Pembelajaran Agama dan Akidah Akhlak Kunci Sukses Pendidikan Karakter

76
Oleh: Ali Mas’ud SAg MPd
Oleh: Ali Mas’ud SAg MPd

RADARSEMARANG.COM – KARAKTER yang baik dan kuat tidak bisa dipungkiri adalah modal dasar untuk menjadi seorang yang sukses dalam persaingan global seperti sekarang ini dan di masa yang akan dating. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi keharusan bagi generasi kita untuk mencetak generasi pemenang dan pemberani  di masa datang. Pendidikan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional, dalam pasal 1 UU SISDIKNAS tahun 2003 menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki  kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Mengingat dekadensi moral generasi muda sudah pada tahap menghawatirkan, terlepas dari norma, etika agama dan budaya luhur adat ketimuran. Hal ini sedikit banyak terpengaruh oleh budaya hedonisme dari barat, tayanga-tayangan televisi yang tak terbendung melalui parabola dan dampak buruk internet serta Sosmed yang merambah keseluruh masyarakat melalui HP Android bahkan sampai ke anak usia SD. Karena itu,  sekolah /madrasah haruslah jadi kawah candradimuka pendidikan karakter tersebut. Sayangnya, pembelajaran di sekolah kalau kita perhatikan masih jauh api dari panggang melihat alokasi waktu yang sangat minim untuk mata pelajaran agama.

Pendidikan dan pembelajaran di sekolah/madrasah tentu tidak boleh sebatas transfer of knowledge, transfer pengetahuan, tapi lebih dari itu, harus menjadi transfer of value atau transfer nilai-nilai karakter. Nilai nilai karakter yang harus ditanamkan di sekolah jelas tidak lepas dari karakter yang berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, dan dengan lingkungan  seperti  agamis, jujur,  bertanggung jawab, gaya hidup sehat, disiplin, percaya diri, mandiri, patuh pada aturan dan norma.

Ada beberapa alternatif yang bisa kita lakukan untuk suksesnya pendidikan karakter di sekolah atau madrasah. Pertama, penambahan jam mata pelajaran  agama adalah salah satu alternatif utama. Kalau hanya mengandalkan tatap muka yang hanya  dua jam per minggu, pelajaran agama masih global sifatnya. Dalam pelajaran agama ada  materi tentang ibadah, muamalah, hukum dan akhlak sangat sulit untuk membentuk karakter yang sempurna, maka perlu adanya pelajaran akhlak yang tersendiri, seperti yang kita lihat dalam kurikulum madrasah dalam semua tingkatan. Peserta didik yang belajar di madrasah tentu akan mempunyai pengetahuan yang lebih tentang akhlak mulia dan lebih baik dalam tataran aplikasinya.

Kedua, melalui pembelajaran yang terpadu seperti yang diharapkan dan dicanangkan oleh pemerintah,  integrasi pendidikan karakter pada seluruh mata pelajaran, termasuk mata pelajaran eksak dan umum, seperti matematika, IPA, IPS adalah mutlak dilaksanakan. Dengan memasukkan nilai-nilai karakter di atas dalam seluruh mata pelajaran diharapkan tertanam dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Penanaman karakter ini juga tidak sekadar melalui pemahaman yang disampaikan secara verbal, namun juga nilai-nilai karakter tersebut muncul dalam diri seorang  guru. Guru adalah teladan bagi peserta didik, meskipun terkadang masih tidak bisa  meneladani secara sempurna, maka seorang guru harus berusaha tampil prima, karakter guru yang tidak baik tantu akan menyebabkan guru kencing berdiri murid kencing berlari.

Sekolah atau madrasah sebagai basic pendididkan generasi penerus harus lebih fokus untuk memperhatikan pendidikan karakter, sehingga terbentuk insan kamil yang pada gilirannya memperkuat bangsa ini. Sebuah bangsa akam baik dan eksis manakala karakterdan akhlak umatnya terjaga dengan baik sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh al Ghulayani dalam kitabnya idhotun nasyiin yang berbunyi Innamal umamul akhlaqu ma baqiyat, wa in humu dzahabat akhlaquhum dzahabu.

Penguatan karakter yang tepat adalah dengan memperbanyak jumlah jam mata pelajaran yang berkait langsung dengan pendidikan karakter, seperti mata pelajaran agama, dengan ditambah  aqidah akhlak misalnya akan sangat membantu memperkuat pendidkan karakter di sekolah sebagaimana di madrasah,  di samping tentu saja dengan mengintegrasikan seluruh mata pelajaran dengan penanaman karakter baik yang bersifat agamis maupun budaya ketimuran. (kpig1/aro)

Guru Akidah Akhlak di MTs Darussalam Subah Batang