Belajar Alquran Hadits Asyik dengan Permainan Kartu

129
Oleh: Mutmainah SAg
Oleh: Mutmainah SAg

RADARSEMARANG.COM – MANUSIA adalah makhluk berbudaya yang dinamis. Salah satu wujud kebudayaan manusia yang dinamis dan senantiasa syarat dengan perkembangan adalah bidang pendidikan. Karena itu, perubahan serta perkembangan pendidikan adalah sebuah keniscayaan yang terjadi seiring dengan perubahan budaya manusia itu sendiri. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan terhadap berbagai sektor pendidikan ke arah yang lebih baik sebagai langkah antisipatif terhadap kebutuhan di masa mendatang

Berbicara tentang pendidikan tentu tidak akan dapat dipisahkan dari pembahasan terhadap komponen yang melekat dengan pendidikan itu sendiri, yakni kurikulum, guru dan siswa. Karena ketiga komponen tersebut saling terkait satu sama lain dalam membentuk sebuah proses pembelajaran yang optimal.

Sebuah studi menyebutkan bahwa proses pembelajaran di tingkat MTs menunjukkan hasil yang kurang memuaskan, meskipun tidak dipungkiri bahwa mutu pendidikan telah mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Selama ini, pembelajaran di tingkat MTs cenderung text book oriented dan terkait dengan kehidupan sehari-hari siswa. Sehingga konsep-konsep akademik kurang bisa dipahami dengan baik.

Di sisi lain, kebanyakan guru dalam mengajar masih kurang memperhatikan kemampuan berpikir siswa, atau dengan kata lain tidak melakukan pengajaran bermakna. Hal ini tentu saja sangat bertolak belakang dengan peran dan posisi guru sebagai salah satu pilar penentu suksesnya sebuah pembelajaran.

Mencermati keadaan tersebut di atas, maka perlu adanya sebuah perubahan dan pembaharuan, inovasi, ataupun gerakan perubahan mindset ke arah pencapaian tujuan pendidikan pada umumnya, dan khususnya tujuan pembelajaran. Salah satu langkah konkrit yang dapat ditempuh untuk merealisasikan perubahan tersebut adalah itikad baik dari para guru untuk mengatur dan memberdayakan berbagai variabel pembelajaran yang merupakan bagian terpenting dalam mencapai tujuan yang diharapkan.

Sejalan dengan paparan tersebut di atas, maka ketepatan dalam memilih metode, strategi, dan pendekatan dalam mendesain model pembelajaran yang berguna dalam menciptakan iklim belajar PAKEM harus senantiasa diupayakan oleh seorang guru. Satu hal yang penting untuk disadari, bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling baik, atau sebuah model pembelajaran lebih baik dari model pembelajaran yang lain. Baik tidaknya sebuah model pembelajaran, atau ketepatan pemilihan sebuah model pembelajaran akan sangat tergantung pada tujuan pembelajaran, kesesuaian dengan materi yang hendak disampaikan, perkembangan peserta didik, dan juga kemampuan guru itu sendiri dalam mengelola dan memberdayakan semua sumber belajar yang ada.

Dalam artikel ini, penulis akan mengulas pembelajaran mapel Alquran hadits kelas VII A MTs Negeri Batang dengan metode permainan kartu yang dibuat siswa dengan kompetensi dasar memahami isi kandungan q.s Al-fatikhah tentang keesaan Allah.

Langkah-langkah pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut: pertama, guru membagi kelompok, dengan masing-masing kelompok berjumlah 6 siswa. Kedua, masing-masing kelompok membuat guntingan kertas asturo dan menulis lafadz q.s Al-fatikhah beserta artinya.

Ketiga, seluruh kartu dikocok agar bercampur antara lafadz arab dengan artinya. Secara bergiliran masing-masing kelompok ke depan kelas untuk mencari pasangan antara siswa yang memegang kartu lafadz arab dengan yang memegang arti dari lafadz arabnya.

Keempat, setelah masing-masing kartu lafadz arab dengan kartu arti sudah saling berpasangan, siswa diperintahkan untuk menempelkan hasilnya di kertas manila. Kelima, perintahkan salah satu siswa untuk mempresentasikan materi yang sudah dipraktikkan yakni memasangkan lafadz q.s Al-fatikhah beserta artinya, Kemudian mintalah komentar dari masing-masing kelompok, berikan apresiasi setiap hasil kerja kelompok. Keenam, guru menyimpulkan materi yang sudah dipresentasikan masing-masing kelompok dan melakukan tindak lanjut.

Ternyata dengan pembelajaran seperti di atas peserta didik bisa menciptakan suasana kelas lebih hidup, lebih menyenangkan, tidak membosankan, perhatian siswa lebih fokus, lebih menciptakan suasana kekompakan dan kerja sama yang mengasyikkan, serta mendapatkan hasil yang cukup memuaskan. (kpig1/aro)

Guru Alquran Hadist MTs Negeri Batang