Oleh : Fatchul Achyar SPd 
Oleh : Fatchul Achyar SPd 

RADARSEMARANG.COM – BETAPA tidak mudah bagi sebagian siswa ketika harus menuliskan pengalaman liburan. Sebagian siswa yang selalu libur di rumah dan bermain di seputaran rumah biasanya menyebutkan diri tidak punya pengalaman. Sebagai guru saya tetap akan mempersilakan siswa yang selalu di rumah untuk menuliskan apapun yang dialaminya. Entah berkunjung ke rumah nenek, berlibur ke pantai, ke sawah atau di rumah membantu orangtua.

Dalam konteks libur di sekolah, pengalaman apapun mestinya bisa dituliskan. Pengalaman libur tidak sama dengan berkunjung ke tempat-tempat wisata. Anak-anak kita yang tinggal di rumah tentu merasakan betapa seharian penuh bersama keluarga akan berbeda dibandingkan dengan hari-hari di sekolah. Dalam pedagogi reflektif, pengalaman penting untuk direfleksikan, entah dengan cara dituliskan atau diceritakan secara lisan untuk berbagi di kelas.

Bayangkan pengalaman batin macam apa yang dialami anak-anak kita jika membaca pengalaman liburannya semacam ini. “Selama 15 hari aku di rumah. Aku melepaskan semua rinduku kepada keluargaku. Aku merasa kembali mendapatkan kebahagiaan yang telah lama tidak kurasakan. Hari-hari kulalui dengan keluargaku di rumah. Liburan kali ini aku memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana. Aku ingin membantu kedua orangtuaku bekerja. Setiap pagi aku membantu pekerjaan ibuku seperti menyapu rumah, cuci piring, mencuci pakaian dan lain-lain. Dan ketika sore tiba aku membantu pekerjaan ayahku.. ”

Menyapu atau mencuci piring bisa jadi telah diabaikan oleh anak-anak kita ketika hari-hari sekolah. Hanya dengan merasakan kembali segala kegiatan kecil yang luput dari perhatian akan memunculkan perasaan dan pengalaman yang mengesankan. Anak-anak kita diam-diam menyimpan kerinduan kepada orangtuanya. Mereka rindu untuk disapa rindu untuk sekadar dibelai, atau rindu untuk sekadar merasakan sebagai anak di rumah tidak lebih dari itu.

Dewey (2002) mengingatkan bahwa tidak semua pengalaman sungguh-sungguh atau sama-sama bersifat edukatif. Pengalaman dan pendidikan tidak dapat disamakan begitu saja. Pengalaman akan bersifat salah didik kalau berdampak mencatatkan proses pertumbuhan. Misalnya, sebuah pengalaman bisa menimbulkan sifat bebal atau tidak berperasaan, dapat menimbulkan kekurang pekaan dan sikap kurang tanggap.

Catatan Dawey tersebut kiranya tidak membatasi anak-anak kita untuk memperoleh pengalaman yang kurang menyenangkan. Pengalaman yang menyenangkan dan kurang menyenangkan tetaplah penting untuk pertumbuhan jiwa, tentu saja semua pengalaman tersebut perlu diolah lewat refleksi. Di sinilah pentingnya para guru membantu siswa merefleksikan setiap pengalamannya para orangtua yang telah memberikan berbagai kesan selama liburan kepada anak-anaknya pasti akan memperoleh peneguhan di kelas.

Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang sederhana jauh dari kebiasaan berwisata ketika liburan, tentunya juga dibantu untuk mencermati pengalaman keseharian yang tampaknya sepele, menjadi refleksi yang berharga dan patut disyukuri.

Jadi baik atau kurang baiknya sebuah pengalaman bukan terletak pada pengalamannya, tetapi terletak pada mata hati dan cara pandang terhadap setiap pengalaman. Berharga atau kurang berharga bukan pada mahal atau murahnya biaya yang dikeluarkan, tetapi sejauh mana mampu mengambil manfaat dari setiap pengalaman. Dan, anak-anak kita perlu dibantu untuk mengolah setiap pengalaman hidupnya. (kpig1/aro)

Guru Biologi MA NU 01 Banyuputih