Tiga Kunci Memimpin Perguruan Tinggi

Ir Eko Muh Widodo MT, Rektor Universitas Muhammadiyah Magelang

76

RADARSEMARANG.COM Dua periode memimpin perguruan tinggi swasta terbesar di Magelang, bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan komitmen dan tanggung jawab yang besar. Ir Eko Muh Widodo MT mengemban amanat itu dengan sepenuh hati. Hasilnya, kini Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang menjadi salah satu perguruan tinggi terdepan dengan capaian prestasi yang membanggakan.

TAHUN 2012 Eko Muh Widodo diangkat sebagai Rektor UM Magelang hingga 2016. Selama itu banyak kemajuan pesat dicapai perguruan tinggi di bawah naungan Muhammadiyah tersebut. Eko membawa UM Magelang memiliki jaringan luas dan bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di luar negeri. Dan kembali 2016 hingga 2020 ayah dua putri itu mendapat amanah menakhodai UM Magelang. Tantangan ke depan yang semakin berat justru membuatnya terpacu untuk terus berinovasi.

Pada masa jabatan pertama tahun 2012 hingga 2016, ada empat landasan yang dilakukannya Yakni pengembangan insfrastruktur, penguatan kelembagaan, pengembangan program studi serta penyempurnaan tata kelola.

Baca Juga: Traveling, Kuliner dan Komunikasi Intens

“Pada periode ini (2016-2020) kami mengembangkan landasan berikutnya. Yaitu peningkatan kualitas kelembagaan, penyempurnaan insfrastruktur, kualitas layanan kemahasiswaan, serta peningkatan kesejahteraan pegawai UMMagelang,” papar dosen yang menamatkan S2 di Prodi Teknik Industri Institut Teknologi Surabaya itu.

Lanjut dia, landasan lain adalah peningkatan kualitas akademik. Termasuk kurikulum, pendidikan dan pengajaran, penelitian serta pengabdian masyarakat. Pengingkatan kualitas dan prestasi mahasiswa termasuk PKM. Peningkatan kualitas dakwah dan layanan umat dengan pembangunan masjid kampus

Untuk mencapai target tersebut, suami dari Sri Wulan Ambarwati ini mengaku memiliki tiga kunci dalam membawa perguruan tinggi yang dipimpinnya lebih maju. Yakni kebersamaan, saling percaya dan kerja keras kerja iklas kerja cerdas.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Kebersamaan ini menjadi kunci. Bersama-sama dengan civitas akademika memajukan universitas dengan tugas dan bidang masing-masing. Kebersamaan itu dipupuk dengan saling percaya. Kalau tidak ada kepercayaan, tidak akan bisa maju,” tandas ayah dari Alvin Firdausy Widowati dan Jihan Azzahra Widowati itu.

Lanjut dia, bekerja keras juga harus disertai cara-cara cerdas dan dilandasi keiklasan sehingga hasilnya lebih optimal. Dia juga merangkul semua kalangan agar kemajuan kampusnya terus meningkat. Termasuk dengan mahasiswa, Eko, tidak membuat jarak. Masukan dari mahasiswa maupun civitas akademika yang bertujuan untuk membangun diterima dengan tangan terbuka.

Kini, berkat kerja kerasnya, universitas yang dipimpinnya terus berkembang. Menebarkan jejaring kemitraan dengan berbagai perguruan tinggi di Asia, Eropa dan Australia. Kemitraan dengan perguruan tinggi di luar negeri itu untuk meningkatkan kapasitas para tenaga pengajar juga untuk kepentingan penelitian. Tidak sedikit tenaga pengajar UM Magelang yang menimba ilmu di perguruan tinggi luar negeri.

Kini, dari sekitar 180 tenaga pengajar, sudah belasan yang bergelar doktor, bahkan UM Magelang sudah memiliki pengajar bertitel profesor. Dengan sumber daya manusia (SDM) yang qualified diharapkan semakin meningkatkan kredibilitas universitas.

Tahun 2018 ini, dari program kreativitas mahasiswa (PKM), sebanyak 41 proposal PKM lolos Kemenristek Dikti. Dengan jumlah tersebut UM Magelang menempati ranking 2 PTS Kopertis Jawa Tengah, ranking 3 PTS seluruh Indonesia, dan ranking 24 PTN PTS seluruh Indonesia. Tahun 2017, UM Magelang masuk 100 besar daftar perguruan tinggi Indonesia nonpoliteknik. Tahun yang sama peringkat 8 PTS terbaik di Jateng dan 40 besar terbaik nasional pengabdian masyarakat.

Sekitar 5000-an mahasiswa yang aktif, berasal dari berbagai kota di Indonesia. “Mahasiswa kami tidak hanya sekitar Magelang maupun Jawa Tengah. Tetapi dari Aceh hingga Papua ada,” imbuhnya.

Era globalisasi sudah berjalan menuju revolusi industri 4.0. Menjawab tantangan ini, pihaknya sudah menyiapkan diri. Menyiapkan sumber daya manusia baik tenaga pengajar, mahasiswa maupun perangkatnya agar mampu berdaya saing.

Sebab era industri 4.0 akan menimbulkan perubahan pada karakter pekerjaan. Era ini teknologi informasi menjadi basis dalam kehidupan manusia. Dunia kerja di era revolusi industri 4.0 merupakan integrasi pemanfaatan internet dengan lini produksi di dunia industri yang memanfaatkan kecanggihan teknologi dan informasi.

“Harus mengubah mindset mahasiswa ke era industri 4.0. Industri yang akan banyak berkembang berbasis digital. Maka akan berdampak terciptanya jabatan dan keterampilan kerja yang baru,” papar pria kelahiran 13 September 1965.

Untuk itu, lulusan UM Magelang harus memiliki keterampilan dan kompetensi mumpuni sehingga terserap oleh pasar kerja. Menurutnya, kualitas SDM harus sesuai dengan kebutuhan pasar kerja yang sudah berbasis digital. (lis.retno.wibowo)