Harga Paket Seragam Mencekik, Dikeluhkan

Di SMAN 6 Ditarik Rp 1,7 Juta

423
Ilustrasi: JawaPos.com
Ilustrasi: JawaPos.com

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pasca penerimaan peserta didik baru (PPDB), orangtua siswa kali ini disibukkan dengan pembelian seragam sekolah. Hal inilah yang terkadang dimanfaatkan oleh oknum yang mengatasnamakan sekolah untuk mewajibkan orangtua siswa membeli paket seragam. Padahal menurut aturan yang ada, sekolah tidak diperbolehkan memaksa orangtua siswa untuk membeli seragam lewat guru atau koperasi sekolah.

Salah satu orangtua siswa SMA Negeri 6 Semarang, sebut saja Aliando, mengaku resah lantaran mendapatkan surat edaran dari koperasi sekolah yakni ‘Koperasi Ronggolawe Makmur’ untuk membeli seragam. Lebih parahnya, seragam yang ditawarkan tersebut cukup mencekik hampir mencapai Rp 1,7 juta.

“Nilai tersebut rinciannya untuk seragam baju putih, rok/celana abu-abu, baju pramuka, rok/celana pramuka, baju batik sekolah, baju batik Semarangan, rok/celana putih, kaos olahraga dan celana, ditambah kelengkapan lainnya seperti badge, lokasi, logo sekolah, topi, dasi dan ikat pinggang,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Senin (16/7) siang.

Surat edaran tersebut dibagikan ketika orangtua siswa baru dikumpulkan di SMAN 6 Semarang melalui surat edaran berwarna kuning dan hijau. Akibatnya, terjadi kekrisuhan lantaran biaya tersebut dianggap terlalu mahal, dan belum termasuk ongkos jahit yang harus dikeluarkan orangtua.  “Harga segitu nggak jelas sepesifikanya, mahal banget dan memberatkan,” keluhnya.

Namun pihaknya mengaku takut untuk komplain, lantaran khawatir putra mereka akan mendapatkan tekanan dari oknum sekolah. Menurut dia, keluhan yang sama juga diungkapkan orangtua siswa lain.  “Sepertinya wajib karena harus ditandatangani orangtua siswa, kemarin banyak yang mau komplain, tapi takut kalau malah terjadi masalah dan efeknya ke anak,”ucapnya.

Menurut Aliando, besaran tersebut sangat memberatkan orangtua siswa, khususnya untuk keluarga yang tidak mampu. Selain itu, dalam surat edaran yang diterima, juga tidak terdapat spesifikasi kain yang ada dalam satu paket yang ditawarkan pihak koperasi. “Kalau bisa kami beli sendiri untuk seragam putih abu-abu dan pramuka agar harganya lebih murah, yang seragam batik ataupun seragam olahraga beli di sekolah ngga apa-apa,”tuturnya.

Terkait informasi tersebut, Kepala SMAN 6 Semarang, Dra Lukita Yuniati MKom mengaku jika pihak sekolah membebaskan orangtua siswa untuk membeli seragam dimanapun sesuai dengan kemampuan. “Kami tidak memaksa, memang lewat koperasi disediakan seragam baru. Namun tidak boleh ada paksaan untuk beli di situ,” sanggahnya.

Selain segaram putih abu-abu, dan seragam pramuka, di SMAN 6 Semarang memang memiliki seragam batik dan seragam olahraga yang tidak dijual di pasaran, namun disediakan di koperasi. Ia menegaskan, untuk seragam umum, pihak sekolah sendiri siap melayani jika memang ada yang melakukan pemesanan.

“Kalau mau beli di luar silakan, kami fleksibel Mas, untuk batik dan olahraga memang dijual di koperasi. Apalagi menurut aturan memang tidak boleh mengharuskan orang tua siswa beli disekolahan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, dirinya memberikan kebijakan selama 1 bulan ke depan kepada siswa baru tidak wajib menggunakan seragam SMA, dan diperbolehkan memakai seragam SMP selama belum memiliki seragam. “Kami beli kelonggaran, sampai tanggal 16 Agustus. Tanggal 17 Agustus wajib pakai seragam karena ada upacara HUT Kemerdekaan. Jadi, orangtua siswa boleh beli sendiri, ataupun beli di sekolah, silakan,” katanya.

Ketika dihubungi Jawa Pos Radar Semarang,  Kepala SMAN 11 Semarang Drs Supriyanto MP mengatakan, pihak sekolah juga membebaskan orangtua siswa untuk membeli seragam di luar sekolah. “Aturannya memang tidak boleh mewajibkan Mas, jadi silakan beli di mana namun koperasi tetap menyediakan,” tambahnya.

Selain segaram putih abu-abu dan pramuka, lanjut Supriyanto, ada seragam sekolah khusus yang hanya dijual di koperasi sekolah, yakni seragam batik dan seragam olahraga. “Kalau batik dan baju olahraga memang hanya ada di koperasi, namun baju yang umum sekali lagi kami tidak mewajibkan,” tegasnya.

Aturan terkait jual beli seragam sekolah pun dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang, yang melarang pihak sekolah mewajibkan atau memaksa orangtua siswa membeli seragam sekolah melalui koperasi sekolah. “Aturannya tidak boleh kalau mewajibkan,” tegas Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin.

Ia menjelaskan, seragam sekolah sendiri masuk dalam biaya personal siswa ataupun orangtua siswa. Sehingga untuk memenuhinya, pihak sekolah tidak boleh ikut campur.

Bunyamin sendiri siap menindak tegas, jika ada laporan masyarakat terkait memaksa atau mewajibkan orang tuasiswa membeli seragam sekolah di koperasi, khususnya untuk tingkat SD,SMP.  “Kalau seragam kan biaya personal, terserah mau beli di mana. Kecuali seragam yang bersifat khusus, misalnya batik dan baju olahraga, kalau ada yang memaksa bisa lapor saya akan kami tindak lanjuti,” tegasnya.(den/mg15/aro)