Dekatkan Anak-Anak dengan Seni dan Budaya

Muhammad Imron Dirikan Omah Alas di Kandri, Gunungpati

315
MENJAGA TRADISI: Salah satu kegiatan berkesenian di Omah Alas Kandri, Gunungpati. (DOKUMEN PRIBADI)
MENJAGA TRADISI: Salah satu kegiatan berkesenian di Omah Alas Kandri, Gunungpati. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – Kemajuan teknologi membuat anak-anak semakin jauh dengan kebudayaan. Hal ini membuat Muhammad Imron, pria asal Kelurahan Kandri, Gunungpati, Semarang ingin mendekatkan kembali anak-anak dengan budaya.

SIGIT ANDRIANTO

KELURAHAN Kandri berada di antara kota dan desa. Lokasi tersebut membuat Muhammad Imron, pengurus Omah Alas, khawatir kebudayaan kota akan mempengaruhi anak-anak di kampungnya. Terlebih dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat.

“Yang saya takutkan, orang desa mengikuti budaya orang kota yang belum tentu jelas. Mereka jadi terbawa arus dan malah meninggalkan kebudayaan aslinya,” ujarnya.

Untuk itu, ia berusaha mengajak anak-anak untuk tidak ketinggalan perkembangan zaman, namun tetap berpegang pada kebudayaan. Upaya ini  dia lakukan di Omah Alas. Tempatnya memang berada di sekitaran hutan. Namun nama Omah Alas, ia jelaskan, diambil karena memang tempat ini dibuka bagi siapapun, dari latar belakang apapun untuk berkumpul berkesenian. “Ya karena memang alas. Siapapun boleh ke sini,” katanya santai.

Di Omah Alas dapat dijumpai berbagai benda kesenian, seperti patung, sepeda onthel tua, berbagai kerajinan tangan, lukisan, juga alat musik. Lebih jauh, di Omah Alas juga terdapat beberapa gazebo sebagai tempat singgah para pengunjung.

Dolanan tradisional, seperti egrang, juga tersedia di tempat ini. Komplit. Meskipun demikian, tidak ada tiket masuk untuk singgah di tempat belajar nonformal di Kandri, Gunungpati ini.

Dijelaskan pria yang akrab disapa Pakdhe ini, Omah Alas sudah dibangun sejak 2008 lalu. Tujuannya, memang untuk membentengi anak-anak dari kebudayaan luar yang tidak jelas.

“Saat itu kami bikin gubuk ini. Basic-nya itu tadi, ngaji. Awalnya ngaji, kemudian budaya. Penginnya mengarahkan kegiatan anak-anak yang nggak jelas jadi jelas,” ujar pria yang lebih suka menyebut Omah Alas sebagai sanggar seni dan budaya ini.

Dalam perjalanannya, Pakdhe sengaja membuat kegiatan saat Sabtu malam. Waktu yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain di luar, ia gunakan untuk mengenalkan budaya dengan cara yang menyenangkan. Dari situ, anak-anak yang biasa main di malam Minggu, kini lebih suka belajar bersama di tempat yang juga ia gunakan untuk berkesenian bersama pengurus omah alas lainnya ini.

Terhitung, ada sejumlah pelatihan yang diadakan di Omah Alas, mulai dari tari, musik, seni rupa, macapat, dan lainnya.

Di Omah Alas, Pakdhe juga mengajari anak-anak berkesenian dengan barang bekas. Selain menjaga lingkungan, ia ingin mengajarkan bahwa barang yang dianggap tidak berguna sekalopun pun, tetap ada manfaatnya. “Itu juga yang melatarbelakangi Omah Alas menerima siapapun untuk belajar bersama,” ujar bapak tiga anak ini.

Tidak ada target khusus dalam mendirikan Omah Alas ini. Pakdhe hanya ingin hidupnya lebih bermanfaat bagi sesama. (*/aro)