Hari Pertama Sekolah, MPLS Beratap Tenda

276
ANGOP: Salah satu siswa baru SD Negeri Karangayu 2 Kota Semarang tidak bisa menahan kantuk saat mengikuti upacara hari pertama masuk sekolah, kemarin. (kiri) Ratusan siswa baru SMP Negeri 16 Semarang terpaksa melaksanakan MPLS di bawah tenda karena aula tergusur proyek tol Semarang-Batang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ANGOP: Salah satu siswa baru SD Negeri Karangayu 2 Kota Semarang tidak bisa menahan kantuk saat mengikuti upacara hari pertama masuk sekolah, kemarin. (kiri) Ratusan siswa baru SMP Negeri 16 Semarang terpaksa melaksanakan MPLS di bawah tenda karena aula tergusur proyek tol Semarang-Batang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG
ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Hari pertama masuk sekolah, para siswa baru SMP Negeri 16 Semarang terpaksa mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) tidak di aula sekolah. Para siswa kelas VII dikumpulkan di halaman belakang yang telah didirikan sejumlah tenda. Sebab, ruang aula sekolah ini sudah terkena proyek tol Semarang-Batang.

“Terpaksa pakai tenda yang disewa pihak sekolah. Sebab, ruang aula sudah rata dengan tanah akibat pembangunan tol Semarang-Batang,” kata Kepala SMP Negeri 16, Yuli Heriani kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (16/7).

Meski terkena dampak tol, kuota siswa SMPN 16 bisa terpenuhi. Tahun ini pihak sekolah menerima 256 siswa baru, dan bisa dikatakan diminati masyarakat.

Yuli menyebut, hampir 1.000 calon siswa yang mendaftar di sekolah tersebut. “Tadi kami juga bertemu dengan orangtua siswa, kami berpesan tidak usah bingung dengan keadaan ini. Kondisinya memang seperti ini, namun kami berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak,” ucapnya.

Pihaknya mengaku sempat mendengar jika SMPN 16 Semarang akan dibongkar seluruhnya. Menurut informasi, rencananya pihak pelaksana proyek akan membangun flyover ataupun simpang susun. “Ada info akan dipindah,dan itu pasti, namun kapannya belum tahu,” katanya.

Pihaknya sendiri mengaku pasrah jika memang sekolah ke depan akan dibongkar. Namun ia menegaskan enggan pindah jika belum ada bangunan pengganti. Selain itu, tempat relokasi pun belum jelas di mana dan kapan akan dilakukan pembangunan. “Kami mau pindah jika bangunannya sudah ada, bukan ngontrak atupun nunut,” tegasnya.

Mahardika, salah satu siswa baru mengaku tetap antusias mengikuti MPLS meski kerap terdengar suara gaduh yang cukup mengagetkan akibat pemasangan tiang pancang proyek tol. “Kadang kaget sih Mas, tapi lama-lama biasa. Masih bisa mendengarkan guru dan berkonsentrasi juga,” ucapnya polos.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin, mengatakan, jika nasib bangunan SMPN 16 Semarang masih menunggu proses selanjutnya. “Kalau masalah SMPN 16, nunggu proses lebih lanjut, kapan dan di mana akan dipindah juga belum ditentukan,” katanya.

Hari pertama masuk sekolah di SDIT Bina Amal Semarang dimulai dengan MOS atau Masa Orientasi Siswa. Sebanyak 730 siswa sekolah ini berkumpul di lapangan untuk ikut serta menyambut dan mengikuti kemeriahan pembukaan MOS. Peletusan kembang manggar mewarnai kemeriahan acara pembukaan MOS tahun ajaran 2018/2019.

Kepala SDIT Bina Amal, Enni Rustiyanti, menyampaikan, saatnya para siswa menyambut masa depan dengan semangat. “Jadikan sekolah senyaman kalian di rumah, mari berpikir baik, bertindak baik. Karena bangsa Indonesia bangga memiliki kalian semua. Sekolah ini harus membuat semua merasa nyaman dan betah. Seperti di rumah sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, 20 siswa MTS Darul Ulum Wates, Ngaliyan, Semarang mengawali hari pertama masuk sekolah dengan memanfaatkan bus pariwisata si Kenang untuk keliling Kota Semarang dan mengunjungi Museum Ronggowarsito. Dalam kunjungan ini, siswa berkesampatan untuk belajar jurnalistik secara langsung, sehingga siswa dapat memperoleh data untuk menulis opini, berita dan lain sebagainya.

Guru pengampu ekstrakurikuler jurnalistik MTs Darul Ulum, Zulfa Anisa, menjelaskan kegiatan kunjungan ini merupakan agenda rutin setiap tahunnya. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengembangkan kemampuan anak dalam hal menulis.  “Kegiatan seperti ini bisa menambah inspirasi anak dalam menulis apapun,” katanya.

Siswa MTs Darul Ulum, Indana, mengatakan, kegiatan tersebut memberikan manfaat yang luar biasa kepada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik. Selain bisa menulis berbagai tema yang ditemukan di lapangan, siswa bisa sambil jalan-jalan dan bermain menikmati keindahan Kota Semarang. “Jadi tidak harus belajar di dalam kelas terus-menerus, karena itu dapat membuat kami cepat bosan,” ucapnya. (den/fth/mg15/aro)