Ajak Umat Buddha Jaga Toleransi

374
BACA KITAB SUCI : Umat Buddha membaca Tripitaka dalam acara Indonesia Tripitaka Chanting di pelataran Candi Borobudur Magelang, Jumat (20/7). (Ahsan fauzi/radar kedu)
BACA KITAB SUCI : Umat Buddha membaca Tripitaka dalam acara Indonesia Tripitaka Chanting di pelataran Candi Borobudur Magelang, Jumat (20/7). (Ahsan fauzi/radar kedu)

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID – Sebanyak 820 umat Buddha se-Indonesia dan perwakilan biksu dari berbagai negara tetangga menggelar kegiatan Indonesia Tripitaka Chanting (ITC). Kegiatan yang berlangsung selama 20-22 Juli 2018 tersebut terpusat di pelataran Candi Borobudur Magelang.

Ketua Panitia ITC 2018, Bhikku Gutadhammo menuturkan, biksu mancanegara antara lain datang dari Srilanka, Thailand, Malaysia, Laos, dan Kamboja. “Selain intern umat Buddha, kita juga menghadirkan tokoh dan pemuka lintas agama,” ucapnya usai upacara pembukaan, Jumat (20/7).

Gutadhammo membeber, tokoh agama yang diundang diantaranya dari Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Yogyakarta, Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) Yogyakarta, Pemuka Agama Hindu, Kristen, Katolik dan organisasi Islam yang diwakili GP Ansor Magelang. “Dengan adanya pembacaan dan kajian Tripitaka ini, umat Buddha mampu memahami ajaran Buddha untuk diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ucapnya.

Dijelaskan lebih lanjut, Tipitaka merupakan kitab suci umat Buddha yang di dalamnya berisi tuntunan untuk berucap baik, bertindak baik dan berpikir baik. Jika umat Buddha bisa menjalankan pesan kitab suci tersebut dengan baik tentu ada  ketentraman dan kedamaian dalam jiwa. “Kita mengajak umat Buddha menjaga toleransi intern dan ekstern umat beragama. Saya berharap, dari momen ini, persatuan dan kesatuan bangsa semakin kokoh,” harapnya.

Sementara itu, Direktur Urusan Pendidikan Buddha Kementerian Agama RI Supriyadi berharap, ITC mampu membumikan darma yang mulia sehingga lebih dipahami dan dilaksanakan masyarakat. “Selama manusia tidak berpikiran serakah maka kehidupannya nyaman. Orang egois akan banyak keliru, tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, bahkan memiliki barang eksklusif dan tidak toleran,” katanya. (san/ton)