Ilustrasi: JawaPos.com
Ilustrasi: JawaPos.com

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Investasi pada industri pengolahan bahan baku lokal dinilai perlu lebih digeliatkan lagi. Hal ini sebagai upaya meningkatkan kandungan lokal pada produk-produk ekspor Jateng.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Jateng, Djarwanto mengatakan bahwa ekspor non migas Jawa Tengah memiliki tren pertumbuhan yang positif. Sayangnya, masih dibayangi oleh nilai impor yang besar.

“Sebanyak 82 persen impor Jateng merupakan bahan baku dan bahan penolong. Itu tidak buruk, karena yang diimpor bukan bahan-bahan konsumsi. Namun demikian, akan lebih baik bila barang ekspor bahan bakunya juga sebagian besar berasal dari Jateng,”ujarnya, kemarin.

Oleh karena itu, ke depan pihaknya akan mereorientasi kembali investasi yang masuk ke Jateng. Selama ini, sebagian besar adalah investasi pada industri padat karya. Sehingga produk yang masuk lebih ke bahan baku dan barang modal.

“Kammi akan coba mereorientasi agar investor yang masuk, mengolah bahan-bahan yang kita punya. Seperti produk-produk pertanian, garam, perkebunan dan perikanan. Kami bangun juga kawasan-kawasan industri yang mendukung untuk industri-industri tersebut,” ujarnya.

Dengan memperkuat produksi dari bahan-bahan yang dimiliki, maka kandungan lokal akan barang-barang ekspor akan lebih besar. Sehingga industri lokal pun tidak tergantung pada negara-negara pengimpor.

Namun demikian, industri-industri padat karya juga akan tetap diterima dan dilanjutkan. Hal tersebut mengingat, masih banyaknya jumlah pengangguran yang perlu diserap oleh industri-industi padat karya. “Pengangguran kita masih ada sekitar 800 ribuan. Karena itu, harus disalurkan. Salah satunya pada industri padat karya yang dapat menyerap banyak tenaga kerja,” ujarnya. (dna/ida)