BATIK TULIS: Pengunjung tengah memilih bati Solo yang dipajang di galeri Dekranasda di lantai 1 kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, baru-baru ini. (SULISTIONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BATIK TULIS: Pengunjung tengah memilih bati Solo yang dipajang di galeri Dekranasda di lantai 1 kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, baru-baru ini. (SULISTIONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANGDeretan baju dan kain batik langsung terhampar di depan mata, saat langkah kaki koran Jawa Pos Radar Semarang memasuki lantai 1 gedung Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, di Jalan Pahlawan, akhir pekan lalu.

 Beragam kain, baju, selendang dan syal batik hasil pengrajin batik dari Solo, Pekalongan,Sragen, Rembang, Pati, Brebes, Semarang, Kendal dan Jepara, memanjakan para pecinta batik. Namun, ”padatnya” koleksi batik di showroom galeri Dinperindag Provinsi Jawa Tengah tersebut, berbanding terbalik dengan jumlah pengunjung.

“Tidak terlalu ramai. Sehari, rata-rata 5 orang. Kalau pas ada rapat dinas sekitar 10an orang berkunjung ke sini, ucap Yulia, petugas jaga showroom kepada koran ini.

Lokasinya yang berada di dalam kantor Dinperindag, membuat orang tidak mengetahui ada galeri kerajinan dari berbagai daerah di Jawa Tengah. “Saya kebetulan pas ada keperluan di Dinperindag, baru tahu ada galeri ini untuk umum,” kata Rahayu, salah satu pengunjung yang ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Rahayu menyarankan agar Dinperindag Provinsi Jawa Tengah lebih aktif menyosialisasikan keberadaan galeri tersebut. “Eman-eman kalau nggak gencar dipromosikan. Barang-barangnya bagus, harga terjangkau, dan lokasinya juga strategis.”

Harga yang ditawarkan di showroom Dinperindag, relatif bersaing Yulia mencontohkan,harga batik tulis dibanderol dengan harga termurah Rp 150 ribu hingga Rp 9 juta.

Tak hanya kain dan baju batik, di showroom Dinperindag, pengunjung juga mendapatkan beragam hasil kerajinan lainnya, seperti furnitur, sepatu kulit, dompet kulit,gelang kesehatan hingga guci produksi pengrajin Banjarnegara. “Itu yang furnitur replika motorHarley harganya Rp 13 jutabikinan pengrajin dari Boyolali,” tunjuk Yulia ke arah sebuahHarley tiruan yang terbuat dari kayu jati.

Beragam koleksi yang dipajang di showroom Dinperindag, merupakan titipan dari para pengrajin dengan sistem konsinyasi. Galeri yang berada tak jauh dari kantor gubernuran itu beroperasi pada jam kerja mulai  Senin hingga Jumat. (ae1/svc)