Liyangan Ditetapkan sebagai Cagar Budaya

275

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG-Pemerintah Kabupaten Temanggung telah menetapkan 7 situs, bangunan atau struktur sebagai benda cagar budaya. Ketujuh cagar budaya tersebut adalah situs Liyangan, Camdi Pringapus, Candi Parakan, Prasasti Gondosuli, Prasasti Wanua Tnah II, Gedung eks-Kantor Camat Parakan, dan Gedung Rumah Dinas Camat Parakan. Penetapan melalui keputusan Bupati Temanggung Nomor 432/276 Tahun 2018.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung Didik Nuryanto menjelaskan, penetapan cagar budaya tersebut dimaksudkan untuk melindungi peninggalan sejarah dan purbakala yang memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan, serta menyimpan informasi kegiatan manusia pada masa lalu. Penetapan ini berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Temanggung.

“Selain tujuh cagar budaya tersebut, sebenarnya masih ada sejumlah bangunan yang berpotensi menjadi cagar budaya, namun sampai sekarang masih dalam pengkajian,” kata Didik.

Bangunan lain yang berpotensi menjadi cagar budaya antara lain bekas stasiun kereta api di Parakan dan Temanggung serta Candi Stapan di Bagusan, Parakan.

Situs Liyangan di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung pertama kali ditemukan oleh penggali pasir pada 2010. Setelah melalui beberapa kali ekskavasi, ditemukan adanya bangunan candi, jalan batu, permukiman penduduk, beras, tulang kerbau, pecahan keramik, pecahan tembikar dan benda-benda lain yang diduga terkubur akibat letusan Gunung Sindoro sekitar 1.000 silam. Diduga situs Liyangan berasal pada masa kerajaan Mataram Kuno.

Liyangan memiliki beragam keunikan yang tidak dimiliki oleh situs kuno di daerah lain. Yakni, terbagi atas beberapa zona dengan tingkat komplektisitas tinggi. Mulai zona pertanian, permukiman, hingga peribadatan.

Pemerhati Cagar Budaya Tri Subekso berpendapat, benda-benda cagar budaya dari masa klasik perlu dijaga kelestariannya. Ia berharap, warisan budaya tersebut bisa terselamatkan dari perdagangan gelap, maupun vandalisme.

Mahasiswa Magister Arkeologi Universitas Indonesia ini mengatakan, di Temanggung banyak dijumpai temuan benda-benda yang layak ditetapkan sebagai cagar budaya. “Kepedulian warga yang berada di sekitar situs, dan perhatian instansi-instansi pemerintah daerah, seperti Dinas Kebudayaan di masing-masing kota kabupaten, serta keaktifan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng sangat dibutuhkan,” tuturnya. (jpg/ton)