Oleh : Nani Nursani SSi
Oleh : Nani Nursani SSi

RADARSEMARANG.COM – SAMPAH di sekolah selalu saja menuai masalah. Sekolah sebagai tempat berkumpulnya banyak orang dapat menjadi penghasil sampah terbesar, selain pasar, rumah tangga, industri dan perkantoran. Sampah yang dihasilkan sekolah kebanyakan adalah jenis sampah kering dan hanya sedikit sampah basah. Sampah kering yang dihasilkan kebanyakan berupa kertas, plastik, dan sedikit logam. Sedangkan sampah basah berasal dari guguran daun pohon, sisa makanan dan daun pisang pembungkus makanan.

Di lingkungan sekolah, pengelolaan sampah membutuhkan yang perhatian serius. Dengan komposisi sebagian besar penghuninya adalah anak-anak, tidak menutup kemungkinan pengelolaannya pun belum optimal. Namun sampah plastik bisa dipakai sebagai media pembelajaran bagi siswa-siswinya.

Seperti di sekolah penulis, sampah botol plastik dapat didaur ulang sebagai tempat tanaman hidroponik. Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah. Meskipun sistem hidroponik menggunakan air sebagai media tanamnya, akan tetapi dalam praktiknya air yang diperlukan dalam bercocok tanam tidaklah sebanyak seperti budidaya dengan cara konvensional. Dan dalam perawatannya juga tidak perlu dilakukan penyiraman secara rutin.

Kebetulan materi hidroponik ada di Kurikulum KTSP kelas 9, yang merupakan kelas terakhir pengguna kurikulum tersebut di sekolah penulis. Sedangkan kelas 7 dan 8 sudah menggunakan Kurikulum 2013. Karena itu, semua siswa kelas 9 diwajibkan membuat tanaman hidroponik dengan menggunakan botol plastik bekas minuman yang ada di sekitar lingkungan sekolah. Selain mengurangi sampah yang ada, siswa juga mendapat nilai tugas dalam materi Bioteknologi.

Caranya sangat mudah. Pertama, siapkan botol plastik bekas minuman ukuran 1,5 liter atau 2 liter. Kedua, potong botol  dengan gunting atau cutter, sehingga botol menjadi 2 bagian (bagian atas dan bagian bawah). Ketiga, lubangi tutup botol dan berilah sumbu menggunakan kain flanel atau sumbu kompor.

Keempat, pasangkan botol bagian bawah yang sudah diisi air dengan bagian atas yang sudah diisi media tanam (arang sekam atau cocopeat/serbuk sabut kelapa). Kelima, tanamlah tanaman budidaya yang diinginkan, seperti cabai, tomat, sawi, atau tanaman hias seperti anggrek juga bisa.

Untuk mempercantik wadah botol hidroponik bisa dicat warna-warni sesuai keinginan. Kemudian berilah gantungan di kiri dan kanan botol, sehingga bisa digantung di tempat yang strategis sebagai hiasan.  Tanaman hidroponik juga bisa memaksimalkan lahan yang terbatas, sebab tidak perlu lahan yang terlalu luas. Sehingga bisa juga digantung di depan ruang kelas.

Pembuatan tempat tanaman hidroponik dari botol bekas ini meskipun sangat sederhana, tetapi mampu memberikan beberapa manfaat bagi sekolah maupun siswa-siswi di sekolah penulis. Selain mengurangi sampah, di lingkungan sekolah juga tampak lebih segar dengan kehadiran tanaman-tanaman tersebut. Apalagi setiap kelas menanam budidaya tanaman yang berbeda-beda. Bila yang ditanam sayuran, maka bisa dipanen. Dan bila yang ditanam tanaman hias, maka lingkungan semakin indah.

Dan ternyata hal ini juga meningkatkan kreativitas siswa-siawi, terlihat dari beberapa variasi dan modifikasi botol tanam hidroponik. Mereka ada yang menggunting dan mencat botol seperti boneka kesayangannya, menggunting seperti kelinci, bahkan ada yang menggambar bola dan logo klub sepakbola di Piala Dunia 2018. Ternyata pembelajaran Bioteknologi di bidang pertanian yaitu penanaman tanaman secara hidroponik bisa dilakukan hanya dengan modal sampah tetapi hasil melimpah. (kpig1/aro)

Guru IPA MTs Nurul Huda Banyuputih