33 C
Semarang
Jumat, 29 Mei 2020

Kendala Siswa dalam Pembelajaran Kooperatif Make a Match

Another

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi,...

RADARSEMARANG.COM – PADA hari itu siswa kelas XI Program IPS dengan antusiasnya melaksanakan pembelajaran geografi di kelas. Mengapa mereka antusias? Selain materi yang cukup menarik, model pembelajaran yang digunakan saat itu adalah cooperative learning tipe Make a Match. Salah satu model pembelajaran yang mereka sukai.  Seperti biasa setelah pembelajaran selesai , sebelum ditutup guru menanyakan kepada siswanya, bagaimana anak-anak pembelajaran hari ini? Mereka dengan serentak menjawab; menyenangkan bu, kami tidak bosan dan tidak merasa jenuh.

Memang, model pembelajaran Make a Match merupakan pembelajaran aktif yang dapat menghilangkan kejenuhan terhadap suatu mata pelajaran serta dapat menimbulkan kegembiraan, menyenangkan, dan memotivasi belajar siswa, sehingga sangat berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa. Harapannya, dengan pembelajaran yang menyenangkan akan berdampak positif terhadap nilai yang dicapai. Namun pada kenyataannya, masih jauh dari harapan. Mengapa demikian? Kendala siswa menjadi salah satu faktornya.

Model pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang menekankan adanya kerja sama antarsiswa dengan kelompoknya untuk mencapai tujuan bersama. Falsafah yang mendasari model pembelajaran kooperatif dalam pendidikan adalah falsafah homo homini socius , falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial (Anita Lie, 2003:28 ).

Model Make A Match merupakan salah satu bagian dari pembelajaran kooperatif yang dalam proses pelaksanaannya dilakukan secara bersama (kelompok). Salah satu keunggulan dari teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik, dalam situasi yang menyenangkan  (Rusman, 2010: 223 ).Penggunaan model pembelajaran berpasangan memberikan pengalaman sosial kepada siswa. Pengalaman belajar dengan model ini akan lebih bermanfaat dan memberi peluang kepada siswa untuk berinteraksi satu sama lain dalam kelompoknya masing-masing. Siswa dapat saling bertanya, menjawab, berkomentar, dan mendemonstrasikan konsep atau pengetahuan yang diperoleh dengan siswa lainnya. Tujuan dari model pembelajaran Make a Match adalah pendalaman materi, penggalian materi, dan edutainment.

Namun ada beberapa kekurangan dari model pembelajaran Make a Match, yaitu memerlukan waktu lama untuk menerapkannya, serta bagi siswa yang terbiasa menggunakan model konvensional dapat kewalahan dan mengalami kebingungan, sehingga guru harus bisa menfasilitasi siswa dalam setiap pembelajaran dan lebih sering menggunakan model ini supaya siswa terbiasa belajar mandiri, dan aktif dalam proses belajar.

Proses pembentukan konsep atau konstruksi konsep baru dalam model pembelajaran Make a Match dapat menemui hambatan terutama yang dialami oleh siswa. Kendala tersebut dialami siswa dalam empat tahapan kegiatan utama meliputi: Pertama, kendala dalam persiapan materi, yaitu pencarian dan pemanfaatan sumber belajar pada siswa belum maksimal, keterbatasan buku sumber belajar dan kurang seriusnya siswa dalam membaca materi.

Kedua, kendala dalam pemahaman konsep, yaitu keterbatasan siswa dalam merumuskan dan mendeskripsikan konsep dengan baik, siswa hanya mampu mengumpulkan data, dan menjawab konsep yang terkait hanya dari satu buku sumber belajar. Ketiga, kendala dalam memadukan konsep, yaitu pada saat mengidentifikasi, mengorganisasi dan menghubungkan konsep baru siswa mengalami kesulitan dalam mencocokkan konsep secara sinkron serta pada saat mengontraskan dan mengevaluasi sebagian besar siswa tidak dapat memilih konsep secara tepat dan benar, masih banyak kesalahan yang ditemui.

Keempat, kendala pengembangan konsep, yaitu pada saat menglarifikasi dan menafsirkan konsep baru siswa sangat pasif. Pasalnya sebagian besar siswa hanya menjelaskan konsep baru dengan menjiplak bahasa yang sama persis dengan buku, sehingga konsep baru tidak terbentuk secara inovasi.

Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, maka hendaknya siswa dilatih untuk aktif dalam mencari berbagai referensi seperti modul, jurnal, ataupun referensi lainnya dari internet, sehingga pengetahuan siswa lebih banyak. Kebijakan dari pihak sekolah untuk menyediakan fasilitas akses internet, penggunaan HP bagi siswa dalam kondisi tertentu dapat dilakukan dalam proses pembelajaran untuk mendukung pencarian referensi.

Siswa juga  dilatih berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, mampu menjelaskan dengan sudut pandang siswa sendiri tidak harus sama persis dengan buku teks  dan percaya diri dalam mengungkapkan ide. Setiap siswa harus mempunyai peranan yang aktif dalam menafsirkan konsep. (kpig1/aro)

Guru MA Negeri Batang

Latest News

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski...

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi sering sungkan minta sangu kepada...

More Articles Like This

Must Read

Bangun Koneksitas Wujudkan Smart City dan Smart Villages

RADARSEMARANG.COM - Wujud nyata komitmen PT Telkom Divisi Regional IV Jateng-DIY dalam mengimplementasikan kota pintar alias smart city, sangat besar. Berbagai program dilaksanakan untuk...

Okupansi Hotel Capai 100 Persen

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Moment perayaan pergantian tahun menjadi berkah bagi para pelaku usaha perhotelan. Okupansi hotel bakal mencapai 100 persen di penghujung tahun 2017,...

Bertahan di Harga Lama

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Meski harga sebagian material bangunan mulai meningkat, sejumlah pengembang masih bertahan dengan harga lama. Sebagian masih melihat perkembangan, baik harga tanah...

Unika dan BCA Hadir di BSB

SEMARANG - Universitas Katolik Soegiyopranoto dan Bank BCA akan segera hadir di kawasan perumahan Bukit Semarang Baru (BSB) City. Kehadiran Unika dan Bank BCA...

Warga Permasalahkan Pengerukan Lahan Bengkok

DEMAK - Ratusan warga Desa Kalisari, Kecamatan Sayung kemarin (5/9) mendatangi Pemkab Demak. Dengan menaiki kendaraan bak terbuka, mereka berunjukrasa memprotes pemerintah desa setempat...

Cerdas dalam Bidang Seni

RADARSEMARANG.COM - SERINGKALI orang tua selalu mendorong anak agar dapat mencapai nilai akademik tertinggi. Anak baru dirasa ‘pintar’ bila pelajaran matematikanya mendapat nilai A...