Oleh : Zinati Jumah SPd
Oleh : Zinati Jumah SPd

RADARSEMARANG.COM – PADA hari itu siswa kelas XI Program IPS dengan antusiasnya melaksanakan pembelajaran geografi di kelas. Mengapa mereka antusias? Selain materi yang cukup menarik, model pembelajaran yang digunakan saat itu adalah cooperative learning tipe Make a Match. Salah satu model pembelajaran yang mereka sukai.  Seperti biasa setelah pembelajaran selesai , sebelum ditutup guru menanyakan kepada siswanya, bagaimana anak-anak pembelajaran hari ini? Mereka dengan serentak menjawab; menyenangkan bu, kami tidak bosan dan tidak merasa jenuh.

Memang, model pembelajaran Make a Match merupakan pembelajaran aktif yang dapat menghilangkan kejenuhan terhadap suatu mata pelajaran serta dapat menimbulkan kegembiraan, menyenangkan, dan memotivasi belajar siswa, sehingga sangat berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa. Harapannya, dengan pembelajaran yang menyenangkan akan berdampak positif terhadap nilai yang dicapai. Namun pada kenyataannya, masih jauh dari harapan. Mengapa demikian? Kendala siswa menjadi salah satu faktornya.

Model pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang menekankan adanya kerja sama antarsiswa dengan kelompoknya untuk mencapai tujuan bersama. Falsafah yang mendasari model pembelajaran kooperatif dalam pendidikan adalah falsafah homo homini socius , falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial (Anita Lie, 2003:28 ).

Model Make A Match merupakan salah satu bagian dari pembelajaran kooperatif yang dalam proses pelaksanaannya dilakukan secara bersama (kelompok). Salah satu keunggulan dari teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik, dalam situasi yang menyenangkan  (Rusman, 2010: 223 ).Penggunaan model pembelajaran berpasangan memberikan pengalaman sosial kepada siswa. Pengalaman belajar dengan model ini akan lebih bermanfaat dan memberi peluang kepada siswa untuk berinteraksi satu sama lain dalam kelompoknya masing-masing. Siswa dapat saling bertanya, menjawab, berkomentar, dan mendemonstrasikan konsep atau pengetahuan yang diperoleh dengan siswa lainnya. Tujuan dari model pembelajaran Make a Match adalah pendalaman materi, penggalian materi, dan edutainment.

Namun ada beberapa kekurangan dari model pembelajaran Make a Match, yaitu memerlukan waktu lama untuk menerapkannya, serta bagi siswa yang terbiasa menggunakan model konvensional dapat kewalahan dan mengalami kebingungan, sehingga guru harus bisa menfasilitasi siswa dalam setiap pembelajaran dan lebih sering menggunakan model ini supaya siswa terbiasa belajar mandiri, dan aktif dalam proses belajar.

Proses pembentukan konsep atau konstruksi konsep baru dalam model pembelajaran Make a Match dapat menemui hambatan terutama yang dialami oleh siswa. Kendala tersebut dialami siswa dalam empat tahapan kegiatan utama meliputi: Pertama, kendala dalam persiapan materi, yaitu pencarian dan pemanfaatan sumber belajar pada siswa belum maksimal, keterbatasan buku sumber belajar dan kurang seriusnya siswa dalam membaca materi.

Kedua, kendala dalam pemahaman konsep, yaitu keterbatasan siswa dalam merumuskan dan mendeskripsikan konsep dengan baik, siswa hanya mampu mengumpulkan data, dan menjawab konsep yang terkait hanya dari satu buku sumber belajar. Ketiga, kendala dalam memadukan konsep, yaitu pada saat mengidentifikasi, mengorganisasi dan menghubungkan konsep baru siswa mengalami kesulitan dalam mencocokkan konsep secara sinkron serta pada saat mengontraskan dan mengevaluasi sebagian besar siswa tidak dapat memilih konsep secara tepat dan benar, masih banyak kesalahan yang ditemui.

Keempat, kendala pengembangan konsep, yaitu pada saat menglarifikasi dan menafsirkan konsep baru siswa sangat pasif. Pasalnya sebagian besar siswa hanya menjelaskan konsep baru dengan menjiplak bahasa yang sama persis dengan buku, sehingga konsep baru tidak terbentuk secara inovasi.

Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, maka hendaknya siswa dilatih untuk aktif dalam mencari berbagai referensi seperti modul, jurnal, ataupun referensi lainnya dari internet, sehingga pengetahuan siswa lebih banyak. Kebijakan dari pihak sekolah untuk menyediakan fasilitas akses internet, penggunaan HP bagi siswa dalam kondisi tertentu dapat dilakukan dalam proses pembelajaran untuk mendukung pencarian referensi.

Siswa juga  dilatih berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, mampu menjelaskan dengan sudut pandang siswa sendiri tidak harus sama persis dengan buku teks  dan percaya diri dalam mengungkapkan ide. Setiap siswa harus mempunyai peranan yang aktif dalam menafsirkan konsep. (kpig1/aro)

Guru MA Negeri Batang