Case Study Ajarkan Pendidikan Antikorupsi Siswa

188
Oleh: Endon Nurcahyati SPd
Oleh: Endon Nurcahyati SPd

RADARSEMARANG.COM – MUDAHNYA mengakses berita melalui media online maupun media sosial (medsos) sekarang ini, membuat kita semakin gampang mendapatkan informasi, baik yang jujur maupun kebohongan (hoaks). Termasuk berita kasus-kasus korupsi. Selama ini, berita korupsi mendapat tempat yang sama dalam media tersebut, bahkan sangat ramai. Yang membuat miris, ketika kasus tersebut berupa operasi tangkap tangan (OTT) terhadap tokoh maupun pejabat pemerintahan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal ini tidak luput dari contoh profil buruk yang bisa jadi akan dilanjutkan oleh generasi mendatang.

Namun tidak usah terlalu jauh dari berita kasus korupsi pejabat yang marak di medsos, ternyata kegiatan korupsi rupanya kerap dilakukan oleh para siswa dan guru secara tidak sadar. Misalnya, untuk memperoleh nilai yang baik melalui jalan pintas, yakni mencontek dan guru membiarkannya. Juga perilaku senang jika pulang lebih awal, berbohong, melanggar aturan sekolah, membolos, terlambat masuk sekolah atau jam pelajaran kosong.  Apabila praktik ini sudah tertanam, maka bisa jadi sosok anak akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang selalu membohongi dirinya sendiri.

Seperti kita ketahui, siswa SMA dan sederajat  berada dalam tahap perkembangan remaja pertengahan, di mana perkembangan intelektualnya menurut Piaget berada pada tahap formal operations. Yakni, saat di mana siswa memiliki kemampuan berpikir abstrak dengan berpikir hipotesis, mereka mampu membayangkan berbagai kemungkinan penyelesaian masalah. Aplikasi dan pola pembiasaan perilaku juga mulai dimunculkan tumbuhnya perilaku perlawanan terhadap korupsi yang mendorong siswa untuk menjadi penggerak dan pelopor antikorupsi di lingkungannya.

Nah, untuk mengajarkan pendidikan antikorupsi di SMA, bisa digunakan metode pembelajaran studi kasus (case study). Model pembelajaran ini dapat disajikan secara lisan, tertulis, dramatisasi (role play), film/audio-visual maupun kaset (audio). Metode ini lebih bersifat komprehensif dibandingkan dengan latihan-latihan praktis.

Studi kasus bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan menganalisa masalah, membahas masalah dalam konteks yang lebih spesifik, mendorong untuk mengemukakan sikap-sikap mereka, menerapkan pengambilan keputusan dalam kelompok dan sekaligus memampukan bekerjasama. (dikutip dari modul pendidikan antikorupsi SMA/MA)

Penulis optimistis bahwa penanaman nilai-nilai luhur dapat diperkenalkan sejak dini melalui penyisipan mata pelajaran ekonomi khususnya, dan mata pelajaran lainnya pada umumnya, tanpa membuat mata pelajaran khusus antikorupsi.

Setiap guru bisa menyisisipkan 9 nilai-nilai luhur yang membentuk karakter antikorupsi dalam setiap mata pelajaran. Meliputi jujur, disiplin, tanggungjawab, kerja keras, berani, mandiri, sederhana, adil dan peduli. Nilai-nilai luhur itu wajib kita tanamkan sejak dini agar generasi yang akan datang terbebas dari korupsi dan lebih baik tentunya. Semoga. (kpig1/aro)

Guru MA NU 01 Banyuputih Batang