Petani Diminta Tinggalkan Sistem Tebas

603
UJI COBA: Kepala Perwakilan BI Tegal Joni Marsius saat mencoba alat penggiling padi, setelah penyerahan kepada kelompok tani di Pemalang, Rabu (18/7). (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
UJI COBA: Kepala Perwakilan BI Tegal Joni Marsius saat mencoba alat penggiling padi, setelah penyerahan kepada kelompok tani di Pemalang, Rabu (18/7). (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, PEMALANG – Petani di Kabupaten Pemalang didorong untuk meninggalkan sistem tebas. Karena dalam menggunakan sistem tebas, petani tidak akan tahu hasil panen yang dihasilakn berapa jika dijual dengan sistem tebas.

Kepala Dinas Pertanian, Suharto mengatakan sistem tebas tak bisa digunakan sebagai tolok ukur produktivitas lahan. Karena itu, pihaknya mendorong petani untuk melakukan kegiatan pasca panen atau outfarm agar petani bisa menjual hasil panennya dalam bentuk beras.

“Sistem tebas ini menyebabkan petani tidak mengetahui berapa gabah hingga berasanya seperti apa, yang dihasilkan dari sawah mereka, karena selama ini hanya menerima uang dari juragan tanpa perlu memanen padinya,” kata Suharto, saat acara penyerahan bantuan mesin giling gahab oleh Bank Indonesia (BI)  Perwakilan Tegal, Rabu (18/7).

Namun upaya agar bisa menjual beras langsung terkendala pada alat pengolah hasil pertanian yang belum dimiliki petani. Keresahan ini, terjawab ketika BI Perwakilan Tegal memberikan bantuan alat giling gabah (rice mill) kepada tiga kelompok tani di Kabupaten Pemalang. BI memberikan rice mill ukuran kecil yang mampu menggiling gabah kering di rumah petani.

Atas bantuan tersebut, Suharto berpesan kepada petani penerima bantuan untuk menjaga dan merawat mesin yang diperolehnya.“Saya harap mesin ini, dijaga dan digunakan dengan baik. Kemudian juga menjaga lingkungan agar tetap kondusif sebab mesin giling meskipun berukuran kecil namun menimbulkan kebisingan dan polusi,” ucapnya.

Perwakilan BI Tegal, Joni Marsius mengatakan pihaknya menaruh perhatian terhadap para petani dengan memberikan berbagai bantuan. Awalnya program membantu petani adalah pada masa tanam atau on farm berupa bantuan bibit dan pupuk organik cair.“Kepedulian BI terhadap petani ditingkatkan lagi dengan memberikan bantuan pasca panen atau fase out farm,’’ kata Joni.

Bantuan diberikan kepada tiga kelompok tani antara lain Budi Jaya, Kumareng dan Warna Jaya. Masing-masing kelompok mendapatkan bantuan rice mill mini yang memiliki kemampuan giling sebanyak dua kuintal gabah/jam.

Harapannya mesin giling tersbut bermanfaat sehingga mampu meningkatkan kesejateraan petani. Dengan adanya bantuan mesin giling itu petani tak perlu lagi menjual padinya dengan sistem tebas namun meningkat menjual hasil panen dalam bentuk beras. Apalagi ada kebijakan dari pemerintah daerah yang memberi kesempatan kepada petani untuk menjual berasnya kepada PNS melalui kelompok tani. (han/bas)