19 Komunitas Bersinergi Tangani Banjir dan Rob

400
DISKUSI : Berbagai komunitas menggelar diskusi membahas peran untuk terlibat dalam penanganan rob yang saat ini masih terus terjadi di Pekalongan. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)
DISKUSI : Berbagai komunitas menggelar diskusi membahas peran untuk terlibat dalam penanganan rob yang saat ini masih terus terjadi di Pekalongan. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN – Persoalan rob di Pekalongan menjadi perhatian sejumlah kalangan. Tak terkecuali 19 komunitas dari berbagai kota yang ikut andil memikirkan penanganan rob yang selama ini masih terjadi di Pekalongan.

Sebanyak 19 komunitas, Senin (16/7) kemarin, berkumpul di aula Museum Batik Kota Pekalongan untuk memperkuat sinergi dalam penanganan rob. Para komunitas tersebut akan memberikan masukan dan saran kepada Pemkab dan Pemkot Pekalongan.

Perwakilan Komunitas Fotografi Indonesia Wilayah Pekalongan, Arie Dacosta, mengungkapkan bahwa rob terjadi di Kota Pekalongan sejak tahun 2003. Tercatat kurang lebih sembilan kelurahan yang tergenang. Persoalan rob ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah.

”Rob sudah benar-benar menjadi ancaman bagi Pekalongan. Penanganan rob butuh keterlibatan semua elemen, bukan hanya pemerintah saja, komunitas sebagai bagian dari elemen masyarakat harus ikut berkontribusi dalam penanganan rob,” kata Arie.

Peneliti Tata Kelola Kemitraan, Leny Hidayat, menjelaskan bahwa  selama ini banjir rob hanya dilihat sebagai persoalan tergenangnya wilayah permukiman saja, yang dapat surut dan mampu diselesaikan oleh pemerintah saja.

Menurutnya rob tidak hanya persoalan genangan air, tetapi juga berdampak pada sektor-sektor lainnya. Kemitraan mencatat ada tujuh sektor terdampak rob, yakni sektor kesehatan seperti gangguan pernafasan, penyakit kaki gajah dan gangguan kejiwaan. Selain itu di sektor pendidikan ada sekolah rusak, anak menolak ke sekolah, serta berdampak pada sisi ekonomi warga.

“Dampak rob juga membuat ribuan warga kehilangan mata pencaharian, pertanian dan perkebunan rusak. Ada juga persoalan air bersih, sanitasi, toilet rusak, sumber mata air terkontaminasi. Belum lagi persoalan gender seperti kesehatan reproduksi memburuk, serta dampak polusi industri batik,” ujar Leny.

“Karena itu, butuh sinergi dari dari semua elemen. Tidak hanya mengatasi airnya saja, tetapi juga dampak lainnya, termasuk meningkatnya angka kemiskinan di Kota Pekalongan,” tandasnya. (thd/zal)