Oleh: Sri Kustanti SPd
Oleh: Sri Kustanti SPd

RADARSEMARANG.COM – Wayang? Apa itu? Hari gini nonton wayang? Terkadang kita mendengar ucapan demikian dari siswa yang dalam bahasa gaulnya anak zaman now he… he… he… Mereka melihat saja belum pernah, apalagi tahu ceritanya. “Kuno, bu. Enakan nonton drakor, lebih asyik dan tokohnya cakep-cakep,” kata mereka.

Berbagai macam alasan yang dikemukakan oleh siswa bila ditanya tentang wayang. Padahal bila mereka memahami isi ceritanya, akan sangat berrmanfaat sekali untuk kehidupan mereka. Untunglah dalam pelajaran bahasa Jawa di kelas X semester genap, KD 2 dikenalkan wayang. Di sini siswa diajak untuk melihat, memahami, dan pada akhirnya harapannya mencintai wayang. Kenapa? Karena wayang merupakan salah satu warisan nenek moyang kita dan merupakan salah satu dari budaya kita yang sudah diakui dunia dan ditetapkan menjadi salah satu warisan dunia yang dilindungi.

Pada kelas X, KD 2 semester genap ini, yang dikenalkan adalah salah satu tokoh dari Pandawa yaitu Bima atau Bima Suci atau Werkudara atau Bratasena. Putra kedua dari Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Kunthi. Dari awal kehidupannya yang berwujud bungkus. Yang merupakan salah satu cobaan yang diberikan Sang Hyang Widhi kepada Prabu Pandu. Tidak ada satu senjata pun yang mampu menembus ataupun membuka bungkusan tersebut. Atas petunjuk Dewa, Sang Bungkus dibuang ke hutan Krendhawahana. Dalam wujud bungkusnya selama bertahun-tahun inilah yang nantinya menjadikannya seorang satria utama dan mendapatkan wahyu jati. Hal ini mengajarkan kita tentang kesabaran dalam hidup. Tidak semua apa yang kita inginkan terlaksana tanpa adanya usaha.

Dewi Umayi atas perintah Bathara Guru melatih ilmu tentang keutamaan pada si bungkus, dengan cara masuk ke dalam si bungkus. Setelah selesai memberikan ajarannya, Dewi Umayi memberikan busana berupa cawat yang berwarna merah, hitam, kuning, putih, yang merupakan simbol dari kehidupan. Kemudian pupuk, sumping, gelang, porong, dan kuku pancanaka.

Setelah itu Gajahsena atas perintah sang ayah yaitu Bathara Guru memecah bungkus tersebut. Pecahnya bungkusan tersebut maka bertemulah keduanya hingga terjadilah pertempuran. Dibantingnya Gajahsena, sirna wujudnya. Roh dan kekuatannya merasuk ke dalam badan si bungkus. Turunlah Bathara Narada dan menjelaskan bahwa dia merupakan putra dari Prabu Pandu Dewanata. Sang satria utama dan diberi nama Bratasena.

Dari cerita ini mengajarkan pada kita bahwa segala usaha akan membuahkan hasil yang memuaskan pada waktunya. Begitu pula pada siswa, sekarang merasakan pahit manisnya mencari ilmu. Bertemu dengan teman dan pelajaran yang mungkin dirasa sulit. Tetapi dengan kemauan, keuletan, dan tekad yang kuat, maka akan menghasilkan apa yang diinginkan di masa depan.

Terkadang siswa dalam menerima pelajaran, mengerjakan tugas, praktik, dan yang lainnya merasa sungkan. Mereka tidak sabar, inginnya semua serba cepat dan instan. Tugas tinggal mengunduh di internet, dan ini bila dipahami akan sangat merugikan mereka sendiri.

Bagaimana tidak? Apabila tugas dan praktek tersebut dimunculkan dalam soal ujian, mereka tidak akan bisa mengerjakan. Pada akhirnya mencari jawaban dengan bertanya ke sana kemari. Memang untuk memahami suatu pelajaran dibutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Apabila bisa dijalani akan mendapatkan hasil yang memuaskan.

Hal inilah yang bisa diambil dari menonton wayang. Menonton dengan durasi yang lama dan memakan waktu ini merupakan salah satu dari berlatih bersabar. Cerita yang disampaikan oleh para tokoh dalam ceritanya memberikan suatu pelajaran hidup dan kesabaran serta kebijaksanaan. Ini yang harus kita ambil dan bisa kita terapkan dalam kehidupan. Jadi bagaimana? Apakah kalian sudah mau menonton wayang? (tj3/2)

Guru Bahasa Jawa SMA Negeri 1 Kota Tegal