BERJUBEL : Beranekaragam souvenir untuk peziarah dijajakan kios-kios pedagang di lorong Makam Sunan Kalijaga, Kadilangu, Demak. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERJUBEL : Beranekaragam souvenir untuk peziarah dijajakan kios-kios pedagang di lorong Makam Sunan Kalijaga, Kadilangu, Demak. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Dua destinasi wisata religi di Demak, yaitu makam Sunan Kalijaga di Kelurahan Kadilangu dan makam Sultan Fatah di area Masjid Agung tidak pernah sepi dari peziarah. Bahkan, jumlah pengunjung di dua lokasi terbesar kedua di Jateng setelah Candi Borobudur.

Dilihat dari jumlah pengunjung wisata religi memang cukup fluktiatif. Meski demikian, Dinas Pariwisata Kabupaten Demak mencatat, target pengunjung bisa mencapai 1,6 juta orang per tahun. Biasanya dua bulan menjelang Ramadan menjadi puncak datangnya peziarah dari penjuru nusantara. Seperti di bulan Rajab maupun Syawal, jumlah peziarah bisa 150 ribu orang.

Dalam catatan petugas pos Kadilangu, setidaknya ada 50 bus pada hari-hari biasa serta bisa mencapai 100 bus saat Sabtu dan Minggu. Belum lagi yang datang menggunakan mobil pribadi juga tak kalah banyaknya. Karena itu, setiap hari diperkirakan ada sekitar 2.500 hingga 5.000 peziarah yang berkunjung ke makam Sunan Kalijaga.

Baca Juga: Lahan Parkir Sempit, Warung Gulung Tikar

Petugas pos Imam Kusmanto mengatakan, banyaknya bus yang datang kerap membuat area parkir wisata Kadilangu tidak bisa menampung kendaraan para peziarah tersebut. Kendaraan akhirnya meluber hingga jalan raya. “Parkir bisa sulit diatur,” ujarnya, kemarin.

Pernah ada rombongan yang naik 26 bus datang berziarah ke Kadilangu dalam waktu bersamaan. Mereka peziarah dari Watucongol, Magelang. Praktis, area parkir menjadi sesak karena bersamaan juga dengan bus-bus peziarah dari daerah lainnya. “Ada juga 13 bus satu rombongan juga datang bersamaan. Untuk mengatur parkirnya sempat kewalahan,” jelasnya.

Para peziarah datang dari wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta maupun daerah sekitar Demak. Setiap bus yang datang ditarik retribusi sesuai jumlah penumpangnya. Besaran retribusi antara Rp 50 ribu hingga Rp 61 ribu. “Itu sudah termasuk parkir dan kebersihan,”ujar Imam. Hasil retribusi tersebut kemudian dimasukkan ke kas daerah.

Banyaknya peziarah yang memakai bus dapat menyumbang pendapatan asli daerah (PAD). Retribusi pengunjung yang naik bus sebesar Rp 1.000 per orang. Dari berbagai wisata di Demak, Pemkab Demak menargetkan meraup PAD sebesar Rp 1,9 miliar. Itu sudah termasuk pendapatan dari wisata religi dan grebeg besar saat Idul Adha.

HM Martoyo, tokoh masyarakat yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kabid Objek dan Daya Tarik Dinas Pariwisata Pemkab Demak mengungkapkan, puncak peziarah memadati areal wisata religi juga terjadi saat liburan sekolah. Yakni antara pertengahan Juni hingga awal Juli. Setiap hari rata-rata terdapat 50 hingga 60 bus yang parkir di kawasan parkir Kadilangu, Masjid Agung dan parkir Tembiring Jogo Indah. Banyaknya peziarah yang berdatangan tiap hari membuat kondisi perekonomian warga sekitar wisata religi ikut menggeliat dan tumbuh. Ratusan kios pedagang souvenir berjajar di sepanjang lorong masuh Makam Sunan Kalijaga serta jalan keluar Makam Sultan Fatah di Masjid Agung.

Indah, 35, seorang pedagang di lorong Makam Sunan Kalijaga mengatakan, barang dagangan ikut terjual laris saat peziarah ramai seperti bulan Rajab maupun Syawal. Bahkan, para pedagang seperti dia bisa buka sampai pukul 01.00 dinihari. “Kalau pas ramai jualannya sampai larut malam,” katanya.

Kios milik Indah menyediakan berbagai macam kebutuhan yang biasanya diburu sebagai oleh-oleh peziarah. Misalnya, kaos bergambar para Wali dengan harga Rp 25 ribu hingga Rp 45 ribu sesuai ukuran kaosnya. Untuk blangkon dijual antara Rp 35 ribu sampai Rp 45 ribu. Baju surjan khas Sunan Kalijaga dijual Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu per potong. Dia juga menjual bedug dengan harga Rp 14 jutaan dan tetabuhan musik rebana dengan harga Rp 300 ribu per item. Adapula lukisan kaligrafi dengan harga Rp 250 ribu sampai Rp 850 ribu tergantung bahan dan kualitas lukisannya. “Alhamdulillah banyak yang membeli. Ini merupakan berkah dari keberadaan Makam Sunan Kalijaga di sini sehingga warga bisa meraup rezeki dari para peziarah,” katanya.

Pemkab Demak terus berupaya menata kawasan wisata religi, termasuk menata para pedagang. Pedagang juga diminta untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, termasuk bersih dari sampah. Toilet atau kamar mandi juga harus selalu terawat kebersihannya.

Bupati Demak HM Natsir di sela sidak di terminal Kadilangu mengatakan, berperilaku bersih harus dimulai dari diri sendiri, baik saat di rumah maupun di tempat mencari rezeki.”Berikan pelayanan yang terbaik bagi para peziarah. Mereka adalah tamu tamu Kanjeng Sunan Kalijaga dan Sultan Fatah,” katanya.

Selain itu, jika lingkungan wisata bersih dan nyaman tentu peziarah akan betah atau tahan berlama lama di Demak. Mereka akan menikmati perjalanan wisata religi ngalap berkah dengan berziarah tersebut.

Rencanakan Kampung Tematik

Berkah dari wisata religi juga dirasakan warga di sekitar makam Waliyulloh Assayid Al Habib Hasan bin Thoha bin Yahya atau dikenal dengan syekh Kramat Jati. Terutama pada Senin malam ketika digelar khataman Alquran di makam yang terletak di Jalan Duku Kelurahan Lamper Kidul Kota Semarang ini.

”Tentu banyaknya peziarah juga memberikan berkah tersendiri. Selain warung warga yang ramai pembeli, juga parkir yang dilakukan oleh warga,” jelas pengurus makam, Ahmad Solichin.

Lebih-lebih, Pemkot Semarang juga memberikan perhatian kepada makam Syekh Kramat Jadi ini. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bahkan berencana mengembangkan UMKM yang ada di sekitar makam. Seperti dengan menjual cenderamata dengan memberdayakan warga sekitar. Bahkan ada rencana membuat kampung tematik wisata religi di sekitar makam Habib Hasan. ”Mungkin kerajinan seperti kerudung dan kopiah nanti dijual di lingkungan sini. Pada akhirnya, tujuannya adalah untuk meningkatkan perekonomian warga sekitar,” kata dia.

Gito, warga sekitar merasakan berkah dari uang parkir yang didapat. Biasanya, para peziarah yang datang memberikan sedikit uang atas jasanya menjaga kendaraan mereka. ”Juga warga yang punya warung tentu lebih ramai setelah peziarah semakin banyak,” jelasnya.

Atas berkah yang didapat, secara bergantian warga turut merawat makam Habib Hasan dengan membersihkannya setiap hari. ”Ya kami merasa dapat rezeki juga, jadi ya harus ikut merawat,” jelas Gito.

Makam ulama besar KH Muhammad Saleh bin Umar As-Samarani atau yang juga dikenal sebagai Mbah Sholeh Darat di TPU Bergota Semarang juga menjadi salah satu jujugan peziarah. Apalagi setiap 10 Syawal yang menjadi Haul Mbah Sholeh Darat. Ribuan peziarah dari berbagai kota berbondong-bondong datang dan berdoa di makam yang berada di tengah Bergota.

Mbah Sholeh Darat dikenal sebagai guru sejumlah tokoh nasional, seperti pendiri Nahdlaltul Ulama KH Hasyim Asy’ari, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan pahlawan emansipasi perempuan Raden Ajeng Kartini.

Ramainya pengunjung di makam ini, tak pelak membawa dampak positif bagi warga sekitar. Sebagian warga merasa diuntungkan dengan banyaknya pengunjung yang datang berziarah. Mulai dari lapak pedagang, warung makan, hingga jasa parkir ikut mendapat keberkahan.

Sunipah, salah seorang pemilik warung bersyukur bisa berjualan di sepanjang jalan makam TPU Bergota. “Pendapatan sehari-hari jualan di sini, Allhamdulillah mencukupi. Apalagi saat ada acara besar seperti haul akbar kemarin malah nambah bisa jadi dua atau tiga kali lipat,” ujar Sunipah. Ia berharap pemerintah Kota Semarang bisa lebih memperhatikan serta menambah fasilitas agar pengunjung makam semakin ramai. (hib/sga/mg19/ton)