Satu Keluarga Positif Difteri

1 Meninggal, 4 Dirawat di RSUP dr Kariadi

956
IMUNISASI MASAL: Ratusan anak warga Genuksari, Genuk, Semarang saat diberikan imunisasi difteri, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
IMUNISASI MASAL: Ratusan anak warga Genuksari, Genuk, Semarang saat diberikan imunisasi difteri, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Wabah penyakit difteri kembali menyerang Kota Semarang. Lima orang suspect difteri ditemukan di Kota Atlas. Dari lima orang itu, seorang di antaranya meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUP dr Kariadi Semarang.  Korban meninggal Bunyamin, 12, warga Genuksari RT 11 RW 3 Genuk Semarang. Putra pasangan Mochamad Chozin dan Lilik Chosiyati ini sempat dirawat di RSUP dr Kariadi sejak Senin (16/7) lalu, dan meninggal Kamis (19/7) sekitar pukul 17.00.

Meski sudah ada korban, Pemkot Semarang sendiri sejauh ini belum menyatakan kejadian luar biasa (KLB) atau zona merah penyakit difteri di wilayahnya. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, bahkan menegaskan bahwa adanya informasi yang tersebar melalui aplikasi WhatsApp (WA) yang menyatakan bahwa Kelurahan Genuksari masuk zona merah penyebaran penyakit difteri dan bahaya untuk dilewati adalah hoaks atau kabar bohong.

“Itu hoaks! Memang ada kasus difteri di sana, tapi sudah ditangani sedulur-sedulur Dinas Kesehatan Kota Semarang, sehingga tidak ada namanya zona merah apalagi sampai tidak boleh dilewati,” jelas wali kota yang akrab disapa Hendi ini dalam keterangan resmi yang diterima Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (20/7).

Hendi mengakui, pada Juni-Juli 2018 kasus difteri memang dialami tujuh anak di Genuksari, Semarang. Dari tujuh anak itu, lima di antara mereka masih menjalani perawatan, sedangkan dua  anak meninggal dunia. Satu dari kedua anak itu bahkan meninggal dunia Kamis malam.

Anak yang mengembuskan nafas terakhir akibat difteri itu bernama Bunyamin bin Mochamad Chozin. Sedangkan empat saudara Bunyamin yang juga menderita difteri saat ini masih dirawat di RSUP dr Kariadi.  Mereka adalah M Rusydil Hanif, 17; Yusuf, 13, Saodah, 11 dan Zaid, 7.

“Jadi tujuh anak yang menderita difteri itu saat bayi dulu tidak diimunisasi karena orang tua menolak. Sikap itu sungguh kami sesalkan. Selama tidak menolak imunisasi tidak perlu khawatir, karena pencegahan utama difteri adalah imunisasi. Ketersediaan vaksin difteri di Kota Semarang sangat cukup,” imbuh Hendi.

Hendi juga menuturkan, sejumlah upaya telah dilakukannya untuk menangani kasus difteri di Genuksari. Salah satunya dengan melakukan ORI atau Outbreak Response Immunization  kepada semua anak di Kelurahan Genuksari. Padahal, biasanya ORI akan diterapkan pada suatu daerah jika telah ditetapkan KLB difteri.

“Selain itu (ORI), Dinas Kesehatan Kota Semarang juga telah memberikan profilaksis kepada kontak penderita, serta memberikan erytromicin ke kontak penderita dan pengambilan swab tenggorok ke kontak penderita,” papar politikus PDIP ini.

Sementara itu, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang yang namanya dicatut sebagai sumber informasi hoaks itu mengaku kecewa.

Kepala Humas Fakultas Kedokteran Unissula, Purwito Soegeng Prasetijono, menyatakan, pihaknya tidak pernah merilis imbauan kepada masyarakat terkait pentingnya menggunakan masker saat melewati Jalan Dong Biru, Kelurahan Genuksari.

Terpisah, Dokter Spesialis Anak sekaligus Penanggung Jawab Pasien di RSUP dr Kariadi, Hapsari, menerangkan, sejak Desember 2017 sampai Juli ini, ada 23 pasien suspect difteri yang dirawat. Empat di antaranya meninggal dunia. Untuk kasus terbaru, menyerang satu keluarga yang memang tidak pernah mendapatkan vaksin atau imunisasi apapun. “Satu keluarga ini, menurut pengakuan orangtuanya, tidak mau mendapatkan vaksinisasi ataupun imuniasi,” katanya.

Ia menerangkan, pasien Bunyamin yang belum lama ini meninggal dibawa ke RSUP dr Kariadi pada Senin (16/7) lalu. Kondisinya sesak napas akibat penyumbatan pada tenggorokan dan denyut jantung lemah. Sehingga pasien harus dipasangi alat pacu pacemaker.”Tapi toxin sudah masuk ke ginjal. Jadi, gagal ginjal juga. Kami sudah kasih hemodialisa, tapi jantungnya terlalu lemah. Akhirnya meninggal di High Care Unit (HCU),” bebernya.

Selain Bunyamin, lanjut dia, empat saudara lainnya masih mendapatkan perawatan intensif.  Kakak pertama Bunyamin, M Rusydil Hanif, dirawat di ruang isolasi. Kondisinya belum membaik sejak dibawa ke rumah sakit dan lehernya membengkak. Untuk Yusuf, kakak kedua Bunyamin, dan Saodah, adik Bunyamin, juga mendapatkan perawatan medis dan menjalani rawat inap.

“Keduanya sudah membaik dan membrannya sudah mulai hilang, sedangkan dua kakak dan adik Bunyamin lainnya dirawat jalan dan sekarang diwajibkan melakukan kontrol,” paparnya.

Pihak rumah sakit sendiri saat ini hanya memiliki dua ruang isolasi. Masing-masing single dan double bed. Namun tak menutup kemungkinan bagi RSUP dr Kariadi untuk menempatkan pasien di ruang lain manakala ditemukan lagi suspect difteri. Termasuk membuka ruang isolasi baru. “Kami siap jika memang ditemukan suspect difteri lagi ataupun harus membuka ruangan isolasi,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr Widoyono, mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan semua pihak termasuk pemangku wilayah baik kecamatan atau kelurahan dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah terkait antisipasi penyebaran penyakit difteri.

“Kita lakukan Outbreak Response Immunization (ORI).  Jadi, kalau terjadi difteri kita langsung adakan ORI, yaitu imunisasi masal di seluruh kelurahan. Hari ini (kemarin, red) kita mulai imunisasi. Kita sudah berkoordinasi dengan penguasa wilayah,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (20/7).

Widoyono membeberkan, tujuh orang yang terkena penyakit tersebut berada di kelurahan Bangetayu Wetan, di mana terdapat sekolah di wilayah tersebut yang muridnya enggan melakukan imunisasi atau vaksin. Tiga orang di antaranya telah meninggal dunia.

“Data yang ada itu, sudah positif terkena penyakit difteri 7 orang, dan wilayah yang rawan itu dua kelurahan di Kecamatan Genuk, yakni Genuksari dan Bangetayu Wetan, serta di Kecamatan Tembalang, yakni Kelurahan Tandang. Ada satu sekolah di Bangetayu Wetan yang menolak imunisasi, 7 orang yang terinfeksi semua tidak di imunisasi,” ujarnya.

Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo, mengatakan, terdapat tiga wilayah yang seharusnya berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit difteri di Kota Semarang, yakni Kelurahan Tandang Kecamatan Tembalang, serta Kelurahan Bangetayu dan Kelurahan Genuksari Kecamatan Genuk.

Terkait hal itu, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan instansi-instansi terkait, termasuk dengan Dinas Kesehatan untuk terus melakukan antisipasi penyebaran penyakit difteri. Anang mengaku, temuan penyakit difteri tersebut telah terdeteksi sejak 23 Juni lalu dan langsung dilakukan antisipasi.

“Kita sudah mendeteksi dan melakukan antisipasi sejak 23 Juni 2018 saat rakor KLB Difteri di Kedungmundu 23 Juni, kemudian rakor KLB difteri di Bangetayu Wetan, dan juga rakor KLB difteri lagi di Banjardowo 18 Juli, Jadi kita terus update untuk ,menghindari kejadian yang tidak diinginkan,” jelasnya.

Dari kejadian ini, Anang mengimbau Pemkot Semarang untuk lebih gencar lagi melakukan sosialisasi dan pecegahan dengan dilakukan ORI atau vaksin kepada anak usia rentan 2 hingga 15 tahun. “Pemkot harus dimaksimalkan sosialisasi dan lakukan vaksin secara merata. Tentu kita sangat prihatin atas musibah ini,” katanya. (den/tsa/zal/aro)