KOMPAK: Kedua pasangan suami istri saat gelar perkara di kantor BNNP Jateng, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KOMPAK: Kedua pasangan suami istri saat gelar perkara di kantor BNNP Jateng, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Dua pasangan suami istri (pasutri) diringkus petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah terkait kasus narkotika. Barang bukti yang berhasil diamankan sebanyak 186 gram narkoba jenis sabu. Ironisnya, salah satu pasutri tersebut baru tiga bulan menikah.

Tersangka diketahui bernama Muhammad Iqbal Khadafi (MIQ), 24, dan istrinya Khoirun Nisak (KN), 18, warga Desa Gelang, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo. Keduanya diringkus petugas di depan Alfamidi Jalan Trunojoyo, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Kamis (19/7) sekitar pukul 17.56 lalu.

Dua tersangka lainnya, Edi Wiyono (EW), 46, dan istrinya Silvia DK (DK), 28, warga Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo. Keduanya ditangkap petugas di Lampu Merah Ngarsopuro Kota Solo usai mengambil paketan sabu pada hari yang sama, Kamis (19/7) sekitar pukul 19.30.

Kabid Berantas BNNP Jateng, Suprinarto, menjelaskan, pengungkapan kasus narkoba dengan tersangka MIQ dan KN berawal dari hasil pengembangan kasus yang ditangani oleh BNNP Jateng. Setelah dilakukan penyelidikan, diperoleh informasi dari masyarakat akan adanya transaksi narkotika di depan Alfamidi Jalan Trunojoyo Madiun.

Petugas pun menyanggong tempat tersebut. Saat itu, tim mendapati dua orang, pria dan wanita, naik mobil Daihatsu Xenia warna putih bernomor polisi S 1756 ZJ berhenti di Jalan Trunojoyo, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun tersebut.

“Kemudian turun seorang pria dari dalam mobil sambil menenteng tas plastik hitam. Saat itulah tim kami melakukan penangkapan terhadap pria dan wanita tersebut tanpa perlawanan,” jelasnya saat gelar perkara di kantor BNNP Jateng, Jumat (20/7).

Dari hasil penggeledahan di dalam plastik yang dibawa tersangka MIQ ditemukan bungkusan mencurigakan yang dibalut lakban transparan. Setelah dilakukan pengecekan, di dalam bungkusan tersebut terdapat serbuk putih sabu atau methampetamine. “Barang bukti yang berhasil kita amankan sabu seberat 180 gram,” katanya.

Selanjutnya keduanya dibawa ke kantor BNNP Jateng guna dilakukan penyelidikan dan pengembangan lebih lanjut. Penangkapan ini juga telah dikoordinasikan dengan BNNP Jatim mengingat Tempat Kejadian Perkara (TKP) berada di wilayah Jawa Timur. “Keduanya merupakan salah satu kurir yang sudah beberapa kali mengantarkan narkotika ke wilayah Jawa Tengah. Ini masih kita kembangkan terus,” ujarnya.

Pada hari yang sama, BNNP Jateng juga meringkus pasutri  Edi Wiyono dan Silvia DK alias di traffic light Ngarsopuro Solo. Saat itu, keduanya usai mengambil paketan sabu sekitar pukul 19.30.

“Pasangan ini ditangkap setelah turun dari sepeda motor yang dikendarainya, kemudian berhenti di samping lampu merah tersebut. Awalnya, keduanya hanya duduk di atas trotoar, kemudian mondar-mandir seperti mencari sesuatu di sekitar lokasi,” bebernya.

Setelah tim BNNP Jateng melakukan pemantauan, kemudian bergegas menangkap keduanya setelah mengambil sesuatu barang di sekitar lampu merah tersebut. Dari hasil penggeledahan, ditemukan barang yang mencurigakan terbungkus lakban warna coklat yang ternyata berisi sabu. “Setelah bungkusan itu kita cek, ternyata isinya sabu seberat kurang lebih 6 gram,” katanya.

Malam itu juga, keduanya digelandang ke kantor BNNP Jateng. Hingga kemarin, dua pasutri tersebut masih menjalani pemeriksaan guna pengembangan kasus narkoba ini. Sedangkan tersangka MIQ dan istrinya akan dibawa ke Jawa Timur dengan alasan akan dilakukan pengembangan oleh pihak BNNP Jatim. “Kalau kita tarik ke atas, dua pasangan suami istri ini satu jaringan, di atasnya ada (bosnya),” bebernya.

Tersangka MIQ mengaku nekat melakukan pekerjaan tersebut untuk menambah penghasilan demi memenuhi kebutuhan keluarga.  “Selama dua bulan ini, dua kali saya mengambil (sabu) dari Surabaya, tepatnya di Jembatan Suramadu untuk dibawa ke Madiun. Nanti dikasihkan ke kurir dari Madiun. Sekali ambil dapat bayaran Rp 3,5 juta,” akunya.

Pria yang baru menikahi istrinya tiga bulan lalu ini mengaku, sebenarnya istrinya tidak mengetahui lantaran saat mengambil barang tersebut beralasan diajak ke rumah mertuanya di Madiun. “Saya sendiri sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan istri. Dia tidak tahu kalau saya ngambil barang itu, hanya saya bilang tak ajak ke Madiun,” katanya.

Istri MIQ hanya bisa pasrah dengan kejadian ini. Ia juga mengaku tidak mengetahui kejadian ini. “Awalnya, saya mau ke mertua, saya tanyakan kok nggak berhenti, iya sebentar ikut saya, terus akhirnya berhenti di Alfamidi. Saya juga tidak tahu itu apa, sebelumnya juga tidak tahu,” akunya. (mha/aro)