MELAWAN NARKOBA: Kepala BNNP Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo saat peringatan Hari Anti Narkoba Internasional di arena car free day (CFD) Jalan Pahlawan, kemarin. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANGKasus penyalahgunaan narkoba semakin memprihatinkan. Sebab, kasus ini terus menyerang ke berbagai kalangan mulai orangtua hingga anak di bawah umur. Bahkan, fenomena sekarang ini, yang terlibat kasus ini kebanyakan kaum perempuan.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo mengungkapkan, negara Indonesia terus diserang peredaran gelap narkotika dari wilayah luar. Masuknya, barang haram ini melalui darat, udara, dan laut dengan berbagai modus.

“Indonesia saat ini sudah menjadi wilayah dengan status darurat narkoba. Barang-barang itu kan datang dari China, Thailand, dan Malaysia. Barang masuk ada yang dibawa penumpang. Ada lewat paket. Ini yang harus kita waspadai,” ungkapnya di sela kegiatan memperingati Hari Anti Narkoba di arena Car Free Day Jalan Pahlawan, Minggu (15/7).

Agus menjelaskan, pentingnya memperingati hari narkoba sama halnya mengingatkan bahayanya narkoba. Sehingga dalam kegiatan tersebut, pihaknya mengingatkan kepada seluruh masyarakat, komponen bangsa instansi pemerintah maupun swasta untuk bersama-sama melakukan satu gerakan melawan narkoba sebagai upaya pencegahan.

“Saya kira pekerjaan ini tidak berhasil tanpa ada peran dan dukungan dari masyarakat. Kita harapkan masyarakat betul-betul bisa menjadi subjek dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika bukan menjadi objek,” tegasnya.

Upaya pencegahan termasuk pemberantasan, BNNP Jateng terus menggencarkan kegiatan penyuluhan, sosialisasi, dan seminar di tengah lingkungan masyarakat. Selain itu, juga terus melakukan razia dan penangkapan terhadap pelaku peredaran gelap barang terlarang ini.

“Tingkat prevalensi penyalahgunaan narkoba warga Jateng sudah cukup tinggi. Sudah mencapai sekitar 1,96 persen atau setara dengan 500 ribu jiwa yang sudah menjadi pecandu atau menjadi korban penyalahgunaan narkoba,” bebernya.

Kabid Berantas BNNP Jateng, Suprinarto, menambahkan, jumlah pengungkapan kasus narkoba selama 2017, BNNP Jateng telah menangkap dan menetapkan tersangka sebanyak 40 orang. Dari jumlah tersebut juga melibatkan narapidana yang masih mendekam di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) termasuk di luar wilayah Jawa Tengah. Salah satunya Lapas Medaeng Surabaya.

“Jumlah tersangka ada 40, jadi 83 persen melibatkan napi. Kita juga berkoordinasi dengan Kemenkum HAM terkait penanganan ini. Pada 2018, mulai Januari sampai sekarang sudah 19 orang tersangka dari 9 kasus yang diungkap,” bebernya.

Suprinarto juga menyampaikan setidaknya sudah tujuh perempuan yang ditangkap petugas terkait penyelundupan narkoba pada kurun waktu 2017-2018. Yang terbaru, perempuan warga Thailand membawa sabu seberat 1,149 kg dengan kualitas bagus.

“Jumlah tersangka perempuan ada 7 orang, terdiri atas pengungkapan kasus dua orang kurir di Solo, kemudian Aceh dua orang, Madura dua orang, satunya dari Thailand ini,” katanya.

Para tersangka yang berhasil diringkus sebagian besar hasil dari pengungkapan di daerah Solo Raya. Namun demikian, Suprinarto menyebutkan, peredaran narkoba hampir bisa dikatakan menyebar di kota-kota besar di Jateng, termasuk di wilayah Pantura dan Kota Semarang.
“Hasil analisa kita, pertama Solo Raya, kemudian Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, dan Purbalingga. Di wilayah pantura, yakni Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, serta Semarang dan sekitarnya termasuk Kabupaten Semarang dan Salatiga. Narkoba yang diedarkan didominasi jenis sabu,” bebernya. (mha/aro)