SDN Plalangan 3 Hanya Menerima 3 Siswa

Sejumlah SDN Kurang Siswa

168

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sejumlah sekolah dasar (SD) di Kota Semarang diketahui kekurangan siswa didik dari jumlah kuota siswa baru yang diterima. Menurut informasi yang dihimpun tidak hanya SD di pinggiran saja yang mengalami kekurangan siswa, ada juga SD di tengah kota.

SD Negeri Petompon 3 misalnya, dari kuota siswa baru 28 anak, saat ini hanya ada 13 siswa baru saja yang diterima. SD Negeri Mangungharjo Tugu pun hanya menerima 13 siswa dari kuota yang ada. Nasib serupa dialami SD Karang Kidul yang hanya menerima 8 siswa baru. SD Plalangan 3 lebih parah, yang hanya menerima 3 siswa. Sedangkan  SD Kandri 2 hanya menerima 12 siswa baru, dan SD Ngaliyan 04 Semarang tersedia 26 kursi, tetapi jumlah pendaftarnya hanya 14 anak.

Panitia PPD SDN Mangunharjo Tugu, Muhammad Amin, mengaku, jika sekolah yang berada di wilayah paling utara Kecamatan Tugu ini, hampir setiap tahun ajaran baru kekuragan kuota. Tahun ini, sekolah tersebut hanya menerima 13 siswa didik dari pendaftaran online.

“Kalau yang online ada 13 siswa yang diterima, memang kuotanya kurang, sehingga kami melakukan konsultasi dengan pihak UPTD Kecamatan,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (17/7) kemarin.

Ia menerangkan, untuk memenuhi kuota, pihak sekolah melalui persetujuan dinas tetap menerima siswa didik baru secara offline pada hari terakhir pengumuman. Meski begitu, minat masyarakat untuk mendaftarkan putra-putrinya ke sekolah ini cukup rendah. “Kalau yang offline, nambah dua siswa. Masih kekurangan kuota. Tapi,  berapapun siswanya, kami tetap melaksanakan kegiatan belajar-mengajar (KBM) secara semestinya,” ucapnya.

Pihaknya menambahkan, kekurangan kuota tersebut dikarenakan kondisi kampung Manghunharjo yang anak usia sekolahnya cukup sedikit. Selain itu orang tua siswa lebih memilih menyekolahkan anak mereka ke sekolah swasta yakni Madrasah Ibtidaiyah. Padahal pihak sekolah telah mencoba menarik siswa dengan berbagai ekstrakulikuler yang tidak ada disekolah lainnya.“Banyak yang memilih MI karena sebelumnya sekolah TK di MI tersebut, selain itu SD kami letaknya jauh di paling utara, jadi orang tua lebih memilih sekolah yang dekat rumah,” paparnya.

SDN Podorejo 03 Ngaliyan pada tahun ajaran ini menerima sebanyak 19 siswa dari kuota 26 siswa, ditambah 2 siswa tidak naik kelas. Sehingga total siswa kelas 1 sebanyak 21 anak.

Akibat adanya sistem zonasi yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, sekolah hanya mampu menerima 15 siswa yang lulus seleksi data dari pihak dinas, sisanya pendaftaran offline.

Selain sistem zonasi yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, SDN  Podorejo 03 yang lokasinya relatif jauh juga menjadi pertimbangan bagi orangtua siswa untuk lebih memilih memasukkan anaknya ke sekolah yang lokasinya lebih dekat dengan rumah.

“Wilayah Podorejo ini sangat luas, juga terdapat 4 SD. Sehingga orangtua siswa memilih sekolah yang lokasinya lebih dekat,” kata Siswanto, ketua panitia penerimaan peserta didik baru.

Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo, mengaku sedang menyoroti beberapa sekolah SD yang kekurangan siswa, dengan mempertimbangkan penggabungan sekolah atau merger.  “Sekolah yang kekurangan siswa ini karena  faktor geografis dan demografisnya, bisa jadi memang tidak ada anak usia sekolah,” katanya.

Ia menjelaskan jika kebijakan merger ataupun penggabungan sekolah tidak bisa dilakukan secara sembarangan, harus melalui kajian yang mendalam dan komperhensif. Selain itu juga mempertimbangkan jarak rumah siswa dengan sekolah. “Melalui kajian ini bisa diketahui bagaimana kebutuhannya misalnya mempertimbangkan faktor kedekatan, disini Disdik harus lebih selektif dalam pemberian izin pendirian sekolah baru,” tuturnya. (den/mg15/aro)