Ir Suhariyanto (DOKUMENTASI)
Ir Suhariyanto (DOKUMENTASI)
Mardha Ferry Yanwar (DOKUMEN PRIBADI)

Setiap pemilihan legislatif (pileg) selalu diwarnai politisi yang pindah partai. Termasuk dalam Pileg 2019 mendatang. Selama masa pendaftaran caleg hingga 17 Juli besok, para politikus ‘kutu loncat’ ini mulai tampak.

RADARSEMARANG.COM – POLITIKUS Ir Suhariyanto merupakan salah satu kader partai yang berpindah partai. Setelah dari Partai Gerindra,  ia memilih balik lagi ke PKB yang sudah membesarkannya. Dalam Pileg 2019 mendatang, ia akan maju bertarung sebagai calon legislatif Provinsi Jateng dapil 1 Jawa Tengah. Tanggungjawab dan keinginan untuk mengabdi kepada masyarakat menjadi alasannya untuk terus berkiprah dalam dunia politik.

Ia menilai, kepindahannya tidak masalah, karena sejatinya ia tetap memperjuangkan kepentingan masyarakat. Bahkan, ia tetap menjalin komunikasi baik dengan parpol yang sudah ditinggalkannya.  “Tak masalah, karena ini tanggungjawab saya untuk bisa ikut menyejahterakan masyarakat Jateng,” katanya.

Ia menambahkan, parpol merupakan wadah yang bisa menjadi jembatan untuk membangun demokrasi yang baik. Demokrasi yang bertujuan untuk keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Belajar dari itulah, ia sengaja turun gunung untuk maju lagi di dapil 1 Jateng. “Kebetulan saya lahir dan tinggal di Semarang. Jika masyarakat ingin saya maju menjadi wakilnya, saya ya harus bertanggungjawab,” ujar mantan Ketua DPC Partai Gerindra Kota Semarang ini.

Dalam Pileg 2014, Suhariyanto ikut bertarung dan maju di dapil 1 DPR RI dari Gerindra. Tetapi nasib belum berpihak, meski sudah bertarung dan kerja keras ia masih belum bisa menang. Nah, pada Pileg 2019, ia kembali maju, tapi di Dapil 1 Jateng dan dengan menggunakan kendaraan PKB.

“Sebelum ke Gerindra, saya memang kader dan sudah di PKB. Sekarang balik lagi demi memperjuangkan kepentingan rakyat,” katanya.

Baginya, berpindah partai tak masalah, asalkan demi kepentingan rakyat. Yang salah itu ketika pindah partai dilandasi hasrat untuk kepentingan pribadi semata. Tak hanya pindah partai, jika seseorang lebih mementingkan dirinya sendiri padahal memiliki tugas sebagai wakil rakyat, itu jelas salah. Sebab, saham parpol sebenarnya milik masyarakat luas.

“Kuncinya amanah dan tanggungjawab jika menjadi wakil rakyat. Sebagaimana cita-cita bersama mewujudkan masyarakat adil dan makmur,” tambahnya.

Politisi lainnya yang pindah partai adalah Mardha Ferry Yanwar. Sebelumnya ia pengurus sayap Partai Gerindra sebagai Ketua Bidang Hukum Tunas Indonesia Raya (Tidar) Kabupaten Sragen periode 2013-2018. Sedangkan saat ini dirinya resmi tercatat sebagai anggota Partai Golkar.

Ia mengatakan,  alasannya pindah haluan organisasi kepartaian karena komposisi pengurus sebelumnya kurang mumpuni dalam berorganisasi.  Ia juga menilai banyak pengurus yang melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) di Tidar. Selain itu,  ia merasa dalam kepengurusan itu kurang independen karena ada intervensi di tingkat Tidar Jateng,  padahal secara ex officio menjadi anggota Tidar sama juga menjadi anggota Partai Gerindra. Intervensi tersebut seperti mekanisme pemilihan terkesan asal tunjuk untuk kepengurusan di daerah. Praktis, mekanisme partai dilanggar.

Ia sendiri merasa keberatan kalau dikatakan kutu loncat. Sebab, ia merasa berpolitik melalui partai apapun asal tujuannya positif untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Bahkan mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini sekarang juga tercatat sebagai Bakal Calon Anggota DPRD Kabupaten Sragen. Ia merasa mencalonkan diri untuk balas budi kepada masyarakat Sragen,  karena ia merasa awalnya disekolahkan melalui beasiswa Pemkab Sragen.

“Kalau hubungan personality tetap baik, semua nyante ndak ada gesekan, terpenting hubungan baik saling komunikasi intens. Toh tujuannya sama untuk kepentingan rakyat, ” kata Mardha yang juga Koordinator Komunitas Peduli Hukum (KPH) Semarang ini,  Minggu (15/7).

Ia juga memantapkan diri,  apabila tidak terpilih akan tetap konsisten bergabung di Golkar. Ia merasa Golkar merupakan partai yang mumpuni dalam sistem keorganisasinnya. Mardha juga merasa di Golkar banyak pengurus yang memiliki hubungan secara emosional seperti trah keluarganya. “Golkar pilihan akhir saya.  Ke depan, menang atau kalah,  saya akan mengabdi untuk Golkar dan rakyat Sragen, ” ujarnya. (fth/jks/aro)