rasa persaingan yang sehat dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan umur sebaya antara tutor dengan yang lain maka penerimaan pembelajaran akan lebuh dimengerti karena tutor sebaya akan menggunakan bahasa yang dapat dimengerti dan mudah dipahami antar siswa, sehingga siswa yang lain dapat menerima penjelasannya bahas teman sebaya lebih mudah dipahami dan teman yang tidak tahu lebih berani untuk bertanya maupun memberikan tanggapan, karena mereka teman sebaya bagaimana memilih siswa yang bisa menjadi tutor? Penulis memilih beberapa siswa yang memiliki nilai rata- rata IPA lebih tinggi dari temannya yang lain.

Tutor sebaya dapat mempererat hubungan antar siswa sehingga rasa empati dengan temannya dapat ditingkatkan, para siswa juga dapat lebih mandiri dan bersikap dewasa dan punya rasa setia kawan. Namun demikian ada beberapa kelemahan metode tutor sebaya dalam proses pembelajaran di antaranya, ada beberapa anggota kelompok cenderung menyepelekan tutor yang sedang menyampaikan materi, ada beberapa siswa yang dipilih menjadi tutor merasa tidak percaya diri ketika harus mengajari teman- temannya. Tetapi kelemahan tersebut dapat diminimalkan oleh guru sebagai pembimbing belajar siswa. (kpig2/aro)

Guru IPA MTs Negeri Batang