Penyidik Koordinasi dengan Bapenda

Dugaan Ngemplang Pajak Zeus Karaoke

302

Ya, dari DPKAD saya panggil untuk dimintai keterangan, pemetaan dan koordinasi.

AKP Ahmad
Kanit Tipikor Reskrim Polrestabes Semarang 


RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Penyidik Polrestabes Semarang menindaklanjuti penanganan dugaan kasus penipuan dan penggelapan pajak yang dilakukan oleh pengusaha Zeus Executive Karaoke di Hotel Edge Jalan Sultan Agung. Langkah awal yang dilakukan penyidik dengan melakukan pemanggilan terhadap pihak Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset Daerah (DPKAD) atau yang sekarang disebut Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Semarang.

Ya, dari DPKAD saya panggil untuk dimintai keterangan, pemetaan dan koordinasi,” ungkap Kanit Tipikor Reskrim Polrestabes Semarang AKP Ahmad, Senin (16/7) kemarin.

Meski demikian, Ahmad enggan membeberkan nama dari instansi yang dipanggilnya tersebut. Pihaknya hanya menjelaskan, pemanggilan tersebut dari Pemerintah Kota Semarang bagian Kas Daerah (Kasda). “Yang pajaknya ini baru koordinasi Pulbaket (pengumpulan bahan keterangan) dengan pemkot bagian Kasda,” bebernya.

Ahmad menambahkan, selain adanya dugaan kasus penipuan dan penggelapan, pemilik Zeus Karaoke juga dilaporkan terkait praktik prostitusi. Namun, kasus dugaan prostitusi tersebut ditangani bagian Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Semarang.

“Ini saya sama PPA kan gabungan, bareng-bareng menangani. Sementara ini yang sudah naik sidik kan yang prostitusinya, sudah ada alat buktinya. Lebih detailnya, langsung ke PPA saja,” kilahnya.

Menanggapi terkait jadwal pemanggilan terhadap pemilik Zeus Karaoke, Thomas, selaku terlapor, Ahmad menjelaskan saat ini penyidik Unit Tipikor masih fokus dalam penyelidikan terkait dugaan kasus penipuan dan penggelapan pajak. “Saya konsentrasi di pajaknya, ini saya baru mengumpulkan dokumen-dokumen dengan DPKAD. Kalau (pemanggilan Thomas) yang dari soal pajak, belum,” tegasnya.

Ia mengatakan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Pemkot Semarang untuk mengungkap kasus pelaporan ini. Menurutnya, di dalam kasus tersebut sama-sama kuat antara dugaan adanya tindak pidana korupsi dengan perpajakan. “Ini kan antara pajak sama korupsi sama kuatnya. Kalau masalah pajak nanti saya serahkan ke DPKAD. Kalau ada dugaan korupsi nanti saya yang nangani. Ini masih penyelidikan terus,” katanya.

Saat akan dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Fahmi Arifrianto belum bisa dihubungi.

Sementara itu, untuk menindaklanjuti temuan dan laporan dari korban di Polrestabes Semarang, Kepala Bapenda Kota Semarang, Ayi Yudi Mardiana, saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan berbagai unsur, mulai tim audit atau tim yustisi, kepolisian, Denpom,  Kejaksaan dan instansi intern Pemkot Semarang. “Saya akan koordinasi dulu dengan tim audit atau tim yustisi dan mengajak instansi lain, kepolisian, Denpom, kejaksaan dan intern Pemkot Semarang,” ujarnya.

Koordinator LSM Gempar Jateng Wijayanto mengatakan, untuk membongkar kecurangan yang diduga dilakukan pihak Zeus Karaoke, pihaknya mendesak Polrestabes Semarang agar membentuk tim gabungan instansi terkait dengan melibatkan Pemkot Semarang, Kantor Pajak Kota Semarang dan BPK.

“Tim gabungan Instansi terkait yang  melibatkan kepolisian, KPP Pratama dan Bapenda Kota Semarang serta BPK sudah sepantasnya dibentuk untuk menguak dugaan penggelapan pajak yang merugikan PAD Kota Semarang, APBN dan siapapun yang terlibat wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya di sidang Pengadilan tanpa terkecuali,” kata Wijayanto.

Terpisah, pelapor Jefry Fransiskus mengatakan, dalam operasional Zeus Karaoke, setiap pengunjung selain dibebani dengan PPN 10 persen juga ada biaya 11 persen servis. “PPN 10 persen seharusnya masuk Pemkot Semarang sebagai pajak dan 11 persen servis itu hak karyawan, tapi yang 11 persen ini juga tidak diberikan kepada yang berhak,” tambah Jefry.

Diberitakan sebelumnya, salah satu pemegang saham Zeus Executive Karaoke Semarang, Thomas, twarga negara Korea yang tinggal di Dusun Srumbung Bawen Kabupaten Semarang, dilaporkan ke polisi atas dugaan penipuan dan penggelapan. Pelaporan dilakukan oleh rekan bisnisnya  Jeffry Fransiskus, 31, pada Sabtu (7/7) lalu. Perkara tersebut mencuat setelah Jeffry yang ikut menanam saham sebesar 10 persen atau Rp 400 juta pada April 2017 lalu mengaku tidak mendapatkan keuntungan dari bisnis sesuai perjanjian awal.

Menurut Jeffry, uang hasil keuntungan tersebut tidak pernah diberikan kepadanya hingga Juni 2018. Jeffry sudah berusaha menanyakan perihal tersebut kepada Thomas, tetapi dijawab tidak ada keuntungan yang bisa diberikan.

“Bulan September 2017 saya dapat BEP saham 10 persen. Tapi keuntungan dari saham yang saya tanam sampai bulan Juni 2018 tidak pernah diberikan. Saya tidak pernah terima. Saya tanyakan ke Thomas dan rekan bisnis lain tapi dijawab tidak ada keuntungan yang bisa diberikan. Padahal setelah saya telusuri omzet Zeus dari April 2017 sampai Mei 2018 mencapai Rp 25 miliar. Maka dari itu saya merasa ditipu,” ujarnya.

Hasil penelusuran yang dilakukan Jeffry, ternyata ia juga menemukan adanya dugaan penggelapan pajak. Hal itu berdasarkan hitungan omzet Zeus per bulan sekitar Rp 2 miliar, tetapi hanya membayar pajak antara Rp 4 juta sampai Rp 20 jutaan. Padahal aturan Perda Kota Semarang untuk pajak hiburan sebesar 10 persen. “Disinyalir ada permainan dengan memberikan laporan pajak palsu agar jumlah yang dibayar tidak sesuai dengan omzet,” papar Jeffry.

Selain itu, temuan lainnya adalah adanya dugaan prostitusi terselubung yang terjadi di Zeus Executive Karaoke. Menurut Jeffry, pihak Zeus sengaja menyediakan wanita dan tempat. Uang hasil pembayaran prostitusi terselubung tersebut juga masuk ke dalam perusahaan. Polisi juga sudah melakukan penggerebekan ke Zeus Executive Karaoke dan menemukan sejumlah barang bukti. (mha/aro)